Home » Rubrik Khusus » Tjipta Dinata's Life Story » Jangan Biarkan Hidup Kita Jadi Beban

Jangan Biarkan Hidup Kita Jadi Beban

 stock-photo-loving-mature-couple-on-a-background-of-clear-sky-147680771Jangan Biarkan Hidup Kita Jadi Beban Anak Cucu
Kendati mengenai usia,adalah urusan Tuhan,namun bukan berarti kita tidak perlu mempersiapkan masa depan sedini mungkin ,Karena tidak dapat dipungkiri,bahwa setiap orang ,akan menjadi tua.Menjadi tua bukan hanya,berarti usia yang bertambah,tetapi tenaga menjadi  berkurang. Tanpa disadari rambut mulai memutih ,gigi mulai rontok satu persatu dan kulit yang tadinya mulus, perlahan lahan mulai keriput disana sini. Tenaga lambat laun menjadi berkurang. Yang sebelumnya bisa berlari kencang,kini hanya bisa berjalan perlahan lahan.

Dalam kalimat lain.setiap orang berjalan menuju masa tua. Namun kita bisa memilih : Menjadi tua yang mandiri atau Jadi beban anak cucu.Banyak orang yang terbius,menikmati hidup sepuas puasnya,seolah ada yang menjamin,bahwa seumur hidup uang akan mengalir terus. Padahal ,semua orang tahu,bahwa ibarat sebatang pohon,hanya berbuah ketika masa produktif. Untuk kemudian secara bertahap ,buahnya semakin hari akan semakin berkurang.
Karena itu seharusnya kita menyadari,agar sedini mungkin mempersiapkan diri,baik secara mental,maupun dari sudut financial. Jangan terbawa oleh arus berpikir yang keliru:” masih banyak waktu lagi,tidak usah terburu buru” .Kebiasaan menunda ini,bisa mengakibatkan penyesalan yang terlambat dibelakang hari.

Karena:
1. menunda berarti membatalkan rencana.
2. menunda berarti menutup peluang
3. menunda berarti meliwatkan kesempatan
4. menunda berarti merencanakan kegagalan hidup
Kita sering terlena dan berpikir:” Masih banyak waktu ,saya masih muda,tidak perlu buru buru,takkan lari gunung dikejar dan seterusnya.
Kita lupa,bahwa kesempatan terkadang hanya datang sekali saja dalam hidup kita dan belum tentu kesempatan kedua akan datang lagi. Kita juga sering lupa,bahwa “gunung memang tidak akan lari”,tapi mungkin kita yang tidak lagi memiliki tenaga untuk mendaki kegunung.

The Power of mind
Jangan hanya belajar dari kesuksesan ,tapi belajarlah juga dari kegagalan hidup orang lain.Agar kita jangan sampai mengalami kegagalan yang sama. Gagal atau sukses,diawali dari cara berpikir kita. Karena pikiran selalu mendahului apa yang akan terjadi. Orang yang selalu berpikiran bahwa ia akan gagal,maka kegagalan pasti akan menjadi miliknya. Sebaliknya bila kita selalu berpikir sukses,maka sukses akan jadi bagian dari hidup kita.

Salah satu cara berpikir yang salah:” Saya sudah tua,wajarlah bila saya sakit sakitan,toh ada anak cucu yang akan menjaga saya”.
Bila pikiran negatif ini dibiarkan berlarut dan mengendap di alam bawah sadar,maka kita sudah men setting atau memprogram:” Kalau saya tua ,saya akan sakit sakitan dan jadi beban anak cucu saya.” Maka orang yang berpikiran demikian sudah menciptakan doa negatif bagi dirinya sendiri. Dalam bahasa yang vulgar ,dapat dikatakan bahwa orang yang selalu berpikiran negatif adalah orang yang mengutuki dirinya sendiri. Maka kutukan itupun jadilah.You are what you think. Anda akan menjadi seperti apa yang anda yakini. Jadilah seperti yang kita imani.Pikiran dapat menjadi madu dalam hidup kita,tetapi juga bisa menjadi racun. Terserah kepada kita ,mau diarahkan kemana.

Berbagi pengalaman hidup.
Biasanya orang gembira,bila setelah hidup merantau belasan tahun dan dapat kesempatan pulang kampung,karena kesempatan untuk bisa berjumpa dengan sanak famili dan teman teman lama. Namun ketika saya pulang kampung,justru saya sangat sedih. Karena sewaktu saya menemui teman teman saya sewaktu masih muda, ternyata kondisi mereka amat sangat memprihatinkan. Kelangsungan hidup mereka ditanggung oleh anak anak mereka,karena sudah tidak bekerja lagi

Dan tidak ada suatu pegangan yang bisa menunjang hidup mereka. Saya merinding menyaksikan kehidupan mereka yang morat marit.Karena mereka sama sekali tidak terpikir untuk mempersiapkan masa tua yang baik. Dan kesempatan itu sudah berlalu. Karena mereka terlena ,tidak waspada dan tidak memanfaatkan kesempatan yang ada. Lost time ,will never found again. Waktu yang sudah di sia siakan (berlalu),tidak mungkin akan didapatkan lagi!

Jangan Hidup Seperti Ayam
Dulu sewaktu masih muda,saya merasa amat tersinggung,ketika dinasihati oleh Om saya:” Effendi.anda jangan hidup seperti ayam. Mengais dari pagi hingga sore,hanya untuk dimakan pada hari ini .Karena kelak bila anda sudah tidak mampu mengais lagi,maka anda akan mati kelaparan” Pada waktu itu saya merasa wajah saya bagaikan ditampar dengan sangat keras. Berbulan bulan,saya tidak mau mengunjungi Om saya,bahkan tidak mau menyapanya. Saya merasa terhina disamakan dengan ayam”

Tetapi suatu waktu, seekor ayam yang sudah bertahun tahun saya pelihara mati di kandangnya. Saya sedih . Ketika saya angkat, saya kaget karena ayam ini sangat kurus,hingga tulang belulangnya menonjol. Rupanya ,karena hidup kami sendiri melarat,saya tidak sempat memperhatikan,bahwa karena sudah tua,ayam ini tidak lagi bisa mengais dan mencari makan sendiri. Akibatnya ia mati kelaparan di kandangnya.

Malam harinya saya tidak bisa tidur. Karena sedih ayam yang saya perlihara dari sejak baru menetas,mati karena kelaparan. Tiba tiba,bagaikan tersengat listrik,saya tersentak. Ingat apa yang dikatakan Om saya beberapa bulan sebelumnya :” Effendi jangan hidup seperti ayam, yang mengais sepanjang hari,hanya untuk makan sehari. Kelak kalau sudah tidak bisa mengais lagi,akan mati kelaparan” Saya merinding. Saya tidak mau hidup dan mati seperti seekor ayam!”
Sejak saat itu,saya membuang semua pikiran negatif dan bertekad :” Kelak saya akan jadi orang tua yang mandiri. Saya tidak mau jadi beban anak cucu.!”Saya datangi rumah Om saya dan minta maaf,karena saya sudah salah paham .”Bagus kalau anda sudah memahami “ Kata Om saya dengan serius.

Rasa Syukur Yang Tidak Berkesudahan
Nasihat Om saya,yang pada awalnya saya rasakan sebagai penghinaan,ternyata mampu membuka cakrawala berpikir saya. Berterima k.asih pada almarhum Om saya dan bersyukur tak habis habisnya kehadirat Sang Mahapengasih. Saya tidak gamang memasuki usia tua.bahkan tidak jarang saya lupa bahwa usia kami sudah memasuki ke 71 tahun. Kami berdua ,diberikan kesempatan untuk mengunjungi berbagai negara. Melengkapi kunjungan ke 7 Keajaiban Dunia.bahkan kami sudah mengunjungi 5 benua di dunia ini. Yang mungkin tidak banyak orang yang dapat menikmatinya.
Saya selalu membiasakan diri,setiap subuh.,begitu bangun tidur,membuka mata dan menggerakkan anggota tubuh,maka kata yang pertama saya ucapkan dari pikiran,hati dan mulut saya adalah :”Segala Puji dan Syukur BagiMu Ya Tuhan. Saya masih hidup dan sehat!”Ternyata dengan mengawali hari kita dengan bersyukur ,akan mempermudah hidup kita dan membukakan pintu rejeki .Sesungguhnyalah hidup itu adalah sebuah pilihan. Pilihlah yang terbaik,agar kelak tidak akan kita sesali.

Wollongong, 27 Januari, 2014
Tjiptadinata Effendi

Facebook Comments

About tjiptadinata effendi

3 comments

  1. Anita Godjali

    Nasihat yang luar biasa Pak Tjip, memang kecenderungan orang akan menyesal setelah terlambat, karena merasa masih muda dan kuat lupa masa depan tahu-tahu jatuh sakit dan jadilah beban keluarga.Semoga makin menginspirasi kehidupan kita…terima kasih

  2. tjiptadinata effendi

    Dear Mbak Anita,terima kasih sudah menyempatkan diri untuk berkunjung. Ya mbak,pejalanan hidup yang jatuh bangun dan belajar juga dari pengalaman orang lain,maka di usia pensiun ini ,saya manfaatkan untuk senantiasa menulis,hal hal yang kiranya bermanfaat untuk di baca dan dijadikan inspirasi. Tentu sama sekali tidak bermaksud menggurui. Semata mata adalah untuk menerapkan that Life is to share…Terima kasih dan have a wonderful day Mbak Anita.

  3. Salam kenal Pak Tjiptadinata.
    Saya pendatang baru di KK nih.
    Mohon bimbingan dan arahannya.
    Trims.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif