Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Sekuat Tenaga Kuda

Sekuat Tenaga Kuda

Lagi-lagi membahas kuda. Seolah arahnya ingin menjadi pengurus kuda atau penggemar olah raga berkuda? Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja. Seminggu yang lalu saya mendapat panggilan telepon, dari sebuah institusi yang cukup besar. Saya pernah melamar pekerjaan di institusi tersebut dua tahun silam. Dalam rangka ingin pindah kerja. Sayangnya saat itu belum berjodoh. Institusi ini ketatnya luar biasa dalam menyelenggarakan “TEST MASUK KARYAWAN.”

Every-Day-Do-Your-Best.-God-Will-Do-The-Rest

quoteswave.com

Saya tidak perlu mengatakan berapa usia saya. Walau mungkin beberapa orang mudah menebaknya. Tetapi yang jelas ketika test di tahun 2012, saya ikuti dalam bentuk JOB FAIR. Dan pesertanya ratusan orang. Yang tiga perempat dari mereka, atau mungkin empat per lima dari mereka usianya jauh dibawah usia saya. Okay, saya pernah operasi plastik. Yup, menggunakan plastik kresek! Sehingga ketika interview rata-rata terkejut ketika saya katakan putri saya sudah berusia belasan tahun. Pernah ketika putri saya berusia sepuluh tahun, saya jawab bahwa anak saya berusia sepuluh. Dikira sepuluh bulan? ngakak guling-guling,… Pokoknya dalam test itu, saya masuk terus hingga tiga kali saringan. Walhasil saya pulang sore hari. Seminggu kemudian saya masih ‘masuk’ untuk tahap wawancara. Seorang gadis yang berusia dua puluh empat dan menjadi teman saya di acara job fair itu mengirim text, ‘Kakak saya tidak dipanggil lagi’ alias gagal. Ujung-ujungnya, saya tetap tidak cocok dengan reward atau imbalan yang ditawarkan. Akhirnya saya tolak pekerjaannya, lokasi jauh.

Anehnya, mereka tetap menyimpan resume saya! Sehingga minggu lalu (dua tahun kemudian), mereka mengundang saya lagi. Padahal saya sama sekali sudah tidak pernah melamar kerja. Kali ini untuk ‘posisi pekerjaan’ sesuai yang saya inginkan. Okay, saya kemudian bersedia dipanggil datang lagi. TETAPI, saya HARUS menjalani test ulang untuk masuk dalam pekerjaan tersebut. Dikatakan bahwa test masuk karyawan, termasuk psikotestnya hanya berlaku dua tahun. Lebih dari itu tidak berlaku. Saya memang lebih suka bekerja dengan di test sesuai kemampuan, minat dan bakat. Kadang-kadang perlu juga dicek apakah saya psikopat atau tidak? Tadinya saya agak malas di test ulang. Tetapi baiklah, karena saya suka ‘tantangan’ – saya ingin tahu kira-kira sampai dimana kemampuan saya? Kadang-kadang saya memenangkan sesuatu, hanya untuk tahu, bahwa saya bisa memenangkannya. Usia sekian, tidak perlu diulang lagi lah ya…usianya berapa. Yang jelas SUPER MALAS untuk test masuk karyawan. Seolah-olah saya ini fresh graduate, seolah masih anak muda, baru lulus kemarin sore. Tapi nggak apa-apa, anggap saja saya berdarah muda dan darah remaja. Saya jawab, YES saya mau ikutan test-nya.

Hari H saya datang. Seluruh pegawainya (berusia muda) mengenakan seragam, melihat saya dengan aneh. Saya dengan tak berdosa mengenakan kebaya encim batik biru putih gaya annisa pohan, lengkap dengan gelang kayu besar dan anting gantung model keraton dan sepatu hi-heels hitam. Well, Anda mau menjawab tantangan? Ya…jangan tampil kayak orang bangun tidur dooong! Saya tengok ke kiri-kanan. Dan inilah para pesaing saya. Seorang pria yang mengenakan cincin akik. Seorang wanita yang mengenakan kaus oblong, jeans dan menggendong ransel. Seorang wanita yang datang sangat terlambat mengenakan jepitan rambut seperti baru keluar dari kamar mandi dan terakhir seorang gadis muda yang cantik tetapi berdandan ala pria muda! Jadi potongan rambut crew-cut, dibuat jambul basah, mengenakan kemeja jas hitam dan gelang model rantai kapal terbuat dari emas melingkar di lengan kanannya. Pria muda yang terjebak ditubuh gadis muda, mungkin begitu? Saya sesungguhnya menyukai gadis ini, penampilannya terlihat muda, segar dan cukup cerdas. Hanya agak bingung dengan jiwa ‘pria muda’nya yang terjebak di tubuh ‘gadis muda.’ Saya tidak paham hal-hal demikian, namun sangat bersimpati.

Okay, jadi kelompok yang aneh. Kami berlima kemudian masuk ke ruangan test. Diminta bersiap pukul 07.45 pagi namun test dimulai kira-kira sekitar pukul 8.45, sejam kemudian! Sudah biasa ituuuuuuuu,….. Lalu testnya adalah psikotes. Lim ratus pertanyaan lebih, ya saya ulang. Lima ratus pertanyaan. Dan harus dijawab spontan, serta cepat. Kalau ragu atau bingung, waktunya akan habis dan kertas jawaban anda banyak kosongnya. Pertanyaannya aneh-aneh. Seperti, “apakah Anda punya perilaku seks menyimpang?” Lalu pertanyaan berikutnya, “Apakah Anda pernah mendengar suara-suara yang meminta Anda melakukan sesuatu?” Well, hell ... Pokoknya pertanyaan serba ajaib. Dan pensil saya melaju cepat saja, spontan menjawabnya. Tidak saya pikirkan. Saya rasa ini termasuk psikotes untuk fokus, telaten dan be on time juga. Artinya kerja jangan terlalu lelet. Serta deteksi sementara apakah saya punya ‘kelaianan jiwa/seks’ ? Wajar. Yang kedua menggambar. Diminta menggambar aneka rupa. Sebutkan judul gambar. Urutan menggambar. Mana yang paling mudah dan mana yang tersulit. Lalu menggambar orang, siapa dan apa pekerjaan mereka. Lalu diminta menggambar pohon namun dibatasi tidak boleh pohon A, B, C. Lalu saya masih harus menjawab pertanyaan psikotest lagi, 200 pertanyaan lebih! Akhirnya,… jam sebelas saya ditemui oleh seorang gadis manis berkulit putih. Ternyata counselor muda yang baru saja lulus tahun lalu (terharu : saya sudah lulus kuliah lebih dari 10 tahun lalu). Percakapan dengannya menyenangkan, karena masih sangat belia. Yang ada saya hanya mengobrol dan bercanda dengannya.

Jam dua belas saya dipersilahkan pulang katanya nanti akan dikabari. Dijalan tiba-tiba ditelepon kembali, diminta makan siang dulu lalu nanti wawancara lagi dengan counselor yang lebih senior katanya dari HRD. Okay! Saya putar balik, makan siang dan menunggu giliran sesi berikutnya. Jam 1.30 saya dipanggil masuk, mengisi serangkaian berkas lagi. Dan bicara dengan counselor yang lebih tua (namun usianya tetap lebih muda daripada saya). Yang ini ‘jam terbang’ lebih tinggi dari si counselor muda. Senyumnya agak ditahan, jaga image dan jaga wibawa. Ada masanya ia mencoba menguasai saya dengan bertanya dan menekankan poin-poin tertentu yang ‘terpaksa’ saya iyakan. Tokh saya belum tanda – tangan kontrak. Hanya membicarakan aspek-aspek dasar kerja yang sebenarnya belum saya minati, tanpa tahu hasil test, job desk, tanggung-jawab serta remunerasi yang ditawarkan. Pertanyaannya lebih banyak ‘menggali’ ketimbang si counselor muda. Ya, inilah bedanya jam terbang pendek dan jam terbang panjang. Tapi saya ladeni saja semua tanyanya, saya jawab sejujur mungkin. Karena saya tidak biasa ‘bermain cantik’ hanya bermain natural saja. Akhirnya si counselor senior mengatakan, “Okay wawancara ini cukup. Rasanya saya lebih mengenal ibu” Saya tersenyum dan menjawab, “Terima kasih.” I bet you do-lah, kalau Anda ingin merekrut pegawai cari yang terbaik dan jujur, jangan cari pembohong yang pemalas bukan?

Kemudian saya ditawari lagi, “Ibu bagaimana kalau sekalian test Bahasa Inggris?” Saya pikir daripada bolak-balik. Okay saya lakukan hari itu juga test bahasa Inggrisnya. Bahasa Inggris adalah bahasa yang sangat saya sukai selain bahasa Indonesia dan sering saya campur-adukkan. Which is actually not good kecuali saya chincha lawrah. “Ditanya apakah ibu tidak perlu belajar lagi?” Saya bingung juga. Untuk apa belajar jika saya tidak tahu materinya apa yang akan disajikan? Artinya saya akan belajar meluas kemana-mana. Dan saya sudah belajar bahasa Inggris sejak kelas 4 SD dan usia saya sekarang…. Aduuhhhh! Nggak usah diulang lagiiii!!! Mosok saya harus belajar semalam-suntuk lagi untuk test bahasa Inggris biasa? Nah ya, meremehkan! Ternyata test Inggrisnya cukup sulit karena menggunakan metode Cambridge test. Ini artinya asli model dari Inggris. Bukan Inggris Amerika. Sementara setiap hari kita nonton televisi itu film-filmnya hanya menggunakan bahasa Inggris ala Amerika. Karena kita jarang diberi tontonan film Eropa, kalah industri dengan Hollywood Amerika. Jadi artinya lafal ‘sengau’ bahasanya harus dicermati. Inggris yang asli Inggris logatnya berat dan sulit ditangkap. Dan testnya, sekitar 300 soal listening dan 400 soal reading! Listening sulit karena saya belum pernah ke Inggris! Harus berkonsentrasi pula mendengarkan percakapan dari tape recorder. Reading-nya lebih sulit karena banyak soal percakapan juga, lalu membaca dokumen pajak, dokumen pesan barang, dokumen rekening bank, dokumen iklan dan menjawab pertanyaan seputar dokumen itu semua. Menurut si counselor senior, saya harus cepat menjawab semua test dalam waktu 120 menit. Ada peserta test yang waktunya habis dan jawabannya banyak kosong melompong. Saya? ….Selesai!

Hari itu benar-benar hari yang sangat melelahkan dalam hidup saya. Dari jam 5 pagi saya sudah bersiap, karena lokasi test berada di sudut kota terjauh dari rumah. Lalu saya psiko-test dari sekitar jam sembilan pagi – hingga selesai test bahasa Inggris itu pada jam lima sore. Ini sudah termasuk mengisi/melengkapi aneka data saya. Sungguh saya rasakan seperti test pilot pesawat tempur saja layaknya! Otak saya seperti diperas dan diremas-remas sampai kering. Tragisnya, saya tidak dikasih minum! Sampai minta beberapa kali! Paling sulit adalah untuk focus ketika kita kelelahan. Herannya, karena saya itu serba penasaran, ingin tahu dan ingin mencoba. Saya lumayan bisa focus dari pagi hingga sore hari itu. Which is … awalnya saya pikir; siapa tahu saya akan berteriak histeris, lalu membalikkan meja tulis dan membuang semua kertas jawaban karena tidak sanggup lagi pura-pura jadi murid SMA di usia paruh baya. Alhamdulilah bisa! Semua tanya terjawab, semua interview tergali. Dan sore saya bersiap pulang sambil membayangkan makan malam nasi dan ayam saking capeknya! Saya pikir saya harus sangat bersyukur dan berterima-kasih pada Tuhan bahwa pada ‘usia sekian’ — saya masih memiliki tenaga kuda untuk melakukan test atau pekerjaan bersaing dengan mereka-mereka yang ‘usia segitu.’ Rahasianya? Saya tidak percaya manusia dibatasi oleh usianya. Manusia dibatasi oleh tekadnya sendiri : SAYA BISA atau SAYA TIDAK BISA? Kata sahabatku, “Kalo kamu goal hebattt! Kalau kamu tidak goal, kamu masih bisa dirapel mengerjakan test/tugas sebanyak itu dalam sehari…hebatttttt juga!” Tapi saya tidak yakin apakah saya masih suka bekerja dalam ritme rutinitas? 9 to 5 person? Sigh! Lets see,…..

Facebook Comments

About Josephine Winda

6 comments

  1. Terus akhirnya gimana ? terima atou ga nih mba ? oya bagi resep cantik awet muda lahh biar saya ikut ikutan cantik n awet muda selain cantik hati tentuhttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gifnya

  2. katedrarajawen

    Cerita panjang kali lebar ngalor ngilur, hasilnya belum ada hehhe…suak tantangan toh? Gimana kalau nanti sehari nulis 24 artikel Ci Jo? menantang kan?

    • Halah,…hasil itu bisa dipelintir….liat saja hasil di parlemen… yang penting usaha maksimal… Tantangan juga jangan bego lah- segala kok diterima. Milih-milih dong!…Mendadak disuruh nguras sumur, emang situ mauk? Disuruh nulis sehari 24 naskah??….wanipiro? Kalo gratis tulis aja sendiri…. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

  3. f-i-agungprasetyo

    Ahaha… keren. Mungkin nantinya juga kerja keren dengan otak diperas begitu. Itu untuk tahu apakah dengan pemerasan otak sampe kering gitu kita masih punya ide buat ngomong. Pernah sih soalnya hehe… Ngomong2 si Chincha Lawrah simpatik sama Jokovich lho… hehe… :D

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif