Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Menanam, menyiangi dan memanen

Menanam, menyiangi dan memanen

WebErfas Maulana dan Florence Sihombing. Keduanya sama – sama mahasiswa. Yang satu jurusan S1 dan yang kedua jurusan S2. Yang pria lebih muda dan yang wanita lebih matang usianya. Tetapi jika ditelaah dalam sebuah proses kedewasaan ada perbedaan yang sangat tajam. Bedanya seratus delapan puluh derajad. Keduanya sama – sama mendadak dangdut menjadi ‘Selebriti Sosmed’ dalam konteks yang berbeda. Erfas dalam kasus pembelajaran matematika untuk adiknya dan Florence dalam kasus umpatan kasar karena merasa lelah mengantri bensin.

Ada sesuatu yang menarik disini bahwa ada dua orang muda yang sama-sama berangkat dewasa. Yang satu terarah santun dan yang lainnya berantakan tak karuan. Apa yang membedakan? Tentu saja mungkin proses pembelajaran asih-asah dan asuh yang diterima oleh keduanya. Menurut saya fenomena heboh di sosial media yang disebabkan oleh Erfas sangat unik dan menyentuh hati. Karena membuat semua orang berpikir apa bedanya 4×6 dan 6×4. Pelajaran matematika SD yang tadinya dianggap remeh dan gampang mendadak membuat semua orang prihatin. Sekarang semua orang tersadar bahwa murid SD saja mungkin sudah mulai stress dengan beban PR. Erfas mengangkat permasalahan yang sepele, lucu dan mengandung teladan sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. Sedangkan Flo? Seorang wanita muda yang seharusnya memiliki masa depan cerah tetapi punya masalah besar dengan perilaku, temperamen dan umpatan-umpatan kasar. Saya tidak ingin menambah daftar panjang penderitaan dan rasa malu Flo saat ini. Saya hanya ingin menarik garis. Ini adalah pelajaran yang bisa diambil bagi semua orang.

Pelajarannya apa? Jika Anda hanya berfokus pada permasalahan diri sendiri, Anda akan kelelahan dan justru bisa berakhir celaka. Jika Anda banyak memperhatikan dan menolong orang lain, Anda akan mendapatkan berkah. Anda akan membuka cakrawala, kesempatan dan wawasan baru. Ini dilakukan oleh Erfas yang membuat para orang-tua murid ikut angkat bicara, depdikbud ikut urun rembug dan bahkan dua profesor berbeda pendapat. Hal yang dilakukan Erfas adalah menghebohkan dunia maya dengan membuka pandangan, pendapat dan pencerahan bagi orang lain. Sementara hal yang ditimbulkan oleh Flo adalah kemarahan, kecewa, jengkel dan heran dengan perilaku kasar yang dilakukan oleh wanita dewasa yang tengah mengambil program pasca sarjana. Hingga berbuah kini ia di skors satu semester dari kampusnya bahkan sempat mendekam di tahanan polisi pula. Tapi ini pelajaran yang luar biasa pula bagi Florence. Jika ia memetik buah dan memamahnya dengan baik, maka akan menjadi sumber kekuatan baru di masa depannya. Ia akan menjadi wanita yang jauh lebih bijaksana dalam berkata dan bertingkah laku. Inilah kejadian sosmed yin dan yang, positif dan negatif.

Untuk kasus yang diangkat oleh Erfas Maulana sendiri, menurut saya sudah menjadi poin plus kehidupan netizen di sosial media. Semua orang langsung mengenalnya sebagai mahasiswa yang tak abai pada murid SD, kakak yang perhatian pada adik dan pelajar yang kritis pada esensi belajar. Belum lagi, kesantunannya untuk buru-buru mengklarifikasi kejadian kasus matematika sang adik dan bahkan sudah bertemu muka pula dengan sang guru yang membuat adiknya manyun karena diberi nilai 20 itu. Menurut saya tinggal menunggu waktu bagi para pemberi kerja guna menjaring calon pekerja yang potensial seperti Erfas. Tentu saja tetap dengan melalui prosedur test masuk pekerja yang paling tepat. Artinya masa depan sudah siap dikantongi oleh Erfas. Bagi para orang tua sendiri akan ada dua contoh bagaimana anak-anak yang tumbuh menjadi dewasa muda akan seperti buah yang siap dipanen. Bagaimana para orang-tua menanam, menyiangi dan merawat tanaman dengan kasih sayang, maka akan berbuah menjadi generasi muda seperti Erfas atau Flo. Sekalipun Flo bersalah, tetapi itu merupakan pelajaran tambahan yang akan mendewasakan dirinya. Tentu dengan dukungan orang tuanya pula Flo akan menjadi lebih baik. Generasi muda seperti apa yang kita harapkan kelak? Yang smart sensitif atau yang agresif depresif? Berikan teladan yang baik bagi mereka. Yup, ...tengok kanan kiri, anak-adik-keponakan-anaktetangga-dst.

Facebook Comments

About Josephine Winda

4 comments

  1. katedrarajawen

    Status sama namun perilaku yang membedakan, sepertinya Erfas sangat menarik simpati Ci Jo ya?

    • Kadang komentar Pak Kate cukup aneh?… Namanya nulis ya… ditulis saja apa yang ada dalam benak. Subyektivitas saya tidak berpengaruh, tokh tidak kenal dengan ybs. Hanya sebagai pengamat saja. Bisa saja berubah dengan munculnya fakta lain. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

  2. f-i-agungprasetyo

    Atau mungkin juga dipengaruhi oleh gender karena “kebanyakan” wanita mengedepankan emosi?
    Yah, seperti flo ini sepertinya memiliki “kesalahan paralax” depresif dan ofensif :D (tapi nggak tau juga soal pertamax ini ada di jalur motor atau nggak… shg dia ga mau ngantri)

    • ya bisa jadi si Flo ini emosi jiwa tapi kasar dan ngumpatnya ke umum…ngeri juga…inget yg sebelumnya ‘dinda versus ibu-ibu hamil’ itu juga ngga bagus…. membenarkan diri sendiri krn kakinya sakit, jadi tdk bersimpati pada ibu hamil yang merengek minta kursi.. ada sikap lebih baik yg bisa diambilll – tetapi seseorang kadang mengambil SIKAP YG BURUK lalu minta orang lain memahami — hellllloooooo?https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif