Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Sakit Kini Bukan Hanya Didoakan

Sakit Kini Bukan Hanya Didoakan

Sakit Kini Bukan Hanya Didoakan  Beberapa waktu lalu tersiar sebuah komentar tajam, "Orang Miskin Dilarang Sakit!" Hal itu mengundang keprihatinan yang mendalam. Banyak orang - orang sederhana yang saya kenal baik, yang tidak mampu berobat secara maksimal.

Sakit Kini Bukan Hanya Didoakan

Beberapa waktu lalu tersiar sebuah komentar tajam, “Orang Miskin Dilarang Sakit!” Hal itu mengundang keprihatinan yang mendalam. Banyak orang – orang sederhana yang saya kenal baik, yang tidak mampu berobat secara maksimal. Sedih rasanya. Bahkan tak sedikit yang tergeletak saja di kasur rumahnya menunggu detik – detik keabadian. Yang tergeletak di rumah sakit juga menunggu detik – detik mesin cash register berhenti berdenting. Chaching! … Chaching!…Pengalaman menunggui ibu sakit selama berbulan disebuah rumah sakit swasta di Jawa Tengah cukup menghantui saya. Dobel derita karena yang pertama setiap hari menangisi ibu, menyaksikan penderitaannya. Yang kedua depresi karena besarnya biaya rumah sakit yang membludaks setiap saatnya.

Saya tak mampu menjelaskan dengan detail saat – saat itu karena memberikan kengerian yang luar biasa. Apapun akan dikeluarkan dan dibayarkan asal ibu sembuh. Sayangnya hingga berbulan jawaban yang saya dapatkan hanyalah, “Tidak dapat ditentukan kapan kesembuhannya. Semua berpulang kepada proses penyembuhan diri sendiri dari dalam. Karena perawatan dan obat yang diberikan sudah sangat maksimal.” Semua jenis treatment dan hampir tiap minggu selalu ada pengecekan laboratorium. Peristiwa semacam ini seperti digoda dan dipermainkan oleh Sang malaikat maut. Yuk, .. hompimpa beberapa kali!…Siapa yang menang? Bolak – balik, kadang ada harapan lalu esoknya surut. Kemudian ada harapan lagi, berikutnya padam. Aih, …wahai malaikat maut. Dalam kesedihan dan detik akhir tiap manusia, engkau selalu mempermainkan orang – orang yang mencintai manusia tersebut. Tertawa mengejek sambil hompimpa!

Beberapa minggu ini saya mengantar suami berobat ke rumah sakit. Ketika sebelumnya saya mengisahkan tentang kekuatan pikiran, saya juga tahu tidak semua orang mampu menguasainya. Saya sendiri lebih sering terpeleset pada emosi kemarahan, sementara suami sering terjatuh pada pola pikir yang diam – diam terbeban. Saya ingat dulu ibu sering mengatakan bahwa orang yang selalu gembira dalam setiap keadaan, akan selalu diberikan kesehatan! Saya memang tidak selalu gembira, tetapi saya jarang sedih. Setiap kali merasa sedih, saya coba untuk membelokkan kesedihan pada hal – hal yang menyenangkan. Bisa jadi sedih, sejam atau dua jam. Sehari atau dua hari. Tapi janganlah sampai sedih hingga seminggu dua minggu, bulanan bahkan tahunan. Itu sih judulnya merana! Tetapi kembali lagi setiap individu berbeda, secara genetis, secara pola asuh, pendidikan dan pola pikir. Itu semua mempengaruhi kerangka pikir seseorang.

Pertama keluhan, kami pergi ke dokter umum yang biasa menangani kami sekeluarga. Dan hasilnya sakit maag atau lambung seperti biasa. Untuk sakit punggung dokter menyarankan berenang. Saran yang baik. Berenang adalah olah raga yang mudah, murah dan menyenangkan. Asal jangan berenang bersama hiu! Seminggu masih saja mengeluh kesakitan, akhirnya pergi ke dokter spesialis penyakit dalam di sebuah rumah sakit ternama. Dokter yang ditemui sangat ramah dan menyenangkan. Kemudian dokter menyarankan untuk diperiksa ini dan itu. Kami menyetujui saja dan mengambil surat pengantar untuk pemeriksaan lab. Ketika keluar dan menuju kasir, mesih cash register mulai lagi berdenting. Chaching!,… Rumah sakit swasta Jakarta, kunjungan berapa duit? Administrasi berapa duit? Chaching!…

Keesokan harinya dua hari berturut – turut periksa lab. Darah, kencing, pemeriksaan perut dan rontgen tulang. Alasannya adalah untuk mengamati organ dalam dan jika ada penyimpangan yang menonjol dari kerja organ – organ tersebut. Nah, tadinya ingin ke laboratori di dekat rumah. Sayangnya tidak lengkap, akhirnya kembali ke rumah sakit yang bersangkutan. Wah, suara mesin cash register bukan lagi chaching – chaching,... Ini sih,..tring-tring-tring-tring-tring,…. Saya tutup mata dan fokus pada pemikiran bahwa kesehatan adalah yang terutama. Sementara suami masih saja merasa kurang sehat dan murung. Ketika hasil muncul dibaca pula oleh sahabat saya yang adalah dokter umum dan dikatakan, bagus. Malamnya masih ke dokter umum yang biasa kami jumpai. Sama juga disebutkan bahwa cukup normal dan justru jangan terlalu bernafsu untuk mencari segala perihal penyakit yang sebenarnya mungkin hanya sakit biasa. Suami tetap murung dan tidak puas.

Beberapa hari kemudian kembali menjumpai dokter spesialis yang memberikan saran untuk memeriksa berbagai fungsi tubuh. Ketika suami mengeluh masih saja kurang nyaman, lalu disarankan pemeriksaan lain. Dengan mesin lain dan alat – alat canggih lainnya. Atau jika berminat bisa minta second opinion dokter spesialis lainnya. Ditawarkan demikian. Saya pasang wajah menyerah, “Kurang tahu harus bagaimana?…” Akhirnya dokter menyarankan untuk mengurangi beban pikiran dan lebih bersemangat sehingga tubuh dengan sendirinya akan membangun sel – sel pertahanan atau barrier yang dibutuhkan. Bahkan disarankan pergi berlibur. Jika saya amati, semua dokter sebenarnya hanyalah penolong kedua. Penolong pertama adalah diri sendiri. Hidup sehat, makan bersih dengan gizi baik, olah tubuh dan pikiran terjaga tanpa beban. Itu saja! Suami cukup gembira setelah diresepkan beberapa jenis obat dengan bunyi chaching – chaching – tring..! Sekarang keadaannya membaik, terlihat gembira dan sehat kembali. Mohon didoakan! Walaupun memang pada jaman sekarang, sakit tidak hanya didoain namun juga diduitin oleh mesin cash register. Chaching!….

Foto : earthangels-angeliclightworkers.com

Facebook Comments

About Josephine Winda

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif