Home » PENDIDIKAN » Edukasi » Filosofi » Sungguhkah Untung dan Rugi?

Sungguhkah Untung dan Rugi?

Hari ini saya mencoba mengajukan klaim asuransi jiwa untuk ibu. Hampir setahun baru saya berkesempatan melakukannya. Mengapa? Banyak masalah yang terjadi, namun barangkali yang terutama adalah hati yang enggan memproses hitung – hitungan untuk perginya sebuah nyawa, yang merupakan ibu kandung sendiri. Ada rasa malas yang luar biasa ketika dihadapkan pada kesulitan proses klaim asuransi kematian ibu. Saya sempat berpikir bahwa barangkali kesulitan ini adalah bayaran yang harus saya terima untuk kurangnya bakti saya kepada ibu. Saya berpikir masa bodoh dengan apa yang akan terjadi dengan uang premi sekian rupiah yang sudah saya setorkan. Bukannya saya berniat membuang – buang uang. Tapi hati saya sakit karena ingat nyawa ibu yang hilang. Proses modernisasi gaya hidup manusia – mengganti si mati dengan sejumlah uang. Seolah hal itu mampu menambal kesedihan. Ya kah? Padahal dulu saya sendiri yang ngotot membuatkan polis asuransinya.

Dihadapkan pada permasalahan ini saya makin belajar mengenai untung dan rugi. Saya jadi bertanya – tanya sendiri. Sungguhkah ada untung dan rugi dalam kehidupan ini, ketika kita sadar bahwa semuanya adalah pinjaman dari Ilahi? Apa yang akan kita bawa mati? Tidak ada! Kecuali kenangan dan amal bakti. Kecintaan orang – orang yang akan selalu mengenang si mati. Banyak sekali pusara tak berjudul atau abu kremasi yang bertebaran di laut. Lambat – laun hilang dan dilupakan orang. Dan itulah kehidupan! Masihkah kita berpikir tentang untung dan rugi? Kalaupun iya bahwa pusara kita besar-megah dan indah. Lalu sederet anak cucu datang menyambangi pada hari – hari penting. So what? Tokh, tetap saja mati, diam dan bisu.

Saya adalah orang yang cukup terorganisir dalam melakukan segala sesuatu. Baru akhir – akhir ini saya belajar menjadi orang yang lebih spontan. Saya ingin lebih seimbang/ balance dalam menjalani kehidupan. Karena jika hanya berat pada satu sisi saya merasa takkan mampu bertahan dari segala arus dan badai kehidupan. Once upon a time, saya begitu terorganisir sehingga saya menghitung segala perihal dari asuransi, cicilan ini-itu, arisan ini-itu, bahkan sumbangan pun dihitung. Jika mungkin saya ingin semuanya terorganisir baik, sehingga semua saku porsi biaya mampu terisi secara berkala. Iya, cicilan ABCDE diikuti semua. Bisa nggak bisa harus bisa. Pada akhirnya hal ini menjadi bendungan jebol yang bochor. Karena laju inflasi dan pendapatan tidak lagi seimbang. Biaya makin banyak, gaya hidup makin beragam sementara pendapatan justru makin sulit. Ketika saya mulai menghitung untung dan rugi hasilnya tentu ‘galau’ abis. Lupa, menafikan unsur Tuhan dengan segala mukjijat dan kebesaranNya. Manusia seperti saya, mencoba mengatur hidupnya sendiri 100%. Yah, … mana mungkiiiiiin!

Dulu rugi se-sen saja, saya ‘ngomel’nya bisa tujuh hari – tujuh malam. Merasa jengkel, merasa bahwa jerih-payah, kecerdasan intelektual –hitungan keuangan saya yang top markotop ternodai. Dengan ditipu orang, dengan rumah kemalingan, dengan jatah promosi karir yang disikat orang lain. Saya tidak terima –ngamuk! He-he,… Makin kesini, saya mengerti bahwa sesungguhnya tidak ada untung dan rugi secara mutlak. Yang ada hanya pergeseran – pergeseran keberuntungan dan ujian – ujian sesaat. Semua diputarkan agar merata. Jika suatu saat ditipu orang, saya mulai berpikir itu adalah upah untuk tidak bertemu manusia penipu semacam itu lagi. Jika rumah kemalingan, itu adalah karena saya kurang beramal.

Di rumah ibadah dulu, saya jarang memberikan uang ke kotak amal. Alasannya konyol bin kocak. Saya tidak suka memegang uang, dikarenakan jorok, bau dan banyak bakteri-nya! He-he… Sejak ibu meninggal dunia, saya mencoba lebih rutin memasukkan uang sumbangan ke kotak amal. Kadang saya bungkus tissue, kadang saya harus cuci tangan, kadang menggunakan cairan pembersih sehabis memegang uang. Saya berharap walaupun secuil akan ada kebaikan yang diterima orang disisi lain kehidupan. Termasuk untuk ibu saya di surga. Agar Tuhan mencatat bahwa anaknya sudah berusaha berbuat baik untuk membayar jasa ibu yang sungguh jauh dari upah sebenarnya. Orang – orang menganggap saya sudah cukup berbakti kepada ibu, tapi saya lebih mengerti diri sendiri bahwa saya lebih banyak mengecewakan ibu.

gainKecintaan pada uang. Hitungan yang mengharuskan selalu untung. Itu tidak mungkin. Akan mungkin jika pada prosesnya kemudian digunakan cara – cara yang kurang baik. Seperti menipu, menjerumuskan, membujuk, mempengaruhi, korupsi dan sebagainya. Kenapa? Karena orang lebih cinta uang daripada ingin dikenang sebagai orang yang baik dan berbudi luhur. Tokh, kalau sudah mati ya sudah; tidak ada apa-apa lagi. Seperti pepatah lama Dagadu, inginnya “MUDA FOYA-FOYA, TUA KAYA-RAYA, MATI MASUK-SURGA.” Masalah muda dan tua hidup enak bisa jadi terpenuhi, tapi masalah mati masuk surga? Apakah sudah ada email dari alam sana yang mengklarifikasi? Saya teringat masa kuliah saya di bidang ekonomi, yang mati – matian saya gunakan untuk mengatur keuangan pribadi. Tetap saja, hasilnya… bochor-bochor-bochorrr… Sekarang bukannya ingin menghambur-hamburkan uang. Tetapi saya berusaha menanamkan kesadaran, untung dan rugi hanya perputaran nasib. Kalau kita sedang untung jangan lupa bagikan pada yang lain. Kalau sedang merugi siapa tahu ada yang akan membagi rejeki? Lebih baik gunakan peribahasa lama, “Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, manusia mati meninggalkan nama.”

Suatu hari kan kutuliskan sebuah buku untuk ibuku, … agar namanya dikenang selalu,…. 

foto: quotes-pictures.vidzshare.net

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Wah ditunggu bukunya tentang ibu ya Ci Jo..untuk kutipan ini :Saya tidak suka memegang uang, dikarenakan jorok, bau dan banyak bakteri-nya! saya sependapat hehhehe..makanya anak saya selalu saya suruh cuci tangan jkalau habis pegang uang

    • josephinewinda

      ho’oh kenapa yaa duit kertas apalagi yang beredar di negara kita…suka pada dekil + komplet kumaaan.. hicks…makanya lama lama e-cash sounds better… ngga repot….

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif