Home » Rubrik Khusus » Tjipta Dinata's Life Story » Kegagalan demi Kegagalan adalah anak Tangga Menuju Sukses – Sepotong Biografi

Kegagalan demi Kegagalan adalah anak Tangga Menuju Sukses – Sepotong Biografi

stock-vector-never-give-up-grunge-rubber-stamp-on-white-vector-illustration-159967418Kegagalan demi Kegagalan adalah anak Tangga Menuju Sukses – Sepotong Biografi

Kami menikah pada tahun 1965 di kota Padang. Sebagai pasangan suami istri yang masih muda. Hasrat hati untuk secepatnya mengubah nasib ,menjadi lebih baik ,mendorong kami untuk mengambil suatu keputusan yang berani. Bahkan dianggap nekad oleh keluarga. Karena sesungguhnya kami berdua sudah bekerja di salah satu perusahan interinsulair di kota Padang dan mendapatkan gaji yang lumayan untuk hidup. Namun semuanya itu kami tinggalkan, dengan tujuan: “ ingin menjadi pengusaha”.
Segera sesudah menikah,kami langsung pamitan dengan boss dan sekalian dengan keluarga kami di Padang. Kami menuju ke kota Medan. Karena disana ada tante kami, yang mengajak kami untuk tinggal disana. Mengingat suaminya sering keluar negeri untuk bisinis, sedangkan putra putrinya masih kecil kecil.Maka kami diajak untuk tinggal disana, sekalian menemani tante . Tempat tinggal kami berlokasi di jalan Gandhi ,Simpang jalan Asia dikota Medan.

Mulai mencoba berdagang
Dengan semangat mengebu gebu, seminggu sesudah kami tinggal di Medan, saya sudah mempersiapkan segala sesuatunya untuk mencoba melakukan dagang antar kota. Medan ke Padang. Barang dagangan saya berupa ,makanan kaleng dan kebutuhan sehari hari. Perjalanan dari Medan ke Padang, saya lakukan dengan naik bus umum . Sungguh merupakan perjalanan yang menyakitkan , selama 18 jam terguncang guncang di perjalanan, karena pada waktu itu jalanan sangat jelek. Namun tekad sudah bulat,yakni saya mau jadi pedagang.
Akan tetapi semangat yang mengebu gebu ,yang tidak disertai dengan pemahaman yang memadai tentang seluk beluk dagang, menyebabkan dalam waktu 6 bulan, seluruh modal yang kami kumpulkan selama bekerja di Padang, ludas karena merugi. Masih belum kapok, kami meminjam uang dari tante,dengan harapan, mengawali lagi untuk menutupi ketekoran di 6 bulan pertama. Ternyata keyakinan diri itu semakin hari semakin goyah, Karena terus merugi. Saya menjadi frustasi.karena rasa tubuh yang tidak keruan,mundar mandir Medan –Padang, yang harus menempuh perjalanan pulang pergi selama 2 x 18 jam= 36 jam ,terbanting dan tergoncang di bus yang panas dan menyesakkan dada.

Jatuh sakit
Akibat kelelahan dan frustasi, saya jatuh sakit. Plus seluruh uang habis dan masih menyisakan utang yang cukup banyak pada tante kami. Kendati tante kami tidak pernah menagih, namun rasa hati kami sungguh tidak nyaman. Setelah sembuh dari sakit, saya diskusikan dengan istri, bagaimana caranya agar kami berdua jangan sampai membebani kehidupan tante ,dengan makan tidur gratis disana. Hasil perundingan : kami harus keluar rumah dan mencari pekerjaaan.
Beruntung dalam waktu 2 bulan kemudian, salah seorang teman dari Padang , memberikan info, bila kami mau bekerja, ia bisa mengusulkan kami untuk diterima di Pabrik Karet.Tapi dijelaskan, bahwa untuk pemondokan, kami harus siap untuk mondok di kapling buruh. Kami sudah bertekad untuk keluar dari rumah tante kami, maka uluran tangan ini kami sambut dengan sangat berterima kasih.
Minggu itu juga kami berdua pamitan dengan tante dan langsung menuju ke pabrik karet PT PIKANI yang berlokasi sekitar 34 km di luar kota Medan. Kami mendapatkan pemondokan buruh ,berupa kamar seukuran 2 x 3 meter, tanpa perabotan apapun . Untuk urusan mandi ,kami harus mau berjalan kaki sekitar 200 meter dari pemondokan. Setiap pagi kami harus bangun jam 4 subuh,agar tidak antrean mandi. Yang paling rumit adalah ketika hujan lebat dan tengah malam kami butuh untuk urusan ke toilet, maka dengan berbekali selembar daun pisang, kami mencoba meniti berjalan 200 meter dimalam buta,untuk membereskan urusan di toilet.
Pemondokan kami terletak di pinggiran hutan, dimana nyamuk malaria luar biasa . Baru 2 bulan bekerja disini, saya jatuh sakit karena malaria. Cukup parah, sehingga tante kami datang menjenguk dan memaksa kami untuk keluar dari sana dan kembali kerumahnya di Medan. Namun, kami bersikeras,tidak ingin membebani tante kami. Kami masih tetap disana dan bekerja selama 2 tahun.
Namun selama 2 tahun bekerja keras, jangankan menabung, untuk mencicil utang pada tante saja , tidak cukup uang.Sementara itu penyakit Malaria saya kambuh dan hampir merengut nyawa saya.

Memutuskan Pulang kampung
Gagal dagang antar kota dan gagal dalam bekerja di pabrik karet, akhirnya kami memutuskan untuk kembali ke kampung halaman. Sesungguhnya hal ini adalah yang paling kami takuti. Karena bila kami kembali, pasti kami akan jadi bahan gunjingan orang sekampung, karena pulang sebagai orang yang kalah perang: gagal!
Tapi saya tidak tega, melihat istri saya yang semakin hari semakin kurus dan ditambah dengan kehamilannya yang sudah memasuki usia ke 6,maka dengan sangat berat hati kami kembali kekampung halaman.

Menjadi Penjual Kelapa di Pasar Kumuh
Kembali ke Kampung halaman ,kami juga tidak ingin menjadi beban bagi orang tua kami kedua belah pihak. Karena kami sudah menikah dan harus bertanggun jawab untuk bisa menghidupkan diri. Lagi lagi sebuah keputusan yang teramat berat,yakni menjual seluruh perhiasan istri saya. Walaupun istri saya Lina dengan ikhlas memberikan seluruh perhiasannya untuk dijual ,guna membayar kontrak kedai di Pasar, namun tidak urung saya menangis dalam hati. Menikahi seorang gadis,bukannya memberi,malah menghabiskan dan menjual perhiasannya. Setiap wanita pasti bisa merasakan bagaimana tanpa perhiasasan apapun.
Kami tinggal di sebuah pasar kumuh,yang dikenal dengan nama Pasar Tanah Kongsi. Setiap kali ada hujan lebat pasti banjir Tikus ,kecoa ,cacing ,lipan dan segala macam serangga dengan bebas berkeliaran di dalam kedai,yang merangkap sebagai rumah tinggal. Sementara itu putra pertama kami sudah lahir . Karena kondisi keuangan yang morat marit dan tinggal ditempat kumuh. Putra kami tumbuh dalam kondisi tidak sehat dan sering mengalami kejang kejang. Kami hanya bisa menangis dan berdoa, sambil mengosok minyak kayu putih, satu satunya obat yang ada pada kami.
Semakin hari kondisi putra kami semakin parah ,Kami mencoba meminjam uang kesana kemari. Akhirnya ada yang mau meminjamkan dengan bunga 30 persen satu bulan! Belakangan tidak bisa kami bayar,sehingga saya harus mengikhlaskan untuk menjual cincin kawin saya.

Akhirnya jalan Menuju Sukses itu saya temukan
Kehidupan di pasar kumuh, nyaris menguras seluruh energy dan secara perlahan mengiring kami ketitik nadir kehidupan. Apalagi ketika petugas PLN datang dan memutuskan aliran listrik, karena sudah 2 bulan tunggakan rekening listrik belum bisa saya lunaskan. Seolah masih belum lengkap lagi penderitaan kami. Istri saya Lina, jatuh sakit. Kepala saya serasa mau pecah,tidak bisa lagi berpikir dengan baik. Saya sudah memberikan seluruh tenaga dan hidup ,dengan bekerja siang malam ,namun jangankan bicara tentang sukses, bahkan untuk hidup sehari harian saja ,jauh dari cukup.
Suatu pagi, saya ketemu teman sahabat saya yang sudah sukses. Biasanya saya menghindar. Karena berbagai pengalaman menyakitkan, ketika saya tidak diterima bertamu kerumah sahabat dan family.Mungkin mereka kuatirkan saya datang untuk meminjam uang. Namun kali ini ,Pak Syamsuar dengan agak setengah memaksa, mengajak saya ke kantornya. Saya diajak naik mobil dan kamipun meluncur menuju ke kantornya yang berada dijalan utama kota Padang.
Inilah jalan yang diberikan Tuhan kepada saya. Hampir 2 jam , kami bercerita tentang kehidupan saya dan Syamsuar mengajak saya untuk mulai mengubah jalan hidup. Jangan lagi tinggal di pasar kumuh dan berjualan kelapa.Karena tidak menjanjikan perubahan masa depan yang baik.

Sejak hari itu saya rajin datang berkunjung. Dan seminggu kemudian saya sudah mulai alih usaha. Saya sampaikan kepada istri ,bahwa saya akan mulai berdagang kopi. Tentu saja istri mendukung dengan sepenuh hati dan rasa syukur. Pulang dari menjadi pedagang pengumpul di kampung kampung, saya membawa pulang biji kopi satu karung penuh. Saya serahkan kepada sahabat saya untuk dinilai. Dan hasilnya membuat jantung saya serasa berhenti berdetak selama beberapa detik. Karena saya disuruh mengambil uang pada kasir dan setelah dipotong dengan modal yang dipinjamkan, hari itu saya mendapatkan keuntungan, yang jumlahnya adalah sama dengan 3 bulan saya berkerja sebagai penjual kelapa!
Inilah langkah awal yang kelak mengantarkan saya meraih kesuksesan demi kesuksesan. Dalam waktu 2 tahun, saya sudah bisa membangun rumah sederhana dan meninggalkan kenangan pahit selama tinggal di pasar kumuh. 7 tahun kemudian, saya sudah menjadi seorang Eksportir kopi dan tiap tahun ,saya dan keluarga bisa berlibur keluar negeri.

Catatan: Semua yang saya tuliskan disini adalah cuplikan dari biografi saya. Bahwa untuk meraih sukses itu memang tidak mudah, tetapi selalu ada jalan bagi yang mau bekerja keras dan berusaha. Kalau saya bisa , mengapa anda tidak bisa?
Kerja keras selama 30 tahun, mempersiapkan kami untuk menikmati masa pensiun kami dengan penuh rasa suka cita dan syukur. Diusia 71 tahun, kami masih aktif traveling keberbagai negara. Minimal setiap tahun ,rute perjalanan kami adalah : Wollongong- Perth- Jakarta . Semoga tulisan kecil ini ,setidaknya dapat menjadi inspirasi bagi yang membacanya. Dan bagi saya pribadi, suatu rasa syukur yang tak terhingga bila tulisan saya ada manfaatnya bagi orang lain.

Mount Saint Thomas, 03 Juni, 2014
Tjiptadinata Effendi

Facebook Comments

About tjiptadinata effendi

4 comments

  1. katedrarajawen

    Oerjalanan hidup yang luar biasa Pak Tjipta, ternyata kegagalan demi kegagalan pada akhirnya mmembuat Pak Tjipta bisa menikmati keberhasilan sampai di usia senja, selamat Pak dan sangat memotivasi sekali

    salaman

  2. Tulisan yang menumbuhkan motivasi saya, Pak. Luar biasa!

  3. josephinewinda

    Waduhhh! nggak bisa membayangkan …kaya kisah roman “sengsara membawa nikmat”… waduh jadi malu Oom Tjipta,…saya susah dikit aja ngeluhnya dua hari dua maleeeem! hehehhee….

  4. mmm… begitulah hidup… tetap semangat ya kakakkk :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif