Home » Rubrik Khusus » Jepret » [Kobar] Part II

[Kobar] Part II

karikatur4

Dear Ketik’ers
Melihat gambar diatas, apa komentar anda ?
Seperti biasa, komentar terbaik dapat hadiah menarik.
Ditunggu sampai 31 Januari 2014.

Selamat ber’Kobar’ !!

Facebook Comments

About

9 comments

  1. Muhammad Armand

    Hahahahahahaahahhaha
    Itu maknanya, mendidik anak-anak jangan pake kekerasan deh

  2. katedrarajawen

    komentarnya juga jangan keras keras kali ya

  3. Hahahahahahaha……
    Manstaf :)

  4. Anak- anak adalah penyimpan data yg luar biasa, karena mereka ibarat kertas yg masih kosong…. mereka bisa merekam apa saja yg ada di dekatnya dan menyimpan dalam memori mereka. Dan apa yang ada di dekat mereka ( lingkungan) adalah yang paling mempengaruhi mereka.Walaupun sedikit- demi sedikit, apa yang mereka lihat dan rasakan akan memepengaruhi bgmn kepribadian mereka nantinya. Untuk itu mati kita “dekatkan” anak kita pada kebaikan, agar memorinya juga berisi tentang hal” baik ..

  5. Hukum Rimba dalam masa kemerdekaan

    berawala dari kekuatan menjadi kekuasaan, siapa yang kya itulah yang berkuasa,. masyarakat sekarang cenderung lebih mementingkan materi daripada yang lain. orang sukses itu dilihat dari materi.
    gambar diatas, memnggambarkan bahwa orang yang berkuasa adlah yang mempunyai modal, mereka yang kaya. dan orang-orang kecil menjadi sasarannya dalam menjalankan kekuasaan, kalau dilihat realita adalah money politik yang berkembang pesat di negara kita. rakyat akan memilih jikalau dikasih suntikan dana dari situ mereka semua akan terdokrin dan menjadi pengikut para orang yang berkuasa. yang saling bersaing anatara hitam dan merah katakanlah, siapa yang kaya dialah yang mendapat dukungan.

    berawal dari kekhawatiran itu, dan mengingat sebentar lagi kita akan memilih pemimpin bangsa, dari situ pilihlah yang cerdas, karena pilihan kita menentukan nasib bangsa ini.https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif

  6. ken shara odza

    KLo menurut saya, itu menggambarkan ironisme yang ada di sekitar kita.Bahwa seseorang akan mendidik/memberi pengetahuan berdasarkan apa yang dia fahami/yakini.(digambarkan dengan menginjak warna yg ada). jika dia berfaham hitam maka dia akan mendidik dengan botol pengetahuan warna hitam juga, menuangkan apa yang dia yakini kepada anak didiknya, dengan hitam juga. Demikian juga bila dia berfaham (berpijak ) warna merah. Hanya warna merah yang akan dia tuangkan kepada anak didiknya. lebih ironisnya, kebanyakan kita, saat menuangkan isi botol pemahaman kita,murid/peserta didik tidak diberi kesempatan untuk bisa mendapatkan tuangan dari botol pengetahuan yang berbeda. Alhasil, yang ada adalah generasi dengan pemahaman yang parsial. Di ajari hitam, ya hitam saja yg dia dapat. Dikasih merah, ya cuma merah saja yang masuk.https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif

  7. karena anak dilahirkan ke dunia dalam keadaan putih bersih, maka seharusnya para orang tua mendidik dan memberikan pemahaman itu tidak hanya sebatas pada pemahaman yang diyakini orang tua saja. berikan kebebasan, agar anak bisa mengenal bermacam-macam ilmu dari berbagai sumber.

    berikan beberapa pilihan kepada anak-anak, agar ia memiliki kekayaan wawasan, tidak semata-mata berdasarkan ‘kesukaan dan pilihan’ orang tuanya saja.

  8. Anita Godjali

    Sepertinya ini sebuah analogi pendidikan. Mengutip pendapat John Lock tentang teori tabula rasa, bahwa anak lahir seperti kertas kosong. Dalam pendidikan kita siswa bagai botol-botol kecil yang kosong, sedangkan guru menggambarkan botol besar penuh isi. Pendidikan itu bukan sekadar memindahkan isi botol besar ke wadah-wadah kecil tersebut dengan warna yang sama seperti yang dimiliki guru. Akan tetapi, dalam pendidikan guru perlu menyaring mana yang dibutuhkan siswa dan mana yang tidak. Siswa juga perlu belajar tentang makna kehidupan yaitu tentang afektif dan psikomotor. Sayang, orang tua banyak lebih senang anaknya pintar secara koqnitif sejak kanak-kanak daripada segi afektif. Akibatnya orang tua lebih banyak yang membanjiri sekolah yang melakukan program “tuang isi botol” ini, daripada sekolah yang menekankan afektif terlebih dahulu. Padahal, ketika anak secara afektif sudah terbentuk,dengan sendirinya akan bisa menyerap koqnitif dengan baik karena mereka menyadari penuh tindakannya.

  9. menurut saya setelah mengamati gambar itu sih, disana ada murid (anak-anak), kemudian adalah 2 orang dengan membawa botol yang isinya ditumpahkan ke kepala si anak, nah dari kedua botol itu juga berbeda

    jadi gambar itu mengisyaratkan , yang pertama, si anak adalah tempat dimana keingintahuan mereka yang begitu besar. dan mereka siap diisi dan mempelajari apa saja. hal ini serupa ibarat kertas kosong yang siap diisi oleh apa pun, jadi sekalipun dia belajar hal sepele maka tetap itu akan tersimpan dalam benaknya.
    dan yang kedua, adalah orang tua yang memberikan tumpahan dengan warna yang berbeda, menurut saya itu adalah sosok yang mampu memberikan pengetahuan sekaligus pengaruh terhadap anak anak yang mereka beri pengetahuan, karena jelas disana terjadi perbedaan isi yang mereka sebarkan,
    sehingga dari kedua gambar tsb, memungkinkan untuk melakukan tindakan yang mendidik tetapi berujung perpecahan karena isi yang mereka berikan tidak sama,
    selain anak dan orang dewasa, bisa juga dimaknakan orang yang berkuasa dan orang yang lemah tidak memiliki kekuasaan. sehingga mudah untuk dipermainkan oleh orang yang berkuasa

    terimakasih, dan salam ketik-ketik :)