Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Mengamuk Tanpa Sebab

Mengamuk Tanpa Sebab

anger-management1

foto : http://www.selfgrowthwithin.com/

Menjaga pikiran positif memang sulit, apalagi ketika kita sedang dirundung masalah. Maka seperti efek domino, seperti itulah kesusahan atau kemalangan berdatangan mengantre, satu dengan yang lainnya. Biasanya lebih karena manusia tidak mampu mengontrol dirinya dalam bertingkah – laku dan mengucap ketika tertimpa kesedihan atau permasalahan yang rumit. Dan bukan karena masalah itu sendiri. Ujung – ujungnya terjadi gelap mata dan bertindak membabi – buta. Bisa emosi. Bisa kriminal. Dibutuhkan pasangan hidup, orang tua, anak dan sahabat yang panjang telinga dan lapang hati jika menemui seseorang yang sedang ’emosi jiwa’ seperti demikian.

Pagi ini tanpa hujan, tanpa angin, seorang kawan mengirimkan pesan singkat yang bernada ketus, mengancam dan menghina. Padahal saya adalah client atau nasabahnya alias juga customer-nya. Walaupun kami berteman, dia seharusnya mengerti bahwa saya telah ‘membayar’ apa yang menjadi kewajiban saya dan ia adalah pekerja ‘mimpi’ yang sedikit – banyak di’untungkan’ dengan adanya perjanjian kontrak atas namanya. Makanya, berhati – hatilah dengan dream book!¬†Bukannya saya menghitung kebaikan saya, tetapi profesionalisme antara hubungan kerja dan pertemanan tetap harus dibedakan. Karena merasa teman, lalu mendadak ia boleh kasar dan marah meledak – ledak tanpa alasan kepada saya? Saya mencoba menilponnya hingga 7-8x mencari jawab atas kemarahannya. Tidak diangkat! Saya mengirim pesan singkat sebanyak 5x secara sopan dan terperinci menanyakan kenapa ia mendadak marah – marah? Tidak dijawab. Yang malu dan merasa bersalah siapa? Apakah saya akan marah? Nggak, saya ingin memeluknya dan saya ingin minum kopi dengannya!

Salah satu pesan singkatnya yang marah – marah itu adalah memerintahkan saya, agar tidak menjelek-jelekkan dirinya. Setahu saya hanya satu orang yang masih terhubung dalam lingkaran pertemanan kami. Jadi kami hanya tersisa tiga orang. Kalau saya kemudian menjelek – jelekkan dirinya kepada siapa lagi? Apakah kepada rumput yang bergoyang? Teman yang satu itu sudah tahu jelas siapa dirinya. Dalam artian tidak ada lagi koneksi yang sama dalam pertemanan kami. Memerintahkan orang lain agar berhenti menjelek – jelekkan dirinya tanpa menjelaskan apa kasusnya, adalah bentuk kekhawatiran bahwa memang namanya sudah jelek?? Reputasi juga dipertanyakan?? Lha, kalau namanya harum buat apa khawatir orang akan menjelek – jelekkan? Sudah ada pepatah bau busuk bagaimanapun juga akan tercium. Dan tentu saja orang juga mampu membedakan bau busuk dan bau yang harum. It’s natural! Sama seperti pada akhirnya kabut akan terangkat, apakah seseorang secara keseluruhan itu baik atau tidak?

Asumsikan bahwa orang lain selalu mempunyai pikiran baik, niat baik dan hal positif bagi Anda, sampai terbukti sebaliknya! Maka, Anda juga akan selalu menjaga diri Anda dari hal – hal yang buruk dan negatif. Selalu menerima adalah kaidah yang saya coba terapkan pada diri saya sendiri. Dikasi sedikit senang, dikasi banyak apalagi, dikasi mewah tentunya sangat bersyukur. Tetapi jika belum apa – apa selalu ada curiga, ada rasa tidak terima, ada perhitungan dan kemarahan, maka hal itu akan menjadi beban dihati. Tentu saja kita semua tidak mungkin menjadi Gandhi atau Mother Theresa, namun selalu ada celah untuk perubahan. Selalu ada kesempatan untuk menjadi orang yang lebih baik. Bukan materi yang menjadi ukuran tertinggi di kehidupan, tetapi rasa bahagia dan memiliki orang – orang untuk dicintai. Itulah harta kehidupan. Mengamuk tanpa sebab atau curiga tak berdasar akan menjadi kanker dalam jiwa Anda. Pernah seorang teman bertanya, “Kamu pake kream apa? Kok wajahmu selalu segar?” Saya menjawab, “Krim biasa saja yang murah. Namun dengan semua orang, saya selalu berusaha menjaga pikiran yang baik dan positif.” Tentu saja jika terbukti sebaliknya, kita tidak perlu terus menjalin hubungan atau relasi dengan org tersebut. Aura kejahatan kadang juga menyeret yang baik menjadi jahat. Baik tidak lalu menjadi bodoh kan?

 

Facebook Comments

About Josephine Winda

3 comments

  1. wah mbak Winda sasaran salah amuk nih… :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif