Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Intelektualitas Tanpa Nurani

Intelektualitas Tanpa Nurani

Pernah nonton The Fast and The Furious? Yup, rasanya sedih ketika Paul Walker sang superstar pemeran utamanya tewas! Tragisnya ia tewas dalam kecelakaan mobil yang maha dahsyat. Jika dipikir seolah Tuhan memainkan lelucon. Bagaimana mungkin seorang pemeran pembalap yang tersohor handal, justru tewas dalam kecelakaan mobil? Kita ambil hikmahnya, kembalikan lagi pada perihal mawas diri dan selalu mendengar suara Tuhan. Pemeran pembalap bukan berarti ia pembalap handal. Bahkan pembalap handal pun belum tentu akan selamat dalam melakukan pertarungannya. Sekalipun keahlian sudah sangat mumpuni. Tentu Anda masih ingat Marco Simoncelli, yang meninggal dalam kecelakaan motor tiga tahun lalu? Pemeran Superman juga bukan berarti pula lelaki yang super. Jika Anda ingat, Christopher Reeves almarhum, sang pemeran Superman juga mengalami kelumpuhan dari leher hingga kaki karena kecelakaan ketika berkuda. Lagi-lagi tragis dan tidak dapat dipercaya.

there-is-no-coming-to-consciousness-without-pain

foto: occupymelbourne

Intelektualitas tanpa nurani, adalah kesempatan atau peran yang kita mainkan dalam kehidupan ini. Orang-orang yang sejatinya mengerti salah dan benar tetapi menggilas nuraninya demi untung dan rugi. Orang – orang yang sejatinya mengerti kebaikan dan kasih-sayang tetapi membungkam kehangatan hatinya dengan benci serta permusuhan. Intelektualitas atau kepandaian adalah speed, kecepatan kita dalam melaju di kehidupan. Semakin pandai maka akan semakain ngebut pula kita, semakin kencang laju kita dalam roda kehidupan. Siapa yang tidak ingin melaju kencang dan meraih segalanya di kehidupan? Bisa jadi esok lusa tak sempat menikmati, maka bersegeralah. Buat percepatan dalam segala upaya meraih cita dan hasrat. Gunakan kacamata kuda dan terus tambahkan kecepatan dalam perjalanan. Contohnya: berlakulah munafik, fitnahlah orang, serang orang lain sesuai SARA, korupsilah selagi sempat, curilah selagi bisa, copetlah selagi ada kesempatan, gebuklah selagi memungkinkan, adu-dombalah kalau menguntungkan. Pokoknya speed,...

Intelektualitas tanpa nurani, tanpa berdzikir dengan tenang, tanpa berdoa rosari dengan khusyuk. Yang ada hanyalah pembenaran diri dalam dinding-dinding duniawi. Seolah paling benar, seolah paling suci, seolah paling pantas, seolah paling disetujui. Hey-hey-hey… Baca kisah – kisah diatas! Pemeran balapan mobil yang tewas dalam mobil. Pemenang balapan motor yang tewas dalam berbalap motor. Pemeran manusia super yang jatuh dan lumpuh, hanya karena berkuda. Ketika kita merasa diri kita cerdas, jadikan nurani sebagai navigasi dalam kehidupan. Kecepatan seperti apapun tanpa keahlian navigasi akan menabrak dinding, akan terjerumus jurang, akan tersasar jauh. Nurani adalah kompas kita. Patokan untuk mencari arah yang benar dalam kehidupan. Melakukan tindakan yang benar tanpa dipengaruhi emosi. Kecepatan penuh untuk memenangkan kaumnya, keluarganya, kepentingannya, cita-citanya, ambisi dan sebagainya tanpa nurani, bisa jadi akan berakibat fatal.

Apakah Tuhan mengutuk orang-orang yang demikian? Jika dibalik pertanyaannya, apakah kemalangan pasti adalah sejenis kutukan? Saya rasa kebijaksanaan akan menjawab, “Kemalangan bukanlah kutukan. Kemalangan adalah bagian dari ujian kehidupan. Selama ini Anda sudah belajar, belajar dan terus belajar. Saatnya kita mencoba menjawab ujian dalam kehidupan!” Bagaimana caranya ? Dengan keahlian navigasi dan gunakan kompas bernama nurani dalam hati Anda. Ingat ada yang disebut ‘KekuatanAffirmasi.’ Dan ini termasuk affirmasi kejahatan atau keburukan. Jika Anda terbiasa mentolelir kesalahan maka lama-kelamaan kesalahan itu akan Anda anggap bagian kebenaran. Disiplin memang perlu. Dimulai dari jangan biasakan makan permen pada anak kecil yang akan membuat giginya ompong. Dimulai dari jangan mencuri, sekalipun itu adalah sekotak tissue kecil yang sangat murah harganya. Untuk Anda terserah itu urusan Anda. Untuk diri pribadi, saya sangat takut ketika saya kehilangan nurani,… Yup, tentu saya pernah mengalaminya juga! Me, no angel, He-he,…

Terjemahan gambar : ( in case ada yang bisa menterjemahkan lebih baik mohon dikoreksi )

Kesadaran takkan pernah muncul tanpa adanya kesakitan atau cobaan.

Manusia akan mencoba menghindari apa saja, … betapapun alasan tersebut tak masuk akal,

dalam upayanya untuk menghindari kenyataan yang ada dalam diri mereka. (penyangkalan/denial)

Seseorang, … tidak akan menemukan pencerahan dengan mengkhayalkan sebentuk cahaya,

namun dengan menyadari arti dari kegelapan itu sendiri,….

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Intelektualitas tanpa nurani, tanpa berdzikir dengan tenang, tanpa berdoa rosari dengan khusyuk. Yang ada hanyalah pembenaran diri dalam dinding-dinding duniawi. Seolah paling benar, seolah paling suci, seolah paling pantas, seolah paling disetujui.
    __________________________________________________________________________

    kepintaran sejatinya menjadi jembatan untuk mencapai nurani, jsutru menjadi penghalang kini sebab dengan kepintaran menggunakan pembenaran sehingga kesalahan pun bisa menjadi kebenaran

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif