Home » Rubrik Khusus » Timba Sumur » Tikus Raksasa ternyata bukan Solenodon

Tikus Raksasa ternyata bukan Solenodon

Tikus Raksasa ternyata bukan Solenodon

Warga Kutai Timur, Kalimantan Timur heboh karena pada Minggu 24 Agustus telah menemukan tikus raksasa. Berita temuan ini pun telah menyebar melalui berbagai media baik media cetak, online , maupun berita elektronik. Menurutnya binatang ini tidak seperti binatang tikus yang seharusnya. Tikus raksasa ini konon memiliki ciri yang unik, karena seperti seekor babi dan berbisa seperti seekor ular. Keunikannya terletak pada bentuk hidungnya yang memanjang layaknya hidung seekor babi. Di samping itu bentuk tubuhnya pun cukup besar jika dibandingkan dengan tikus pada umumnya.
Peneliti pada awalnya mengatakan bahwa binatang ini termasuk jenis binatang langka yang sebenarnya sudah hampir punah. Binatang ini sebanrnya bisa dikategorikan jenis binatang kuno karena konon sudah ada sejak masa berakhirnya masa dinosaurus. Binatang langka ini sebenarnya lebih dikenal dengan nama Solenodon. Pada dasarnya binatang ini sudah mendekati punah. Hal ini tentu disebabkan adanya kerusakan habit Solenodon itu sendiri.
Solenodon termasuk jenis mamalia yang tinggal di dalam liang. Secara fisik Solenodon memiliki ukuran28-30 cm, dengan berat antar 0,7 hingga 1 kg. Namun yang menjadikan binatang ini berbeda dengan mamalia lainnya, bintang ini memiliki bisa. Solenodon akan mudah stress dan akam menggigit. Pada saat ia menggigit menggnakan taringnya maka akan keluar air liur. Nah, air liur itulah yang ternyat mengandung bisa. Dampak dari racun yang tekandung dalam air liur Solenodon ini dapat menyebabkan sesak napas, kejang-kejang, bahkan dapat berdampak pada kematian.
Solenodon ini bukan termasuk binatang asli Indonesia. Binatang ini pada dasarnya merupakan asli dari Kuba. Oleh karena itu di dalam bidang ilmiah disebut dengan Solenodon Cubanus. Spesies ini ditemukan pada tahun 1861 oleh seorang penyelidik alam berkebangsaan Jerman bernama Wilhelm Peters. Tentu penemuan semakin menambah wawasan para peneliti fauna di dunia.
Kelebihan atau keunikan Solenodon ini terletak pada indera penciumanya. Ia tegolong mamalia yang memilki indera penciuman yang tajam untuk menemukan mangsanya. Setelah menemukan mangsanya, ia akan menggunakan kedua kaki depannya untuk melumpuhkannya. Setelah mangsanya tidak berdaya lagi maka ia akan segera memangsanya. Di samping itu ia juga akan menggunakan cakarnya yang juga tajam untuk memburu mangsa.
Binatang ini akan memangsa serangga, cacing tanah dan beberapa jenis binatang yang tidak bertulang belakang. Tentu hal ini agar memudahkan unutk mengonsumsi. Selain itu beberapa binatang reptile tak jarang juga masih menjadi santapannya. Namun, santapan utama Solenodon adalah serangga.
Seperti mamalia pada umumnya Solenodon akan berkembang biak dengan cara belahirkan. Biasanya ia akan melahirkan tidak terlalu banyak seperti kebanyakan tikus, tetapi ia hanya melahirkan satu atau dua ekor saja. Selama kurang lebih tujuh bulan anak Solenodon akan hidup bersama induknya. Setelah itu baru akan berpisah. Secara umum Solenodon jarang melakukan komukasi dengan yang lainnya kecuali mereka berkomunikasi antara jantan dan bentina untuk kawin.

Namun, ternyata penemuan di Kutai itu kini diyakini bukan lagi sebagai Solenodon. Hal ini disebabkan binatang Solenodon yang dianggap binatang primitif ini hanya hidup di daratan Eropa dan di Amerika Latin. Peneliti dari LIPI memang masih melakukan penelitian lebih lanjut dan untuk sementar mengatakan bahwa binatang tersebut dikategorikan Tikus Bulan. Tikus Bulan ini konon memang dijumpai di kawasan Asia Tenggara seperti di Semenanjung Malaysia, Sumatra, dan di Kalimantan. Binatang ini lebih menyukai wilayah hutan hujan yang memiliki suhu yang cukup rendah seperti halnya tepian sungai atau hutan bakau. Tikus bulan juga hidup secara bersembunyi di gua, celah-celah batu atau akar-akar pohon. Ia memang memiliki sifat yang menyerupai Solenodon yaitu hidup secara menyendiri.
Secara fisik, tikus bulan memiliki ciri yang mendekati dengan Solenodon. Ia memiliki ukuran yang hamper sama, yaitu sekitar 25-35 cm. dengan berat badan mencapai 2 kg untuk ukuran tikus yang besar. Sedikit lebihn besar jika dibamdingkan dengan Solenodon. Namun, para ahli memberikan ciri yang hamper sama. Kedua binatang ini sama-sama mengeluarkan bau yang tidak sedap atau dikatakan berbau busuk.
Adapun makanan kedua jenis binatang ini sama, yaitu memakan serangga dan beberapa binatang yang tidak memiliki tulang belakang. Akan tetapi karena keberadaan tikus bulan yang dekat dengan tempat yang basah seperti pinggiran sungai, maka tikus bulan juga makan ikan atau katak kecil yang ditemukan. Bahkan pada saat tertentu ia juga bisa makan buah-buahan yang jatuh di atas tanah.
Nah, ternyata berita heboh tentang penemuan binatang aneh atau tikus raksasa di Kalimantan ini mengingatkan dan menyadarkan kita, bahwa banyak hal yang belum kita ketahui. Kita cenderung membuat kesimpulan yang gegabah. Padahal dalam dunia ilmu pengetahuan kita harus meneliti dengan cermat agar informasi yang kita sampaikan tidak menyesatkan. Salam-AST26082014

 

Facebook Comments

About Anita Godjali

8 comments

  1. Romi Febriyanto Saputro

    Tikus kita memang lebih hebat

    • Anita Godjali

      Apalagi “tikus-tikus berdasi” ya Mas Romi? Hehehe…..selamat pagi selamat berkarya!

  2. jadi langka juga ga si bulan ini? hehehehe

    • Anita Godjali

      Mas Hari, si bulan ini konon juga langka dan tidak ada di setiap daerah, tetapi tidak dikategorikan binatang primitif. Salam kenal dan selamat beraktivitas.

  3. katedrarajawen

    Rupanya mbak Anita sedang jadi peneliti perbinatangan ya hehhe..benar juga kalau mau diselidiki masih banyak hal yang belum kita ketahui dan untuk suatu kebenaran memang jangan sembarangan mengatakan atau menebak2 saja..perlu pakai ahlinya

    • Anita Godjali

      Mencoba meneliti pertikusan, Ko Kate. Sekadar mencoba meluruskan informasi yang simpang siur agar tidak salah kaprah dan mudah menggenaralissasi informasi. Selamat berkarya Ko!

  4. Sayang ngga ada fotonya lagi Mba anita? Apakah hewan yg dimaksud kali anteater alias trenggiling? Bentuknya ada moncong juga? kayak tikus?… trenggiling juga banyak jenis…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

    • Anita Godjali

      O ini beda kalau Solenodon itu moncongnya panjang dan seperti hidung babi tetapi bulunya sama seperti tikus dan liurnya beracun seperti ular. Kalau trenggiling kan kulitnya bersisik tebal… lagian di indo gak ada dia hanya hidup di daratan Eropa dan Amerika Latin. Mungkin pengertian primitfnya sama seperti komodo yang juga kategorikan biinatang purba.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif