Home » Rubrik Khusus » Timba Sumur » Bahasa Onboard Lebih Keren daripada Bahasa Pejabat

Bahasa Onboard Lebih Keren daripada Bahasa Pejabat

bahasaBaru saja kita memperingati Bulan Bahasa yang jatuh pada bulan Oktober. Berbicara tentang bulan Bahasa ini sangat menarik. Bahasa menjadi sarana yang sangat penting untuk berkomunikasi dalam kehidupan kita. Apalagi kalau kita ingat tentang pepatah yang mengatakan bahwa Bahasa Cermin kepribadian. Selain itu, bahasa dipandang memiliki peran sentral dalam mengembangkan intelektual, sosial, dan emosional penuturnya.
Sesuai fungsinya, peranan bahasa Indonesia untuk alat komunikasi memanglah penting. Baik komunikasi lisan maupun komunikasi tulisan. Melalui komunikasi lisan inilah kita dapat membaca seperti apakah kepribadian penutur bahasa ini. Bahkan bahasa seseorang ini pun mampu mencerminkan kemampuan komunikasi interpersonal seseorang baik sebagai individu maupun antar individu.

Berbicara tentang bahasa seseorang yang mampu menggambarkan kepribadian ini, sepertinya cukup menarik. Pemikiran ini muncul karena peristiwa yang sebenarnya didasari peristiwa yang sangat sederhana. Bagi Anda, pengguna angkutan umum Trans Jakarta, mungkin akan mengenal seseorang berseragam yang berdiri di pintu bus. Orang ini dikenal dengan sebutan onboard. Tugas mereka membantu pramudi untuk menyampaikan informasi bahwa kendaraan siap diberangkatkan. Selain itu, ia juga memberikan informasi kepada penumpang tempat transit sesuai tujuan.

Tugas onboard tak lain adalah melakukan komunikasi kepada pramudi dan penumpang. Salah seorang onboard ini bernama Ahmad Fauzi, berdasarkan nama yang tertera di seragam yang dikenakannya. Saat ini ia bertugas di koridor lima jurusan PGC-Harmoni. Komunikasi onboard ini menggunakan bahasa Indonesia. Hal yang sangat menarik dan menggelitik adalah kemampuannya berbahasa yang teramat baik. Penulis merasa sangat tertarik mendengarkan celotehnya dalam memberikan instruksi dan informasi. Mendengar cara berbicaranya menunjukkan kemampuannya berkomunikasi yang sangat bagus. Ia menggunakan bahasa Indonesia yang begitu terstruktur. Bahasanya yang sangat baik, benar, dan santun. Tentu hal ini menjadi bahan refleksi tersendiri setelah akhir-akhir ini kita senantiasa dijejali dengan berbagai berita di media massa atau media sosial yang isinya membuat merah telinga.
Berbagai kasus berbahasa yang sempat menghebohkan pengguna jejaring sosial yang berlanjut ke dunia nyata. Sebut saja kasus terhangat tentang Florence. Seorang mahasiswa S2 Fakultas Hukum Universitas ternama di Kota Gudeg ini menjadi bulan-bulanan karena penggunaan bahasanya. Bahasa yang digunakan dipandang tidak mencerminkan seseorang yang terpelajar. Belum lagi beberapa tokoh masyarakat Indonesia yang lainnya juga mengalami hal yang sama.

Sebelumnya kasus serupa juga pernah menimpa para pesohor di negeri ini. Kita mengenal tokoh Ruhut Sitompul yang pernah beradu mulut dengan Gayus Lumbuun. Kata-kata kasar yang memberikan kesan kasar dan tidak pantas disaksikan oleh masyarakat melalui layar kaca. Belum lagi beberapa tokoh partai politik dalam berkampanye. Mereka menggunakan bahasa yang kasar tanpa berpikir dampak yang akan terjadi. Orang-orang yang terpelajar ini lupa bahwa perilaku berbahasa mereka juga menjadi perhatian masyarakat.

Gaya bertutur dalam berbahasa menjadi tolok ukur tingkat keberadaban mereka. Banyak anggota masyarakat yang lupa jika mereka akan dinilai melalui tutur katanya. Perilaku berbahasa seseorang sebetulnya merepresentasikan kepribadian penuturnya. Itulah sebabnya pada masa lampau orang tua selalu menekankan pentingnya berbahasa dengan baik. Berbahasa dengan memperhatikan tata krama dan sopan santun sebagai wujud budaya. Budaya menghargai sesama yang berarti juga menghargai diri sendiri. Hal ini selaras dengan pepatah Jawa yang berbunyi “Ajining diri seko lathi”, yang artinya orang akan dihargai dan dihormati karena kata-katanya.
Peristiwa berbahasa ini sepertinya layak kita renungkan dalam kehidupan kita. Kemampuan berbahasa yang baik, benar, dan santun ternyata tidak selamanya dikuasai oleh orang berpendidikan tinggi. Sekali lagi kita bisa terkecoh, menilai kemampuan berbahasa seseorang berdasarkan tingkat pendidikan. Ternyata dalam kehidupan bermasyarakat kita, orang yang mampu berbahasa dengan baik tidak selamanya mereka yang berpendidikan tinggi, tetapi kemauan sesorang.

Melalui peristiwa-peristiwa di atas selayaknya kita merefleksikan dalam kehidupan ini. Kemampuan berbahasa yang baik sesuai dengan hakikat kebahasaan sungguh menjadi tantangan kita bersama. Mampukah kita mengajarkan dan memberikan teladan kepada generasi penerus untuk berbahasa yang baik dan sesuai dengan tata karma? Jawabnya tentu ada dalam hati kita masing-masing.

Salam-AST 05112014

Facebook Comments

About Anita Godjali

2 comments

  1. katedrarajawen

    ehmm menarik, bahasa bisa menunjukkan siuasa hati juga ya, Mbak Anita, saya kalau sehari2 menggunakan kata ‘saya’ tapi kalau lagi sudah marah bisa menggunakan kata ‘gua’..itu secara gak sadar terucap begitu ajahttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

  2. Anita Godjali

    Itu salah satu sebab bahasa dikatakan berfungsi dalam pengembangan emosional, Ko Kat. Dalam kondisii emosi yang stabil kita bisa memilih dan memilah bahasa yang layak kita tuturkan. Namun, tak jarang kita juga menjadi khilaf dalam bertutur ketika emosi tidak stabil.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif