Home » POLITIK » Politik » Sesuatu Yang Membosankan

Sesuatu Yang Membosankan

Setelah pilpres, aneka berita meresahkan masih saja terus digulirkan. Diantaranya adalah kabar mengenai kecurangan yang dilakukan oleh salah satu pasangan capres. Sementara pasangan lainnya dengan marah merasa dizholimi oleh sebuah konspirasi besar. Dimana hak-nya runtuh gara-gara kecurangan yang disebutnya terstruktur, masif dan sistematis. TSM? Tahu sambel maknyus? Kosa kata lama yang disusun ulang dimasa revolusi mental?

jokowi01

foto: rejobangwetan

Pilpres yang seharusnya menjadi sebuah pesta demokrasi meriah dan menyenangkan, terus diarahkan agar menjadi sesuatu yang muram dan menyesakkan. Sungguh membosankan! Semua orang tahu, siapa yang sungguh dizholimi selama masa pilpres ini. Siapa yang dituduh boneka, cina, PKI, punya cukong, punya rekening luar negeri, sinting, raisopopo. Boleh, silahkan ditambahkan tuduhan apalagi yang terus dilontarkan jika masih ada yang ingat semua tuduhan itu secara lengkap. Difitnah dan berusaha dipermalukan di seluruh media tanah air, apakah tidak sangat menyakitkan hati? Apalagi jika tuduhannya sangat tidak benar? Apalagi setelah pilpres dialah Sang Pemenang, yang dengan tersenyum menawarkan perdamaian dan kerukunan Indonesia? Tidak ada yang minta maaf saja, dia memaafkan!

Tanya mengapa masih kejam? Mengapa masih ada yang percaya kepada orang-orang yang melemparkan berita keji? Bukan hak manusia untuk menghakimi manusia lain tetapi Tuhanlah yang akan melakukannya. Jikapun ia melanggar hukum, ada lembaga yang akan memproses hukum tersebut. Bukannya terus menyebar berita tanpa dasar. Herannya, orang yang selalu sabar, mengalah dan tidak membalas, masih saja terus menjadi bantalan tinju orang-orang yang membencinya? Itulah kebesaran yang di tunjukkan Tuhan. Bahwa sabar dan benar tidak bergeming oleh jahat dan keji. Semoga para pembenci diampuni, karena kasih dan kedamaian telah mereka campakkan dari nuraninya sendiri.

Tuduhan yang kini digulirkan sebagai pilpres dengan kecurangan besar yang terstruktur, masif dan sistematis, menurut saya seperti lagu lama yang diputar ulang kembali. Bila kita ingat, dimasa lalu kala terjadi kekacauan dalam pemerintahan, isu semacam ini dilempar kepada masyarakat. Membangkitkan ketakutan dan keresahan. Membuat orang menjadi ragu akan kebenaran, akibatnya tak dapat berpikir jernih dan terjadilah hal-hal yang tidak diinginkan oleh para pencinta damai. Namun menjadi sumbu ledak yang menggembirakan bagi yang berharap pada kekacauan dan niat untuk mendulang keuntungan.

Hati dan pikiran yang berkabut paling menyesatkan, lalu emosi menguasai segala tujuan. Nah hati-hati, dalam kericuhan tersebut selalu ada orang-orang yang mencari keuntungan. Ada saja orang yang berniat maling dalam musibah orang lain. Jika masih ingat, yang terbaru adalah musibah yang menimpa Ummi Pipiek, istri almarhum Udje. Manakala ada penjahat yang berniat merampok rumahnya dengan cara membakar rumah dan pura-pura berniat hendak menolong. Tidak selalu ada skenario semacam ini, tetapi tidak ada salahnya waspada. Jika ada orang yang terus berusaha mendengungkan kata-kata terstruktur, masif dan sistematis? Apanya yang demikian? Kejahatannya sendiri?

Kata- kata terstruktur, masif dan sistematis menurut saya tidak baik digunakan dalam konteks politik. Lebih baik jika kata-kata ini digunakan dalam dunia pendidikan. Di masa pembangunan yang tak selesai-selesai dibangun ini, tak ada salahnya menggunakan ide terstruktur, masif dan sistematis untuk membangun moral, mental dan intelektual anak bangsa. Yup, pendidikan terus dibenahi! Sehingga anak-anak dan remaja Indonesia kembali pada kaidah mereka sebagai orang muda. Belajar-belajar dan belajar. Tidak hanya isi kepalanya, tetapi hati dan perilakunya harus ditertibkan dan dibina lebih baik lagi dengan cara terstruktur, masif dan sistematis. Perpustakaan tiap sekolah harus dibesarkan. Jangan berita negatif setelah pilpres berlalu yang masih saja diumbar dan dibesar-besarkan!

Sesuatu yang membosankan adalah klaim bohong, tuduhan palsu dan fitnah. Apalagi jika dilakukan dengan cara memancing di air keruh. Mengobok-obok suatu suasana yang damai menjadi tidak kondusif dan berusaha mengotorinya. Merasa kecolongan? Cukup lapor pada pihak berwenang, sampaikan bukti dan fakta yang akurat alias tidak dapat diganggu-gugat lalu transparansikan pada dunia. Biarkan semua orang berpikir dengan melihat realita, hal ini lebih mengedukasi.  Jangan menghasut dengan menggunakan fitnah, again and again.

Sesuatu yang membosankan adalah lagu lama dari kaset rusak yang diputar-ulang kembali. Rakyat Indonesia sudah sangat maju dan pandai. Tidak ada lagi yang berjenis manusia purba, yang tidak dapat memproses informasi dengan baik menggunakan otak dan hatinya. Sekarang sudah tidak jamannya mendengar lagu usang yang diulang-ulang. Jamannya mendengarkan musik sesuai selera masing-masing dengan memilih pada pemutar digital. Sesuatu yang membosankan adalah terus-terusan berbalik arah namun melawan kebajikan. Tidak bisa. Hukum Tuhan selalu adil pada akhirnya, ini bagi orang-orang yang katanya beragama. Kebenaran akan terbuka walaupun butuh waktu lama, proses panjang dan kesabaran orang baik yang terus dicabik-cabik.

Enam belas tahun sejak reformasi, enam puluh sembilan tahun sejak kemerdekaan, arus akan terus mengalir dari hulu ke hilir bukan sebaliknya. Manusia Indonesia dan cita-citanya menjadi pemimpin dunia, bukan sekedar macan atau kucing garong. Menjadi negara dan bangsa yang terdepan dan terbaik. Bukan berarti dengan penaklukan secara kekerasan, tetapi dengan penaklukan pola pikir dan kemajuan. Dengan gagasan dan inovasi yang cerdas. Tentu, bangsa ini semuanya sedang bergerak secara terstruktur, masif dan sistematis. Yang muda belajar agar jadi dewasa, yang dewasa bekerja agar jadi hasil guna dan yang lanjut usia pun harus terus berkarya. Tidak ada yang mematikan perubahan kearah kebaikan bagi Indonesia kecuali kejahatan fitnah, adu domba dan muslihat cerai-berai!

Facebook Comments

About Josephine Winda

4 comments

  1. Romi Febriyanto Saputro

    BANGSAKU BERSATULAH AGAR ENGKAU TIDAK RUNTUH

  2. katedrarajawen

    Ci Jo, yang heran itu para pembisik tidak bosan2nya memanasi, sehingga membuat suasana jadi tidak nyaman begini. membosankan memang tapi bagi sebagian justru asyik2 aja kok hehehe buktinya masih ramai

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif