Home » Rubrik Khusus » Armand's Esai » Soccer, No Fair Play

Soccer, No Fair Play

sepakbola

Selamat untuk Runner Up Timnas U23 Indonesia..

BOLA itu paling No Fair Play. Siap menang, tak siap kalah. Emang ada pertandingan siap kalah? Emangnya ada pertandingan tak siap menang. Kalah, salahkan wasit, salahkan cuaca, lapangan becek, supporter buruk, dan lain-lain. BOLA itu budaya, bahasa universal, pemersatu sekaligus pemecah kehidupan dan interaksi antar bangsa.

Dan lahirlah Sepakbola Pancasila, gawangnya mempersilakan lawan masukkan bola sebagai adat-istiadat ketimuran. Apalagi kalau pertandingan HOME. Jadilah tuan rumah yang sopan dan baik: “Monggo Mas. Masukin bolanya”. “Suwun Kang Mas Keeper”. Indah. bukan?

Tak fair-nya lagi, yang menang disebut juara. Padahal juara itu cuman urusan semenit. sesudah itu disebut JUARA BERTAHAN. Memang ada juara itu bertahan. Itulah sabodo-nya manusia.

Belum lagi soal pembunuhan, penembakan kepada penembak pinalty yang gagak bak Escobar pemain Columbia yang macho itu, tragis kematiannya, diberondong pelor. Ini pembunuhan dua hal: Fisik dan Kemanusiaan. Bahkan martabat sepakbola itu sendiri.

Semalam Anda saksikan itu, No Fair Play kedua Timnas Melayu (Indonesia bentrok Malaysia). Sama cengengnya, tak ikhlas kebobolan,. Mencak-mencak sampai Meiga ayunkan tangan ke awan. Pun Towel nyalahin Andik, blunder kata dia, sembari berkomentar bak penasehat ulung dan diskriminatifnya seorang Tommy Welly yang mendaulat Pahabol penentu kemenangan, kasihan yang lain, dianggap bukan penentu.

Rasa-rasanya tiada pertandingan bola tanpa unjuk-unjuk kesalahan. Nah, kalau hidupmu penuh kebenaran, maka ikutlah main bola, Anda akan pasti salah. Cobain deh, konversi ke dunia sosial budaya, mana ada orang merasa enak jika disalahkan? Mana ada makhluk menikmati kesalahan yang diberikan padanya.

Wah, faktanya itu manusia tak suka disebut salah. Lalu, mengapa secara terbalik juga, manusia pun suka berbuat salah^^^

Facebook Comments

About Muhammad Armand

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif