Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Jomblowan-Jomblowati

Jomblowan-Jomblowati

Makin hari saya amati ternyata masih banyak juga kawan-kawan saya yang berstatus jomblowan dan jomblowati. Kadang-kadang saya ikut bingung bin pusing. Bukan karena ikut-ikutan pengen ngejomblo. Tapi boleh juga ya, dikarenakan saya butuh waktu untuk menulis? Kalau seseorang menjomblo dan tidak berkeluarga tentu waktunya akan sangat berlimpah. Tapi tentu saja tidak usahlah! Karena saya sudah berkeluarga disyukuri saja, memiliki keluarga walau kecil dan sederhana. Untuk ukuran orang yang berkeluarga dengan satu anak, ternyata saya juga termasuk cukup aktif dan masih sering bergaul dengan kawan-kawan saya. Agak malu mengakui, tetapi bahkan hingga ke teman SD saya masih tetap berhubungan baik. Jadilah saya masih sering hang-out kesana – kemari. As I said, untuk penulis yang menyukai kisah kehidupan seperti saya, bertemu teman-teman cukup menginspirasi. Daripada saya sekedar bengong dihadapan pohon kaktus yang ada didepan rumah lalu berharap inspirasi muncul dari situ? Yaelaaaah? Mana bisaaaa….

single

foto: www.searchquotes

Thus, balik ke kenyataan bahwa teman-teman saya ternyata banyak yang masih jomblo. Kebanyakan wanita. Yang pria ada juga sih, tetapi tidak sebanyak yang wanita. Nggak papa kali ngejomblo? Nah, yang ini saya agak bingung menjawabnya. Pasalnya putri tunggal saya saja sudah menginjak usia remaja alias ABG. Bagaimana mungkin banyak teman-teman saya yang masih saja menjomblo? Kapan mereka akan berkeluarga dan memiliki anak-anak juga? Pada usia berapa mereka akan mulai membesarkan anak? Lalu status jomblonya juga macam-macam. Ada yang berpisah dengan pasangannya, ada pula yang memang sejak dulu sendirian saja. Sikap dalam menghadapi masa jomblo juga berbeda. Ada yang super acuh, sama sekali tak kepikiran dan tak keberatan. Ada yang pasrah. Ada yang terus mencari. Ada yang tiap kali jadian gagal terus. Ada bahkan beberapa teman yang masih sangat belia, gadis-gadis muda. Mungkin separuh usia saya. Itupun sudah bertanya-tanya, “Kakak ada kenalan nggak? Pria yang baik-baik gitu lho?…” Waduh saya mau jawab get a line, “Ya ampun deeek,… teman-teman yang seangkatan saya saja masih pada ngantre nunggu giliran? Ini kenapa yang masih muda sudah pada resah sih? Astaga?…”

Kalau dikatakan jomblo itu pilihan. Tidak sepenuhnya benar! Siapa sih yang seumur hidup mau sendirian terus? Hanya bercakap-cakap dengan kucing atau pohon kaktus yang jadi tanaman kesayangan? Kita tidak akan muda selamanya. Waktu berlalu dan usia merambat naik. Encok-pegel linu mulai bermunculan mengganggu. Lalu ketika ditanya, “Kakak tips-nya bagaimana sih menemukan pasangan hidup?”… Waduh ini juga sulit menjawabnya. Kalau hanya melihat dari segi fisik : alias milih yang keren, ganteng, aksinya segudang udah mirip pangeran dari langit. Takutnya hanya artificial, menikah dua bulan lalu aslinya muncul, Jggheeer! Kaget, nggak tahan lalu bubar. Kalau milih mapan, duitnya banyak dan lain-lain. Takutnya hanya melihat dari sisi materialitas tapi tidak ada chemistry. Asal mapan, asal ada yang menafkahi dan ada yang memberi makan. Apa iya itu pedoman untuk menikah? Pikir lagi deh! Kalo yakin ya sudah, silahkan dipilih yang mapan. Suka engga suka, nanti dipaksakan sajalah. Mungkin dalam perjalanan waktu bisa jatuh cinta? Doooh,… ?? Pokoknya sulit bagi saya mengomentari situasi berjomblo dan bagaimana menyiasatinya.

Pilih-pilih pasangan ada benarnya. Tetapi terlalu lama memilih, akhirnya kereta sudah liwat? Usia sudah beranjak jauh? Masih hendak memilih-milih? Siapa yang hendak dipilih? Suami orang? Atau istri orang? Yang jomblo? Hayyaah…sisanya brondong dan cabe-cabean? Doooh,..?? Bagaimana ini? Hmmm,.. Saya tidak yakin bahwa saya adalah penasihat cinta yang baik. Mungkin bahkan saya sering pesimis dan sedikit sinis tentang cinta. Ini karena perpisahan ayah dan ibu saya, mau tak mau berdampak pada sikap saya sendiri. Tetapi singkatnya demikian. Pada usia 20-an, rajin-rajin lah berputar (ngider bin mingle) dalam komunitas sosial. Amati perilaku lawan jenis. Kira-kira seperti apa mereka? Sikap dan perilaku. Soal penampilan? Haduh ke salon aja deh! Asal ada duit pasti beres! Penampilan itu hanya bungkus luar. Kalau mau keren ya bisa, kalau mau berantakan ya monggo. Itu pilihan dan bisa disiasati. Tetapi sikap dan kepribadian sangatlah penting untuk menilai seseorang, khususnya lawan jenis yang hendak dijadikan pasangan. Itu saja, terus perhatikan segala sikap dan perilakunya. Kira-kira cocok tidak? Dengarkan suara hati,..

Lalu rapikan sikap dan pribadi Anda sendiri! Caranya? Introspeksi diri, perdalam ilmu agama. Ketika sikap kita sendiri sudah mapan/menetap lebih mudah untuk disesuaikan dengan sikap orang lain. Namun ketika sikap kita masih tidak jelas ala ababil, bagaikan abege labil. Waduh, bagaimana akan menyesuaikan diri dengan orang lain? Sebentar-benar bertingkah layaknya drama queen? Nangis, lempar bantal, lempar guling. Lari ke kebun. Nyemplung ke sawah? Jyaaah yang liat aja pusing? Siapa yang mau naksir? Hihi..  Jangan bertingkah aneh dan banyak menuntut. Itu satu-satunya syarat untuk menemukan pasangan. Jangan batasi calon pasangan pula. Mau yang gini, mau yang gitu. Iya kalau situ Adam Levine atau Taylor Swift? Kalau disitu judulnya “B” alias biasa-biasa saja, kenapa rewel sekali dalam mencari pasangan hidup? Itu ketika masa hunting di usia 20-an bagi wanita. Well-well-well,… Berita baiknya, kaum pria masih laku saja di usia 30-an, 40-an dan selanjutnya! Wanita terbatas jam tayang; karena jika hendak memiliki anak/keturunan usia yang terlalu matang sangat riskan bagi keselamatan jiwa. Bisa sih, tetapi ada resiko.

Bagaimana yang kadung menjomblo hingga usia pas-pasaaaaaaaaannn banget? Tenang, banyak jalan menuju Roma. Komunitas sosial dan rajin ngider tetap menjadi sarana to find someone. Tetapi jalan lain yang bisa dilakukan juga banyak, bisa melalui perjodohan (referensi dari orang-tua/kerabat), melalui biro jodoh, melalui website pencari jodoh. Untuk wanita usia matang, perjodohan dengan pria asia sedikit sulit. Karena adat timur masih mensyaratkan sepasang pasutri harus memiliki keturunan. Tetapi pria asing/ bule banyak yang lebih terbuka pemikirannya dan tidak keberatan berpasangan tanpa memiliki anak/keturunan. Tujuannya hanyalah companionship atau saling menemani hingga usia tua menjelang. Mungkin aneh bagi masyarakat timur tetapi hal ini diterima bagi masyarakat barat. Pria yang lebih muda, wanita lebih tua? Bagus juga! Tetapi saya tidak pandai mendeteksi bagaimana sih pria muda yang bersikap dewasa itu? Lha, kadang yang sudah berumur saja banyak yang kelakukannya masih seperti anak-anak? Sorry to say,…

Tetapi itulah seninya mencari pasangan hidup. Sulit dijabarkan dengan deskripsi kata-kata yang tepat. Karena semua ceritanya berbeda-beda. Cara penemuannya pun berbeda. Hmmm, ..seperti orang memasak. Harus tahu ingin masak apa? Tambah garam, tambah cabe, cemplungin kangkung. Whatever-lah yang penting perjodohan terjadi, pernikahan berjalan sakral dan tetap berada pada jalur yang benar. Perlu diingat barangkali jika Anda menemukan seseorang yang Anda pikir sangat Anda cintai. Tanamkan dalam benak bahwa Anda akan sanggup bertahan dan berusaha bertahan dalam segala situasi. Tanyakan pada diri sendiri, “Besok-besok kalau dia berubah jadi aneh, edan, gendheng, ajaib, gemblung, bahkan berubah menjadi mahluk aliens? Kira-kira saya akan mampu bertahan dengannya atau tidak?” Menjadi jomblowan atau jomblowati jangan lalu dijadikan beban. Aduuuuh,… kapan jodoh saya akan tiba? Atau justru keenakan gaul abisss,.. lalu lupa mencari pasangan! Diam-diam saja, santai. Be yourself, the real you. Jadilah diri sendiri yang sesungguhnya, who knows someday Anda akan bertemu prince charming atau beauty queen? Maaf saya bohong! Tidak ada orang yang sempurna. No such a thing like on the fairytale. Kisah cinta sempurna hanya ada dalam dongeng disney! Mengapa kita berpasangan? Karena diharapkan saling menyempurnakan. See…?

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. waah artikel yang menarik dan inspiratif :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif