Home » Rubrik Khusus » Sembuh Dengan Reiki » Sembuh dengan Reiki

Sembuh dengan Reiki

 sumiatiSembuh Dengan Reiki

Hasrat hati untuk dapat membantu orang, menjadi salah satu motivasi terbesar dalam diri , sehingga saya , mengajak istri untuk mengetahui dari sumbernya langsung di Tibet. Menempuh perjalanan untuk menuju kesuatu negeri yang disebut sebagai “The Roof of the World,” karena terletak dipuncak dunia. Kami berdua ingin memastika bahwa tehnik reiki ini bukanlah bagian dari agama tertentu, sehingga aman untuk dipelajari oleh siapapun.

Kedinginan yang amat sangat, yakni min 20 derajat Celcius, membuat kami sangat menderita disana. Karena kami datang dimusim yang salah,yaitu musim dingin. Namun tekad untuk tidak pulang sia sia, membuat kami mampu bertahan selama 2 minggu di Tibet.

Namun belakangan kami bersyukur ,karena ternyata jerih payah kami untuk belajar reiki di Tibet tidak sia sia . Karena banyak sekali manfaatnya untuk membantu orang yang membutuhkan. Salah satu dari orang yang merasakan manfaatnya , adalah seorang wanita paruh baya yang berdomisili di Sumedang. Untuk jelasnya , saya turunkan secara utuh penuturan yang bersangkutan ,yang sempat kami rekam.

Sembuh Dengan Reiki

Nama saya Lilis Sumiati.tapi biasa dipanggil :” Lilis “ saja. Usia saya tahun depan akan genap 50 tahun. Saya bersyukur,sejak pernikahan kami, hingga dikarunia anak anak, kami jalani hidup dengan penuh kebahagian bersama dengan suami tercinta dan kedua buah hati kami.Namun hidup itu ibarat cuaca, terkadang panas dan ada kalanya hujan turun. Begitu juga perjalanan hidup manusia tidaklah selalu mulus,seperti yang menjadi harapan setiap insan.

Suatu waktu ,yang saya tidak tahu persis kapannya, tubuh saya mulai di gerogoti penyakit. Namun saya tidak merasa perlu dicemaskan,sehingga saya tetap menjalani aktivitas sebagaimana biasanya.

Selama ini saya menjalani hidup dengan penuh rasa syukur.sehingga rasa sakit atau nyeri pada kepala dan denyut jantung yang tidak nyaman, saya anggap adalah bagian dari pejalanan hidup saya Hingga suatu malam,ketika saya terbangun,saya merasakan sakit yang amat sangat pada kepala dan dada saya. Ketika saya mencoba duduk,ternyata saya tidak kuasa. Seolah olah seluruh persendian saya menjadi rontok. Inilah awal dari segala penderitaan yang saya alami hari hari berikutnya.

Kian hari ,penyakit saya bukannya berangsur sembuh,melainkan bertambah parah. Suami saya dengan setia membawa saya ke berbagai pengobatan yang ada di kota Sumedang,dari pukesmas,kerumah sakit dan beberapa pengobatan alternatif. Namun tidak menampakkan hasil apapun. Semakin hari tubuh saya semakin tidak keruan rasanya. Suami saya bahkan membawa saya berobat ke rumah sakit di Bandung.

Mengalami Kelumpuhan

Ternyata hal yang sama sekali tidak diduga ,karena komplikasi dari berbagai penyakit,mengakibatkan saya mengalami kelumpuhan .Sungguh hal ini tidak hanya merupakan suatu pukulan batin bagi diri saya pribadi,tetapi juga merambat pada suami dan anggota keluarga . Saya dianjurkan dokter untuk operasi,tapi saya bersikeras tidak mau,karena saya sudah lama mendengarkan bahwa orang yang dioperasi belum tentu sembuh,malah tidak jarang kondisinya tambah parah.

Pada suatu hari,entah kenapa, tiba tiba saya menyaksikan acara di TVRI, tentang Terapi Reiki yang diselenggarakan di Bandung.Entah perasaan apa yang mendorong ,saya bertekad untuk ke Bandung..Hal ini berarti saya harus ber boncengan motor,karena kami tidak memiliki kendaraan roda empat.

Menjaga supaya tidak jatuh,tubuh saya diikat dengan tubuh suami saya. Ternyata belum lagi berjalan jauh saya sudah jatuh,bersama kendaraan,yang tidak mampu menahan berat badan saya, Tetapi tekad saya sudah matang dan tidak mau pulang. Kami terus melanjutkan perjalanan hingga sampai di Bandung.

Belajar Reiki

Sesampai di Bandung saya minta diterapi dan sekalian ikut berlajar ilmu Reiki .Ternyata ,sangat mudah,tidak seperti yang saya bayangkan, Semacam kursus kilat. Semua petunjuk diberikan secara gamblang, sehingga saya dan peserta lainnya,tidak merasa perlu menghafal dari diktat tuntunan yang dibagikan. Sejak saat itu,saya merasakan suatu perobahan dalam hidup .Walaupun tidak serta merta saya sembuh, Harapan saya yang tadinya seperti lampu yang hampir padam kehabisan minyak,kini bersinar lagi. Saya mulai menapaki hidup dengan semangat.

Saya mempraktekkan semua tata cara terapi diri yang diajarkan dalam lokakarya,tanpa merasa terbeban,karena sangat mudah. Hari demi hari kondisi saya membaik. Saya bersyukur,bahwa saya sudah menemukan jalan untuk bisa meraih kembali kesehatan saya,yang pernah direngut penyakit dari diri saya. Tidak sampai satu bulan kemudian,saya sudah bisa berjalan lagi. Saya menjalani hidup dengan rasa syukur yang berlipat ganda,karena telah merasakan bagaimana rasanya tidak bisa berjalan.

Badai itu Bisa Datang Kapan Saja

Sembuh dari sakit dan merasa diri kuat, maka saya mulai melakukan berbagai aktivitas seperti sediakala..Kemana mana saya mengendarai sepeda motor seorang diri dan merasa tidak perlu dibonceng terus menerus,karena akan menghambat pekerjaaan suami .

Tetapi pada suatu hari musibah itu datang lagi.!

Awal tahun 2010, kembali saya ditimpah musibah. Terjatuh dari sepeda motor dan cidera dibelakang kepala bagian belakang ,yang menyebabkan saya koma selama 8 hari. Saya sendiri baru tahu belakangan ketika sudah sadar, bahwa teman teman sesama pratiksi reiki ,yang telah membantu menerapi saya dengan setia,disamping perawatan di rumah sakit.

Dokter menganjurkan agar dioperasi , karena ada pengumpalan darah pada kepala Tetapi saya sangat keberatan,karena berbagai kekuatiran dan bertekad melakukan terapi saja ,seperti pengalamanku sewaktu tidak bisa berjalan beberapa tahun lalu.

Selang beberapa hari melakukan terapi diri dan dibantu oleh teman-teman yang sudah senior di Reiki,saya kaget luar biasa,karena tiba tiba muntah mengeluarkan darah dari hidung dan mulut berupa agar-agar Tapi anehnya,saya tidak merasa sakit. .Setelah beberapa hari kemudian di diperiksa lagi dirumah sakit dan dokter menyatakan saya sudah sembuh total .Sesuatu yang menurut logika tidak mungkin bisa terjadi begitu cepat kesembuhan ,tanpa operasi, Namun,aku memahami,bahwa kebesaran Tuhan,memang tidak selalu dapat di logikakan.Rasa syukur memenuhi seluruh sudut sudut hati dan jiwaku.

Sejak saat itu, hati saya selalu merasa terpanggil ,untuk membagi waktu,membantu orang orang yang sakit,tanpa menerima bayaran apapun, Saya lakukan semuanya,sebagai ungkapan rasa syukur untuk kesembuhan yang saya alami. Sakit mengajarkan saya,bahwa hidup itu menjadi indah ,ketika kita bisa berbagi kepada orang lain. Untuk berbagi uang, tidak mungkin,karena kami hidup dengan sederhana,tapi saya bisa berbagi ilmu yang sudah saya pelajari dan menjadikan hidup saya semakin berarti. Saya selalu ingat,sebaik baiknya manusia,adalah orang yang bermanfaat bagi orang lain.Tulisan ini diposting ,sebagaimana diceritakan oleh ibu Lilis pada Oktober ,tahun 2013

Catatan Penulis:

Artikel ini sama sekali tidak merupakan promosi terselubung, Karena itu nama yayasan reiki tidak disebut sebut dalam tulisan ini. Maksudnya hanya sekedar berbagi. Karena sebagaimana kata pepatah:”Tidak satu jalan menuju ke Roma” ,begitu juga ada banyak jalan untuk meraih kesembuhan diri dan salah satunya adalah dengan terapi reiki

Mount Saint Thomas, 10 Agustus ,,2014

Tjiptadinata Effendi

Facebook Comments

About tjiptadinata effendi

3 comments

  1. katedrarajawen

    Wah Pak Tjipta, saya juga sudah terbukti dengan reiki bisa sembuh dan kesehatan semakin meningkathttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

  2. tjiptadinata effendi

    foto saya sudah muncul kembali ya pak Kate,,terima kasih .salam hangat

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif