Nyekar

Menulis judul pendek itu adalah spesialisasi Ko-Kat alias Katedrarajawen. Saya jarang menulis judul pendek karena mungkin supaya terdengar sedikit rumit, saya suka judul yang panjang. Nanti dikira pikiran saya pendek juga? hehe-..Tapi kali ini saya terpaksa memilih judul yang sangat pendek dan dengan mood yang kurang enak menuliskannya. Sembari mengantuk tetapi daripada sirna dari ingatan, saya merasa harus menuangkannya sekarang.

Dua minggu yang lalu saya pulang kampung. Sendiri saja. Tadinya ingin pulang bertiga tetapi kebetulan ada teman yang ingin pulang kampung. Jadi untuk menghemat biaya, saya pulang sendiri saja. Suami dan anak tidak jadi ikut. Saya kemudian jalan berdua dengan kawan yang saya kenal sejak TK. Ia ingin pulang untuk wisata kuliner dan mampir ke Semarang bertemu kakaknya. Saya ingin pulang untuk nyekar dan mengurus dokumen ibu. Kami menjadi teman seperjalanan yang menyenangkan.

Memory,Treasure

foto: afamileeaffair.blogspot.com

Setahun lalu ibu meninggal dunia, tepatnya 11 Juli 2013. Hari-hari itu terasa masih kemarin tetapi sejatinya telah berlalu dalam 1 detik keabadian. Tiap kali mengenang ibu dada rasanya sesak dan kesal. Saya sudah dinasihati sejuta umat untuk mengikhlaskan dan seterusnya, didoakan agar sabar, dikasih wejangan agar tabah. Mungkin yang belum hanya dijampi sambil disembur, which is saya jelas ogah! I miss my mom a lot! Mengenang ibu yang terbaring tiga bulan dirumah sakit. Melihat diri saya sendiri tidak mampu berbuat apa-apa. Menyesalkan saya bukan dokter dan suami saya bukan dokter, wah banyak penyesalan! Padahal dokter-dokter di rumah sakit juga sudah sangat baik dan sibuk melayani saya seperti finalis putri remaja. Apa yang saya minta langsung dilakukan. Tetapi kenapa ibu meninggal juga? I know she is old but not that old,… Singkatnya, takdir!

Tapi yang saya sangat-sangat-sangat sesalkan. Saya kurang banyak mencintai ibu, kurang banyak membalas kebaikannya, kurang banyak memberikannya kebahagiaan dan jelas sangat kurang memberikan materi apapun. Ibu yang lebih banyak memberi untuk saya. Dulu melihat film tentang ibu dan anak, saya cukup merasa haru. Tetapi sekarang saya menjadi anak yang kehilangan ibu satu-satunya, yang sangat baik dan luar biasa, saya sangat-sangat-sangat menyesal. Kadang saya berpikir apakah ada cara membangkitkan ibu kembali? Cara berpikir saya mulai melenceng seperti nyi blorong? Jadi harus saya luruskan kembali. Tidak ada!

Saya harus menerima, menerima dan menerima kenyataan. Saya masih berpikir bagaimana cara membalas kebaikan ibu. Jadi saya harus extra hati-hati berpikir untuk arus mengembalikan kasih sayang ibu dengan cara yang berbeda. Mungkin dengan cara mendidik putri saya lebih baik lagi. Dan menjadikannya seorang putri yang double lebih kuat daripada saya. Orang-orang lain kehilangan ibunya tetapi masih punya ayah dan mungkin saudara-saudaranya. Saya kehilangan ibu dan rasanya ibu saja. Saya tidak dekat dengan adik dan tidak kenal baik dengan ayah. It’s complicated kata status di FB!

Acaranya nyekar tetapi sedikit gembira juga ketika pulang kampung karena selain bersama dengan kawan masa kecil di perjalanan. Di kampung lebih banyak kawan lagi yang muncul dan menyambut kami. Bahkan ada kawan yang baru saja pulang dari Eropa itu. Lalu kami pergi ke pantai bertiga. Ibu saya dikremasi dan abunya ditebar ke laut. Jadi saya ingin kelaut dan menebar bunga. Lucunya perjalanan ke laut rupanya diantar oleh kawan yang dari Eropa dengan Alphard (lagi-lagi ndeso, belum pernah naik Alphard apalagi dengan supir). Padahal saya pikir ia akan membawa mobil biasa saja, yang lapuk dan tua juga tak masalah. Berasa putri-putri kecamatan Wonokromo, yah kami bertiga happy sepanjang jalan. Tetapi perjalanan ke laut sendiri ternyata tidak mudah, ada rintangan.

Ketika menjelang pantai jalan utama terendam air, karena rob (air laut yang pasang/naik ke darat). Mobil yang rendah tidak dapat menuju, terpaksa berputar. Ketika akhirnya berhasil masuk. Pantainya kurang terawat, panas dan sunyi. Ingin pergi ke pantai yang ada disisinya, tetapi keadaan sama juga. Tidak dapat dilalui karena air masih pasang. Akhirnya kami tinggal di pantai yang tak terawat itu, tokh misinya tabur bunga. Tidak ada pantai pasir. Karena sudah sering pasang tinggi, tepian pantai ditahan dengan bongkah-bongkah batu yang besar. Kami terpaksa berdiri di bongkah-bongkah batu itu berdua. Kawan yang dari Eropa tidak berminat ikut tabur bunga. Anehnya ketika saya mendekat ke laut ombak kian membesar dan menampar-nampar. Tamparan ombak begitu kuat hingga pakaian basah dan air terciprat ke wajah saya. Ketika saya mencoba berdiri di sebuah batu paling depan, begitu terinjak ternyata sangat licin! Hampir saja saya tercebur kelaut jika tidak ditangkap oleh kawan saya!

Lalu kami menabur bunga hingga habis. Bunganya memang tidak banyak. Tetapi pikiran saya sempat kosong ketika menabur bunga. Apa yang ibu rasakan sekarang? Apakah ia sedih dan marah? Apakah ibu rindu? Mengapa ombak menampar keras bahkan hingga menyiram wajah saya? Mengapa saya hampir tercebur kelaut? Pertanyaan-pertanyaan muncul dengan sendiri dalam benak. Dan saya juga tidak tahu jawabannya, karena tidak bisa berkomunikasi lagi dengan ibu. Tetapi dapat saya nasihatkan bahwa siapapun yang masih memiliki ibu harus mencintainya dengan sepenuh hati. Ibu memiliki tali pusat yang pernah tersambung pada raga kita. Ia mengorbankan banyak hal ketika menjadi ibu. Itu jarang disadari oleh anak-anak. Saya tahu karena saya berlaku sedikit egois dengan hanya memiliki satu anak. Maka tersebutlah, bahwa surga ada ditelapak kaki ibu. Detik ia menjadi ibu, ia menyisihkan nyawanya sendiri. Dan itu diluar perjuangan, keringat, sakit hati, harta, harga diri, dst. Miss you mom, it’s been a year.

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Sayang memang penyesalan selalu datang belakangan bukan di depan, Ci Jo, sekarang itulah yang saya pikirkan bagaimana bisa memberikan hal yang berarti untuk kedua orangtua yang masih ada. Kadang kita tak menyadari bahwa alam melalui segala gerak geriknya seringkali mengingatkan dan memberikan pengajaran kepada kita dan itu tergantung bagaimana kita memaknainya atau sekadar takhayul. Oh rupanya penulisan judul diperhatikan toh? Dulu saya justru suka dengan judul yang pandang dan bermakna hehhe

    • yuppp beruntungnya yaa Ko-Kat ortuuu masih kompleeet… penulisan judul mungkin tergantung penulisnya….saya hanya bercanda saja..kalo yg nulis ko-kat dikasi judul “Brooot” pasti isi tulisannya juga bagus…hahaha…pisss yoooohttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif