Air

airAir atau hidrogen merupakan senyawa kimia yang kita kenal dengan rumus H2o. Air dapat dikatakan bagian terpenting dalam kehidupan di dunia. Bahkan meurut para ahli hampir 71% permukaan bumi ini tertutup dengan air. Memang air menjadi sumber kehidupan dan tentunya airlah yang bisa menyejukkan atau menjaga suhu dunia. Dalam jumlah yang sedikit air menjadi sangat berguna dan terasa sangat besar manfaatnya. Akan tetapi ketika air sudah berlebihan air pun bisa menjadi suatu ancaman. Sebut saja ketika banjir datang ternyata air yang biasanya menjadi sumber kehidupan ini pun bisa menjadi suatu bahaya.

Air ini juga menjadi salah satu senyawa yang unik di dunia. Bayangkan saja, air dapat menjadi tiga wujud yang kita kenal dalam kehidupan kita. Air yang berupa cairan seperti yang kita pergunakan dalam kehidupan sehari-hari atau kita saksikan di lautan. Sementara wujud air yang kedua dalam bentuk padat yang kita kenal dengan es, dan air yang berupa awan atau gumpalan air di udara yang merupakan uap air. Tanpa kehadiran air, kehidupan tidak akan terjadi.

Berbicara tentang air, saya menjadi teringat akan dongeng AIR. Pada zaman dahulu kala, air itu tinggal enak di Kahyangan Para Dewata. Sampailah suatu hari, air mendapat tugas untuk melaksanakan pelayanan ke dunia. Pada mulanya air merasa keberatan dan menolak. Namun, Dewata tetap dengan bijak membujuk agar air mau mengemban tugas tersebut walau cukup berat, karena tanpa bantuan air maka kehidupan di dunia akan terancam. Apalagi dalam tugas tersebut Dewata menjelaskan bahwa Air harus menuju sebuah gurun pasir yang memang sangat panas dan tentunya sangat gersang.

Tersebutlah, air yang dengan berat hati tetap pergi melaksanakan misi tersebut. Ia turun dari Kahyangan dan berjalan menuju lembah, ngarai, hingga ke lautan. Di sana ia masih merasakan kesejukan, tetapi ia juga harus tetap berjalan dan berjalan untuk sampai ke padang gurun. Sebelum sampai padang gurun, ia melalui daerah pegunungan yang sangat gersang. Berbagai tanaman tampak meranggas tanpa sehelai daun pun yang masih menempel. Air pun kian merasa lelah dan semangat menjalankan misinya semakin luntur. Dalam keputusasaan tersebut datanglah matahari menghampirinya.

Kini terjadilah percakapan antara matahari dan air. Matahari yang memang senang berkorban ini mencoba menasihati air, katanya “Air, kau tak perlu berputus asa. Kau dapat mengemban tugas untuk sampai padang gurun. Aku akan membantumu jika engkau memang tidak keberatan, tetapi ada syarat yang harus kau ikuti.” Demikian awal pembicaraan antara air dan matahari. Dalam keputusasaanya air mencoba menjawab tantangan matahari yang akan membantu menyelesaikan tugas yang sedang diembannya.

Matahari menyampaikan bahwa air pasti akan bisa menyelesaikan tugas itu asalkan ia mau berubah. Ia akan hilang jati dirinya, namun justru dari keadaan tersebut ia akan dapat menyelesaikan misi. Dari dialog itu air menyepakatinya untuk menerima bantuan matahari. Dengan kekuatanya matahari akan memancarkan panasnya kepada air. Kini air mulai menguap dan habislah jati dirinya. Dalam kondisi ini air tak lagi terlihat wujudnya, yang ada tinggallah uap dan awan yang menggantung di udara. Kini sang angin pun datang menjadi pahlawan terakhir yang membantu menyelesaikan tugas. Angin dengan kekuatannya menghembuskan tenaganya untuk mendorong awan agar cepat sampai ke atas padang gurun. Tugas air pu ternyata dapat terlaksana, dan sampailah ia berda di atas padang gurun. Kini turunlah air di atas padang gurun menjadi sebuah hujan. Selesailah misi tersebut dan air pun mampu memberikan kesejukan di atas padang gurun yang sangat panas, dan gersang. Di padang gurun tak akan pernah terjadi kehidupan apapun jika air tak sampai di sana melalui hujan. Tentu kebahagiaan Sang Dewata tak terkira, karena dengan segala pengorbanannya air telah mampu menolong kehidupan di muka bumi.

Secara filosofi, dongeng tentang air ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Tuhan selalu mengutus umatnya untuk melakukan pelayanan terhadap sesama. Namun, tak jarang kita juga merasa berat hati bahkan setengah hati untuk melaksanakannya. Tugas dan pelayanan untuk sesama itu memang sangat berat. Akan tetapi , jika semua orang tak mau melaksanakan tugas melayani sesama tentu tak tahulah kita apa yang akan terjadi pada dunia ini.

Melalui cerita ini kita diingatkan bahwa ketika kita mau melayani Tuhan, berarti kita juga harus meleburkan diri dan melupakan jati diri kita. Melayani Tuhan berarti kita melayani sesama, yang kadang juga seperti air tadi. Kita merasa sulit karena harus melalui perjalanan hidup yang terjal dan harus banyak berkorban. Kita juga harus mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Penyesuaian dengan lingkungan ini memang seperti yang dilakukan air dalam keseharian. Bayangkan saja ketika kita menuangkan air di dalam gelas maka air pun akan berbentuk seperti gelas. Jika kita tuangkan air ke dalam botol, tidak usah terlalu lama kita juga akan melihat air seperti botol. Singkat kata, jika kita mau seperti air maka kita harus mau menyesuaikan dengan lingkungan kita dan tentunya mampu menyejukkan.

Marilah kita belajar berkorban seperti matahari yang tanpa ragu membantu air walau tidak diminta. Marilah kita berkorban dengan menghilangkan jati diri kita agar tercipta kehidupan bagi makhluk lain. Marilah kita menjadi air yang menyejukkan dan menyegarkan saudara-saudara kita yang haus dan dahaga dan mengalami kegersangan. Salam-AST 140614

Facebook Comments

About Anita Godjali

One comment

  1. katedrarajawen

    Seperti air yang menyejukkan dan selalu mengalir ke tempat yang pa;ing rendah ya mbak Anita?

    Ada titipan nih
    https://ketikketik.com/lain-lain/2014/06/16/the-liebster-award-untuk-anda.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif