Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Tempat Akhir Menutup Mata?

Tempat Akhir Menutup Mata?

Seberapa besar Anda mencintai Indonesia? Jika pertanyaan itu diajukan, bagaimana Anda akan menjawabnya? Mungkin Anda akan berkata lebay. Belahlah dadaku, sebesar itu cintaku pada tanah airku! Halah, maju perang juga nggak pernah, tetapi mengaku patriot tanah air! Atas dasar apa meng-klaim seperti itu? Sulit untuk mencintai sesuatu yang tidak sempurna atau bahkan jauh dari sempurna. Sulit pula berpura-pura menipu diri bahwa segala sesuatu yang ada pada masa kini sudah sangatlah hebat. Kemajuan itu ada, tetapi masih banyak pula yang harus dibenahi di negara kita ini. Semua tergantung pada siapa presidennya? Nggak juga! Rakyat juga harus tetap berusaha. Demi kemajuan Indonesia kita bersama.

Duh, gimana ya menceritakannya? Saya pernah mengalami masa penyiksaan yang sangat panjang! Yang disebut dengan penjajahan justru pada jaman kemerdekaan. Penjajahan terselubung masih ada, lho! Dan biasanya adalah penjajahan dalam bidang ekonomi. Manusia menjadi terjajah oleh karena kebutuhan ekonominya yang belum sejahtera. Dari pengalaman itu, saya belajar mencintai Indonesia lebih dalam lagi. Menemukan kesadaran, apa sih pentingnya saya mengaku sebagai orang Indonesia? Sebagai wanita Indonesia dan produk Indonesia asli? Supaya bangsa lain sadar bahwa: orang-orang yang naik metromini berjubelan ini, orang-orang yang makan nasi uduk dan jeroan ini, orang-orang yang masih mencuci disungai ini, adalah bangsa yang besar! Sebagian dari kita sudah mulai menunjukkan cakarnya, menampakkan taringnya. Orang-orang muda dan orang-orang Indonesia yang berprestasi di kancah internasional ternyata sangat banyak! Lha wong penduduknya juga banyak. Sukunya pun beragam. Otomatis sebagai lahan sumber daya manusia, Indonesia sangatlah kuat dan potensial. Hanya saja pendidikan yang belum merata dengan baik. Sehingga seolah sebagian dari kita masih seperti masyarakat tertinggal.

Saya tidak pernah hidup di tahun ’45 atau sebelumnya. Bahkan ketika nenek bercerita tentang masa lalu, saya juga tak dapat mengingat dengan baik apa sebenarnya kisah di masa penjajahan dahulu? Tetapi saya yang pernah mengalami ‘penjajahan modern’ dimana bangsa lain dengan semena-mena memperlakukan saya seperti pesakitan. Jadi terbayang masa penjajahan yang sesungguhnya di tahun 1945 itu tentu berlipat rasa sakitnya. Semalam saya menonton berita televisi tentang pembantaian oleh Westerling. Seorang ibu sepuh dari Sulawesi Selatan hingga kini masih saja menangis sambil memegang sebuah nisan. Rupanya ia terkenang ayahnya yang tewas dibunuh oleh Westerling dan kelompoknya. Oleh karena darah para pahlawan di masa lalu, maka kini kita merasakan alam kemerdekaan.

Sayang seribu sayang, banyak yang bersantai dan bertopang dagu di masa kemerdekaan ini. Asal-asalan dalam mengisi kemerdekaan. Bermalasan bahkan berbuat onar. Padahal begitu banyak pahlawan dan para pendahulu yang tewas oleh karena usaha mereka untuk merebut kemerdekaan. Dijajah itu sangatlah tidak enak. Hingga kini saya masih ketakutan. Dan sama sekali tak ingin kembali terjebak pada perangkap masa lalu. Penjajahan merampas hak manusia untuk menentukan nasibnya sendiri. Untuk melakukan apa yang terbaik menurut dirinya. Lalu apakah kita tidak ingin terus memperjuangkan kemerdekaan ini? Apakah kita akan berhenti disini saja? Bersantai, mainan gadget, chatting dan terus bermalasan? Apa balas budi kita kepada para pahlawan negara? Apa dedikasi yang akan kita berikan untuk mengisi kemerdekaan? Apakah dengan berpasrah saja? Tentu tidak!

Sesama orang Indonesia terkadang malu mengakui orang Indonesia lainnya. Karena menganggap sebagian yang lain masih primitif, masih barbar, bahkan dianggap berpotensi melakukan tindak kriminal. Sampai kapan akan terus begini? Masuk dalam perangkap adu domba sejak jaman Belanda. Devide et impera? Jangan biarkan bangsa Indonesia kompak, kalau bisa terus saja dibuat ricuh. Bangsa yang besar, suku yang beragam, kecerdasan dan keahliannya pun pasti komplit! Selama mereka sibuk dengan perseteruan, saling curiga dan menjatuhkan. Selama itu pula mereka tidak akan pernah muncul menjadi pemimpin dunia. Nah? Masihkah kita akan terus meributkan ideologi, suku, ras dan agama? Masihkah kita akan terus membuat masalah satu dengan yang lainnya? Jika demikian, kapan majunya bangsa ini?

Pandang dari sisi yang berbeda. Ketika Indonesia menyatu dari Sabang hingga Merauke. Mencintai seluruh ornamen dan keunikan setiap suku, ras dan agama yang ada didalamnya. Ketika itu pulalah anyaman kebangsaan ini terjalin dengan kuat dan indah. Dan saat itu pulalah Indonesia siap untuk terus maju menjadi pemimpin dunia. Tidak yakin? Saya yakin bisa! Orang Indonesia apa sih yang engga bisa? Dari hidup susah dan terpojok, hingga berpikir taktis dan strategis. Selalu ada putra dan putri bangsa yang sanggup melakukan keahlian khusus!

independece

foto: www.gamesinasia

Ketika mengenang ‘penjajahan’. Rasa perih di dada masih ada. Rasa tertindas. Kesewenangan. Otoriter dan tangan besi. Keputusan yang hanya satu arah sifatnya. Manusia yang dikendalikan seperti boneka. Bahkan ucapan dan percakapan yang diatur agar tidak menyinggung atau menyimpang dari yang digariskan. Sangat melelahkan! Beruntung saya tidak mendapat aniaya fisik. Saya hanya teraniaya secara mental yang membuat depresi dan ketakutan. Ketika itu rasanya masa depan tidak akan pernah ada, karena saya selalu berada dalam kerangkeng. Iya, menakutkan! Maka ingatlah selalu apakah Anda Padang, Batak, Aceh, Manado, Ambon itu tidak penting. Kita semua adalah orang Indonesia. Yang memperjuangkan hal yang sama, kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Dirgahayu RI-ku! 69 Tahun usiamu dan kian berseri pamormu!

Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan Bunda

Tempat berlindung dihari tua,…

Tempat akhir menutup mata,…

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Dulu saya tidak begitu memaknai, tetapi bagaimana pun Indonesia adalah jodoh kelahrian kita dan itulah tanah air kita di mana kelak kita akan menutup mata, bukan begitu Ci Jo?

    Disana tempat lahir beta, dibuai dibesarkan Bunda

    Tempat berlindung dihari tua,…

    Tempat akhir menutup mata,…

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif