Home » Rubrik Khusus » Timba Sumur » Refleksi Hari Guru: Sudah Tumpulkah Tombak Itu?

Refleksi Hari Guru: Sudah Tumpulkah Tombak Itu?

“Guru adalah ujung tombak dunia pendidikan”. Sebuah kalimat yang layak menjadi bahan refleksi pada hari guru yang jatuh tanggal 25 November ini. Tentu ini berkaitan dengan banyaknya permasalahan pendidikan di Indonesia. Tak dapat diingkari bahwa guru masih tetap memiliki peran penting. Namun pertanyaannya, bagaimana jika ujung tombak itu telah tumpul?
Apa itu tombak? Tombak merupakan senjata, salah satu hasil peradaban dunia. Tombak ini berupa sejenis logam yang berbentuk pipih dengan tangkai sebatang tongkat. Pada masa lampau orang menggunakannya sebagai senjata berburu atau berperang. Tombak ini menjadi sangat efisien, karena memerlukan bahan yang sedikit ketika membuatnya. Akan tetapi tetap memilki fungsi yang sama apabila dibandingkan dengan senjata lain seperti halnya, golok, parang, atau pedang. Pertimbangan efisiensi dan penghematan ini pula rupanya yang menjadikan pendahulu kita menemukan senjata tombak ini. Hingga akhirnya tombak menjadi senjata tentara tradisional berbagai kerajaan di Indonesia.
Efisiensi ini pula rupanya yang menganalogikan guru dengan tombak. Berbagai permasalahan pendidikan di Indonesia pada dasarnya juga tidak bisa terlepas dari peran guru. Sebagian orang berpikir bahwa pendidikan yang baik akan tercapai jika perangkat kurikulum sangat memadai. Mereka lupa, bahwa sebaik apa pun perangkap pendidkan belum tentu berhasil, apabila guru tidak mampu mengimplementasikan di lapangan. Guru perlu mendapatkan pemahaman yang tepat agar pendidikan bermakna.
Guru memiliki peran bukan sekadar mengajar sesuai dengan bidang studinya. Guru akan memperkenalkan berbagai macam pandangan kehidupan bagi para muridnya. Baik pandangan moral atau mungkin etika yang bisa menjadi acuan hidupnya. Guru juga harus juga mengajak anak-anak didiknya mampu berpikir objektif. Mereka juga akan mengajak murid belajar cara memahami nilai-nilai yang berlaku dalam masyarakat.
Dengan demikian sebenarnya berbagai perangkat yang telah disediakan pemerintah tidak serta merta menjadikan pendidikan langsung berubah. Analogi guru menjadi ujung tombak untuk keberhasilan pendidikan perlu menjadi bahan refleksi. Benarkah para guru sudah mampu melaksanakan perannya?
Guru memiliki peran sentral dalam mengaplikasikan kurikulum rancangan pemerintah. Mereka memiliki kewenangan menentukan materi serta nilai-nilai yang dibutuhkan peserta didik. Mereka juga akan menentukan cara-cara atau kegiatan yang sesuai dengan murid.. Kebutuhan pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa itulah yang menjadi penting.
Agar dapat melaksakan semua itu tentu perlu pemikiran guru yang lebih tajam. Ketajaman berpikir guru ini akan bisa berkembang jika guru mendapakan kesempatan mengasah pemikirannya. Akan tetapi, dalam kenyataan sebagian besar guru di Indonesia kurang mendapatkan penyegaran dengan pemahaman informasi baru.
Guru yang sangat diperlukan saat ini bukan hanya sebagai fasilitator. Guru harus mampu menjadi penuntun bagi langkah hidup para muridnya. Guru harus secara reflektif menerapkan pengajarannya. Memang tentu bukan hal yang mudah untuk melaksanakan semua itu. Perlu kompetensi dan kemauan guru dalam memberikan bimbingan yang efektif dan efisien. Mereka harus mampu menggali potensi-potensi para siswa untuk mengembangkan bakatnya. Namun, satu hal yang tak boleh terlupakan guru harus mampu menjadi teladan. Baik dari segi tingkah laku, cara berpikir, dan cara pandang dalam menyikapi kebenaran. Agar guru mampu melaksakan tugas tersebut tentunya guru perlu membuka wawasan, mengembangkan cakrawala berpikir, dan pengembangan diri dalam berbagai bidang.
Kesempatan mengembangkan diri agar guru mampu berpikir kritis dan analitis memang sangat penting. Namun demikian, seberapa persentase guru yang mau belajar untuk mengembangkan diri? Idealnya seorang guru memang harus lebih tahu daripada anak didiknya. Dalam kenyataan guru dewasa ini sudah menjadi sangat tertinggal. Kemajuan teknologi cukup menggantikan para guru dalam mempelajari ilmu pengetahuan. Guru semakin tertinggal beberapa langkah di belakang siswa. Tentu hal ini akan sangat memprihatinkan. Kini guru memiliki tantangan yang sangat berat. Setidaknya beberapa poin penting mutlak menjadi tanggung jawab guru.
1. Memahami Warisan Budaya
Warisan budaya yang bersifat visibilitas harus menjadi prioritas. Bagaimana pun seorang guru harus mampu mendorong murid untuk menghargai budaya bangsanya. Apa pun bidang studi yang diampunya, guru memiliki peran besar ini. Ketika guru pun sudah tidak memiliki kepekaan dalam bidang budaya ini tentu ini sudah mengurangi perannya.
2. Menumbuhkan Tanggung Jawab yang Rasional
Guru harus berperan serta mendorong siswa untuk mampu berpikir kritis dan analitis. Sejak awal, guru juga harus mengajarkan agar siswa mampu betanggung jawab secara rasional. Kenapa hal ini menjadi perlu? Dewasa ini banyak kasus yang sering mengusik hati nurani kita. Ada beberapa orang yang melakukan tindakan di luar batas rasional. Tentu semua peristiwa itu sangat memprihatinkan, oleh karena itu sejak dini guru juga harus mampu mendorong siswa bertanggung jawab namun tetap dalam batas rasional.
3. Respek atauSikap Saling Menghormati
Respek dan menghormati setiap ciptaan Tuhan menjadi tugas setiap warga Negara. Dalam hal ini guru harus menekankan kepada semua siswa bahwa saling menghormati menjadi kunci kebersamaan. Cita-cita persatuan bisa hanya menjadi slogan ketika di antara kita tidak mampu saling menghargai. Menanamkan dan menekankan pentingnya sikap saling menghargai ini menjadi tugas guru.
4. Komitmen
Guru memiliki tanggung jawab mendorong komitmen peserta didik. Komitmen pada dasarnya yang akan mempengaruhi setiap keputusan seseorang. Komitmen seseorang akan sangat berimplikasi dengan kehidupannya bermasyarakat. Apabila seorang siswa sejak dini terlatih untuk selalu berkomitmen, tentunya ketika kelak terjun di masyarakat juga akan setia dengan komitmennya.
5. Membentuk Karakter
Pendidikan karakter menjadi kunci atau kekuatan keberhasilan kehidupan suatu bangsa. Sebuah bangsa akan berhasil ketika masyarakatnya mampu menciptakan keharmonisan. Rasa saling menghormati dan menghargai sebagai bentuk rasa syukur bahwa mereka setara di hadapan Tuhan apa pun ras, suku, maupun agamanya. Karakter ini menjadi kekuatan moral yang sangat penting untuk keberlangsungan hidup bernegara. Dalam hal ini, guru memiliki peran besar untuk mencapainya.
Namun, sepertinya berbagai peran tadi masih banyak yang terlewatkan oleh para guru. Terbukti banyak peristiwa memalukan yang akhir-akhir ini sering kita saksikan di media yang juga mencoreng instansi pendidikan kita.
Di manakah peran guru sebagai ujung tombak pendidikan kita?
Apakah tombak itu kini telah tumpul, hingga tidak lagi mampu menjadi senjata berperang?
Tentu berperang melawan kebodohan yang masih mendera sebagian besar bangsa ini. Memang saat ini sudah banyak warga yang pandai secara pengetahuan tetapi masih bodoh dalam bersikap dan bertutur kata. Tentu semua peristiwa ini tak dapat dimungkiri menjadi tanggung jawab para guru. Oleh karena itu, bersamaan dengan hari guru ini layaklah kita refleksikan pertanyaan tersebut. Selamat Hari Guru! Salam-AST

Facebook Comments

About Anita Godjali

8 comments

  1. Tapi sekarang jadi guru di lema kaya nya ya mba murid di hukum lapor polisi murid nilai jelek di marahi sertifikasi potong sana sini hix hix hix saya tahu karen keluarga besar saya guru semua https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif

    • Anita Godjali

      Justru takut dengan hal-hal seperti itu akhirnya guru menjadi masa bodoh Mbak Ika. Tumpulnya guru sebagai ujung tombak tak lain karena banyak guru yang mengajar bukan sebagai panggilan tetapi dipandang sebagai profesi. Namun, mereka sendiri kadang kurang profesional. Jadilah produk yang gagal ketika murid telah terjun ke dalam masyarakat. Mereka menjadi sampah karena kelakuannya.

  2. katedrarajawen

    Harus diakui, mungkin sebelumnya sudah kurang tajam dan kemudian kurang diasah ya jadi tumpul hehhe..terus yang tadinya tajam, tapi lama2 lupa diasah ya jadi tumpul juga kan?

    • Anita Godjali

      Itu sebabnya Ko Kat, tulisan ini memang sungguh-sungguh mengajak para guru reflektif. Sudahkah para guru itu melaksanakan perannya dan melaksanakan panggilannya? Bisa jadi, menjadi guru hanya sekadar sarana mencari nafkah.

  3. katedrarajawen

    Setuju mbak Anita, sejatinya menjadi guru ada misi mulia tersendiri ya

  4. Anita Godjali

    Hakikatya gitu Ko Kat,… tapi dunia bisa menubah semuanya hehehe….

  5. Guru itu harusnya dibayar paling mahal dari semua profesi krn dari guru lahir profesi2x lainnya…nyatanya???…hauduhhh…#ngelus dada# kesian liat nasib guru…dan kadang org terjebak pada kecintaannya mengajar tapi terpukul pada murahnya mereka dibayar…–

  6. Anita Godjali

    Di Indonesia guru bukan profesi kalau dilihat dari penghargaanya tetapi sebagai pelayan, Ci Winda, hehehe….salam

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif