Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Contoh Dari Atas Ke Bawah

Contoh Dari Atas Ke Bawah

annefrank

foto: fabulousfunctions

Mencontoh itu dari atas kebawah kan? Mana ada mencontoh catatan atau gaya busana dari bawah ke atas? Yang di lihat bagian bawah dulu dan bukannya bagian atas? Sandalnya pake merk apa ya? He-he,… gak nyambung! Seperti itu pulalah kita mencontoh para pemimpin kita. Tidak ada orang yang mencontoh para pengemis atau gelandangan. Siapa yang mau menjadi seperti pengemis atau gelandangan? Ya, mencontoh itu orang-orang ‘yang ada diatas.’ Pemimpin, edukator, ahli agama, pengusaha sukses, dst. Sayangnya, ….. aduh sayang seribu sayang. Yang diatas tidak semuanya mampu memberi contoh baik. Tidak sedikit bahkan yang memberi contoh buruk.

Contoh yang baik menurut saya, adalah contoh ketika ia memberitahukan pada bawahannya, “Kedepankan persatuan bangsa.” Contoh yang salah-kaprah menurut saya adalah, “Mati atau menang!” Padahal nyawa siapa yang dikorbankan? Dan kepala siapa yang bocor? Dan seperti itu pulalah sang teladan akan memberi efek kepada ‘akar rumput’ yang ada dibawahnya. Kita tidak boleh main hakim atau terlibat perseteruan yang tidak penting. Tetapi KITA, harus membela kebenaran. Bahkan ketika yang benar menjadi salah, tidak boleh lagi kita bela! Bahkan ketika kesalahan memperbaiki diri dan menjadi kebenaran, sudah seharusnya kita puji dan kita pertahankan.

Apa jadinya bangsa ini jika maling terus-menerus teriak maling? Apa jadinya jika Roro Jonggrang mengaku Dayang Sumbi? Apa jadinya jika harga temulawak naik dan menyalahkan mbok lemu, bakul jamu gendhong? He-he,…  gak nyambung! Yup, banyak hal yang rancu, abstrak, tidak nyambung. Lalu dalam kekacauan ini maling tereak maling dan kita jatuh cinta pada Dayang Sumbi yang ternyata adalah Roro Jonggrang? Masih mending jika ia adalah Roro Jonggrang. Bagaimana jika ia adalah Calon Arang? Ini sama seperti ketika seseorang yang sangat saya cintai berkata pada saya, “Korupsi tidak mengapa asal kecil-kecilan saja, masih wajar kok! Asal jangan jadi pedagang aset negara.” Saya kaget. Mak jlebs! Dosa adalah dosa. Besar atau kecil sama saja. Kesempatannya saja yang berbeda. Ada yang berkesempatan melakukan dosa besar dan ada yang hanya dapatnya kesempatan dosa kecil. Nah, tanya kenapa?…

Pernah saya tertinggal sebungkus tissue masih baru dalam wadahnya di kamar mandi umum. Lalu saya kembali karena kertas tissue itu ingin saya ambil lagi. Seseorang sudah masuk ke kamar mandi. Dan ketika saya tunggu, lamaaaaa… sekali ia tidak membuka pintunya. Saya tetap setia menunggu, karena tissue itu akan saya masukkan ke dalam tas perlengkapan saya. Untuk digunakan jika saya kembali ke kamar mandi umum lainnya, saya terbiasa membawa tissue sendiri. You know what? Orang yang ada didalam kamar mandi, mendadak membuka pintu dan langsung kabur! Lenyap, ambil langkah seribu! Saya langsung masuk ke dalam kamar mandi tersebut hendak mengambil tissue yang masih baru dibeli. Ya, astaga. Lenyappppp tak berbekas!! Tissue saja dicuriiiiiii! Baru ditinggal dua menit! Ini bukan masalah besar-kecil, tetapi sungguh-sungguh masalah revolusi mental yang memprihatinkan. Seandainya ‘maling tissue’ itu keluar dan berkata, “Maaf Mbak, … tissuenya tadi saya pergunakan. Kebetulan saya butuh,..” Saya masih menaruh hormat dan rela ia ‘mencuri tissue’ saya! Tetapi ini malah terburu-buru dan kabur dari Te Ka Pe hanya karena mencuri sekantong tissue? Tanya kenapa? Karena mental maling.

Hmmm,…  Saya menyerah ketika nurani berkabut dan orang-orang bersikeras, “Menang atau mati.” Dengan suara yang sama kencangnya seperti, “Merdeka atau mati.” Padahal kita sudah lama mengalami kemerdekaan, kita hanya perlu bersatu dan mengisi kemerdekaan ini. Seperti dicontohkan olehnya, “Kedepankan Persatuan Indonesia dan bukan hal yang lainnya.” Bahkan relasi-relasinya diajarkan diam dan hanya merangkul saja. Kalau masih tidak bisa melihat kemuliaan hatinya, mungkin saatnya memeriksa nurani sendiri. Percuma, orang lain tidak akan ada yang memaksa yang lainnya menjadi benar atau tetap menjadi salah. Karena dalil universal sudah jelas bahwa, “Seseorang tidak akan dapat merubah orang lain, tetapi ia akan dapat merubah dirinya sendiri.” Perubahan yang tidak natural adalah pemaksaan. Pelanggaran hak.

Teladan itu diberikan dari atas ke bawah dan bukannya dari bawah ke atas. Mengendarai Jaguar atau Lambhorgini memang keren, tetapi apa yang mengesankan dari itu? Bukan berarti lalu harus selalu mengendarai becak atau sepeda. Yang wajar dan sepantasnya sajalah. Jadilah contoh yang baik dari atas ke bawah. Jika alasannya, “Saya punya punya uang, saya hobby dan saya menyukainya. Mengapa orang lain tak bisa membiarkan saya bahagia?” Jawabnya adalah, nama Anda akan dikenang sebagai salah satu pengayom bangsa dan pembina generasi; jika Anda mampu melihat dengan empati pada nenek-nenek yang mengemis di pasar, pada anak usia sepuluh tahun di Tegal yang memikul beban dagangan di pundaknya, pada orang-orang yang mati dirumah karena tidak punya uang untuk berobat. Dan Anda SANGAT mengerti artinya bersimpati pada orang yang kesusahan. Nama Anda akan dikenang jika Anda biasa-biasa saja naik Avanza atau Xenia, tetapi Anda berusaha berbuat baik semampu Anda untuk orang-orang itu, mereka yang menderita. Minimal jangan suka pamer yang tidak perlu. “Akh, … biar sajalah! Sudah takdir mereka jadi orang miskin!”… “Jangan suka pencitraan!” ….Yo wes…..

Facebook Comments

About Josephine Winda

4 comments

  1. Romi Febriyanto Saputro

    Contoh dari atas ke bawah itu harapan, kalau contoh dari bawah ke atas itu kenyataan

  2. katedrarajawen

    Yang di depan teriak, menang atau mati, ya kalau menang dia akan berpesta, kalau urusan mati yang di bawa mati duluan. Sama juga teriak2 minta yang di bawah demo kepanasan di jalan terus di tembak pakai air jadi kedinginan, yang di atas teriak2 malah asyik2 di ruang AC di hotel berbintang sambil tertawa..

    Soal teladan, ada berapa banyak yang di atas kita bisa memberikan teladan? Mereka yang mengaku wakil rakyat tak segan hidup mewah dan pamer kekayaan sementara rakyat yang diwakili masih banyak yang kesusahan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif