Home » Rubrik Khusus » Timba Sumur » Satu Paket Berisi Empat=1×4

Satu Paket Berisi Empat=1×4

4x6

Mungkin para Ketikers sudah bosan mengikuti berita ini. Seolah orang menjadi latah untuk membahas masalah anak SD. Akan tetapi persolannya tidak berhenti pada masalah PR anak SD. Masalah ini sekarang menjadi menjadi perdebatan panjang dan mengundang berbagai reaksi masyarakat. Tidak tanggung-tanggung seorang ahli pun ikut terpancing menulis artikel yang idenya muncul karena peristiwa tersebut.

Sebenarnya saya di dalam keluarga sudah membahas masalah ini semenjak kasus ini diunggah di facebook beberapa hari yang lalu. Kebetulan saat itu saya sedang membuka facebook dan mendapati teman sedang mengomentari tulisan tersebut. Saat itu saya pun memiliki pemikiran yang sama dengan beberapa teman. Bahkan saya sempat beradu argumen dengan anak saya yang masih duduk di kelas V SD. Ia menjelaskan ke saya, bahwa jawaban Habibi yang diunggah oleh kakaknya itu memang salah. Pasalnya, bukan jumlahnya yang membuat Habibi mendapat nilai 20 tetapi konsep pemahaman tentang materi itu yang salah. Menurut anak saya materi itu tentang perkalian 4 bukan perkalian 6.

Dalam perdebatan tersebut anak saya menjelaskan, bahwa 4+4+4+4+4+4 bukan 4×6 tetapi 6×4 sama seperti jawaban pembetulan guru Habibi. Anak saya pun memberikan contoh materi yang sedang dibahas, yaitu materi perkalian 4. Kebetulan di rumah ada juga keponakan yang sedang duduk di kelas 2. Dengan penjelasan tersebut akhirnya saya bisa menerima dan mengerti logika guru yang menyalahkan jawaban Habibi. Pada mulanya saya berpikir masalah ini sudah selesai. Di luar dugaan masalah ini justru menjadi pembicaraan bahkan menjadi tranding topic di jejaring sosial. Tak tanggung-tanggung, para ahli pun ikut turun tangan membahas masalah ini. Namun, ternyata belum ada jawaban atau pembahasan yang cukup menyejukkan dan cenderung memojokkan guru SD. Bahkan dalam berbagai komentar ada yang memojokkan guru matematika SD yang seolah tidak berkompeten.

Bukan karena latah, semoga tulisan saya ini nantinya cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak sempat terjawab oleh guru Habibi. Begitu pula dengan kakak Habibi yang seorang Mahasiswa jurusan Teknik cukup memahami persoalan pengajaran matematika yang mengakibatkan Sang Adik mendapatkan nilai 20. Semoga kita semua memahami sebenarnya ada proses apa di dalam kelas sebelum akhirnya kita melihat fakta jawaban siswa tidak diterima kebenarannya.

Dalam pembelajaran matematika SD ternyata ada soal yang disampaikan dalam bentuk soal cerita. Dalam soal cerita, disampaikan ada satu paket berisi 4 buah pensil. Sekarang seorang anak akan menerima 6 paket, maka penulisan menjadi 6 paket x 4 pencil. Untuk menjabarkan jumlah 6 paket tadi menjadi: 4+4+4+4+4+4, jadi 6×4=24. Dengan demikian esensinya bukan pada perkalian 4×6=24 atau 6×4=24. Melalui pembelajaran matematika ini sebanarnya guru sedang mengajak anak untuk memahami cerita. Ketika anak salah memahami konsep cerita maka jawaban menjadi salah. Memang cerita ini sangat sederhana, tetapi untuk seorang anak kelas II SD melalui cerita semacam ini harapannya lebih mudah mengerti. Dengan cerita seperti ini anak akan mudah memahami karena bisa membayangkan. Biasanya guru dalam menjelaskan dan menguraikan akan menggunakan gambar atau alat peraga. Harapannya, siswa tidak hanya membayangkan tetapi mampu mencerna contoh.

Membaca berbagai artikel yang ada di berbagai media, seolah guru mengajar dengan kaku hanya mengikuti patron dan tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar lebih kreatif. Bahkan beberapa tulisan langsung menghubungkan dengan kurikulum 2013 yang dinilai kurang matang atau cenderung prematur. Menurut hemat saya, pendapat ini sepertinya menjadi sangat berlebihan. Pembelajaran seperti ini bukan hanya pada kurikulum 2013, tetapi sudah sejak lama guru menggunakan metode cerita ketika mengajarkan materi untuk anak-anak. Adapun esensi yang akan disampaikan sebenarnya konsep perkalian 4. Memang sejauh ini belum ada satu pun guru matematika yang mengomentari masalah ini. Tentu karena menurutnya masalah ini tak perlu dikomentari, dengan kata lain mereka malas berkomentar. Persoalannya karena justru kita yang komentar ini yang dipandang tidak paham konsep pembelajaran mereka, yaitu pembelajaran matematika untuk kelas II SD.

Oleh karena itu, dengan rendah hati kitalah yang seharusnya memahami konsep pembelajaran mereka. Bapak/Ibu guru bukan tidak kreatif atau salah dalam mengajar. Mereka bukan orang yang bodoh, justru mereka itu layak diapresiasi. Setidaknya para guru SD ini yang telah bersusah payah menyiapkan dan mendasari kita hingga akhirnya bisa menjadi seperti sekarang. Semoga tulisan ini cukup menjernihkan suasana, dan mohon maaf jika ada di antara pembaca yang kurang berkenan. Salam

Facebook Comments

About Anita Godjali

2 comments

  1. topik yang menarikkkk… anak SD harus disayang…perkalian empat saja bisa bikin stresss mereka…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif

  2. katedrarajawen

    Saya yakin anak2 yang mengerjakan soal tersebut setelah mendapat penjelasan dari guru enjoy2 saja , yang stres justru orang2 yang merasa dirinya pintar hehhehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif