Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Tahun Baru, Berkaca Pada Tahun Lalu

Tahun Baru, Berkaca Pada Tahun Lalu

foto: www.hdwallpapersinn.com

Hmmm,… Saya lebih sering takut menerima tahun baru. Mengapa? Karena masa depan takkan ada yang tahu. Nasib apa yang kira – kira akan menimpa masing – masing dari kita. Sebaik – baiknya orang yang paling baik, tidak jaminan ia tidak akan tertimpa nasib buruk. Sebaliknya, seburuk – buruknya orang yang berwatak jahat mengapa terlihat sering ia beruntung terus dan terlepas dari masalah?

Tahun 2013 bagi saya pribadi ‘cukup mengerikan.’ Banyak hal yang tak disangka terjadi dan menimpa. Bahkan dalam keadaan berusaha baik dan tidak mengganggu orang pun, ada saja orang yang tersinggung dengan canda’an saya! Bayangkan! Saya bercanda dan membuat orang lain tersinggung! Sampe saya bingung, dalam hidup ini harus berlaku apa ya? Akhirnya saya mengerti yang terbaik tetap jadi diri sendiri, masa bodoh orang lain berlaku tidak baik, saya usahakan saya tetap berlaku baik. Bukan demi orang lain, DEMI SAYA SENDIRI.

Tahun ini saya sungguh tidak punya resolusi, selain semakin menggodog kepercayaan kepada Tuhan. Semalam, pergantian tahun saya habiskan dengan menonton televisi sepuasnya hingga lepas midnight. Walaupun kecewa karena tukang martabak telor nggak jualan dan nggak ada botol minuman soda yang menemani. Saya cukup gembira dengan makan roti breadlife dan minum air putih. Menyaksikan kegembiraan banyak orang sambut tahun baru di televisi.

Tahun berganti. Teman bertambah dan berkurang juga. Yang baik dengan saringan waktu akan tetap menjadi kawan baik hingga kini. Yang tidak baik, punya pengaruh buruk dengan berat hati saya lepaskan dan tak ingin larut dalam kesesatan. Seorang teman bertanya liburan kemana, dan dijawab ke Bandung saja. Lalu teman itu berkomentar, “Emang di Bandung ada apa sih? Ngebosenin kan?” Dalam hati, ya ampuuunn. Kapan orang ini mengerti arti ‘ucapan syukur’ yang sesungguhnya? Tapi lagi, diberi kursus oleh Tuhan supaya makin sempurna, panjang usus dan diperluas kesabaran saya. Jadi saya cuma jawab, “mampunya demikian, saya cukup senang!”

Tutup tahun juga ada berita sedih, salah seorang tetangga dikabarkan menderita cancer paru dan ketahuan langsung stadium 4. Tetangga lainnya yang mendengar saja sudah luar biasa sedih dan kebingungan. Sementara yang bersangkutan ketika dikunjungi kabarnya masih senyum dan tertawa – tawa. Sakit rasanya ketika Tuhan seakan “tak adil”.  Tetangga ini adalah lelaki yang sangat baik, anaknya tiga orang dan belum ada yang menikah, yang bungsu SMA. Dia dan istrinya sangat rajin beribadah, tidak pernah mengeluh, sangat sopan dan selalu mengalah kepada orang lain. Bingung, tetapi lagi – lagi saya coba menahan kesedihan dan kesesakan, Tuhan sedang memberikan latihan lagi agar manusia selalu sabar dan tidak menuntut keadilan versi manusia. Karena keadilan yang hakiki adalah versi Tuhan!

Tahun baru tidak membuat saya terlalu bersemangat, karena barangkali ilmu yang sedang saya pelajari kini tidak semudah jenjang – jenjang sebelumnya. Tapi pelajaran yang saya peroleh semoga memperkaya saya di masa depan. Bagi saya pendalaman yang sejati adalah tentang diri sendiri. Saya akan mengerti tentang orang lain dan kehidupan jika saya sudah sangat mengerti tentang diri sendiri dan mampu mengontrolnya dengan baik. Kesedihan dan kegembiraan tidak ada yang mutlak, seperti roda berputar bolak – balik dan naik turun. Ada hari – hari sedih masa SMP dan hari – hari ceria masa kuliah. Ada hari – hari indah di awal bekerja dan hari – hari jenuh ketika rutinitas sudah mencekik. Diantaranya saya harus bertahan, hingga titik akhir cerita saya.

Selamat Tahun Baru semuanya, bahagia disyukuri, kesedihan diambil hikmahnya!

Life is a journey, feel it! :)

J.W.

 

 

Facebook Comments

About Josephine Winda

4 comments

  1. katedrarajawen

    Setelah berkaca semoga tetap cantik ya, Mbak Winda

  2. panjang usus? saya baru dengar nih.
    selamat tahun baru, mbak :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif