Home » Rubrik Khusus » Timba Sumur » Berdandan

Berdandan

Berdandan untuk tampil cantik tentu menjadi harapan setiap orang dan tak ada pengecualian. Dalam rangka memperingati kemerdekaan Indonesia, di berbagai sudut kota Jakarta juga ingin terlihat cantik. Kita bisa menyaksikan berbagai perubahan pada malam hari saat kita melewati sekitar istana Negara. Berbagai pohon terlihat sangat mempesona karena tampil dengan aneka lampu warna merah dan putih. Sungguh pemandangan yang sangat menakjubkan. Selain itu pagar-pagar yang ada di sana juga tidak ketinggalan tampil dengan asri karena berhiaskan kain merah putih bak seorang penari yang siap menunjukkan aksinya. Semua sibuk menghias diri dan berdandan agar tampil cantik dan tentunya berbeda dengan hari-hari biasanya.

Begitu pula dengan beberapa wanita yang akan menjadi tamu kehormatan menghadiri upaca detik-detik proklamasi. Mereka juga sibuk merias diri agar dapat tampil cantik ketika sampai di istana. Mereka juga berpikir, “Kapan lagi bisa ikut upacara di istana?” Singkat cerita, para wanita yang akan hadir dalam acara di istana itu mulai mengantri untuk mendapat giliran berdandan. Sampailah giliran juru rias akan mendadani seorang wanita paruh baya. Wanita ini terlihat sangat antusias mengingat juru rias yang akan mendadaninya sudah sangat terkenal. Satu permintaan mulai keluar dari mulutnya, “Jangan-tebal-tebal ya, nanti jadi menor saya gak suka”. Ok, satu kata pula keluar dari mulut juru rias. Tak berapa lama si perias mulai dengan keahliannya, dan mulai mengeluarkan juga jurus-jurusnya. Ini bagian alis sebelah kiri gak sama tebalnya dengan alis sebelah kanan, boleh saya cukur sedikit ya biar sama, nanti tinggal kupakaikan pensil agar lebih bagus. Sontak sebuah teriakan yang keluar, “enggak, enggak, enggak….jangan aku gak mau nanti aku jadi repot.” Tanpa komentar ahli rias mencoba melakukan pekerjaanya tanpa membuat perubahan apa pun, hanya menambahkan sedikit pensil alis. Kalau aku pakaikan scott boleh ya? Soalnya matanya sipit, nanti kalau pakai scott jadi kelihatan lebih belok jadi bagus. Jawaban dengan nada keras sama seperti sebelumnya, keluar dari mulut wanita paruh baya itu. Ok, intinya aku gak mau kalau aku dimake up dengan menor aku gak biasa nanti pasti jadi aneh. Pakai aja bedak tipis-tipis, sedikit eyesadhow, dan lipstick itu juga sudah cukup.

Tak berapa lama selesailah sudah acara berdandan bersama. “Pasti aku cantik dengan make up yang sederhana ini, kan dia ahli”, begitu pikiran tak terbaca wanita paruh baya tadi. Ia segera memutar duduknya dan menghadap ke arah kaca untuk meneliti dirinya. Oppps…., rasa kecewa dan muka melongo terlihat di dalam kaca. Ternyata, tak ada kesan tambah cantik sedikit pun. Penampilannya masih sama seperti biasanya tanpa nampak perubahan yang berarti. Saat yang sama, sang juru rias pun menyadari dan hanya bisa berujar, “Habis gak mau pakai ini dan itu, jadi saya pun juga menjadi bingung mau diapakan”
Jika kita refleksikan dengan kehidupan kita, permintaan-permintaan yang cenderung bersyarat ini dan itu sering kita lakukan. Hal ini mungkin juga membingungkan Tuhan.

Ketika Tuhan ingin membentuk kita agar menjadi lebih baik, Tuhan sebenarnya bertindak menjadi juru rias dalam kehidupan kita. Tuhan juga sering merancang dan memilihkan apa saja yang pantas dan layak untuk kita. Akan tetapi, kita juga sering seperti wanita yang sedang dirias oleh juru rias. Kita banyak permintaaan dan tidak mau percaya atau menyerahkan seutuhnya kepada Tuhan. Sementara itu, sebenarnya Tuhan sudah merancang hal yang terbaik untuk kita.

Sebenarnya analogi ini juga menggambarkan sikap kita yang sering menolak mengikuti keinginan Tuhan sang”juru rias”. Kita juga sering menolak mengikuti proses “mempercantik diri” dengan mengalami berbagai perubahan. Berbagai perubahan itu pastinya menjadikan diri tidak nyaman. Namun, segala perubahan dan ketidak nyamanan sebenarnya merupakan proses Tuhan mendandani diri kita agar menjadi lebih cantik ketika menghadiri pesta yang diselenggarakan oleh Tuhan sendiri.

Salam-AST 20082014

 

Facebook Comments

About Anita Godjali

2 comments

  1. Anita Godjali

    Mari kita berdandan Jeng Winda hehehe,,,,

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif