Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Voting, musyawarah dan mufakat

Voting, musyawarah dan mufakat

Baru saya sadari sikap skeptis, individualis dan introvert ternyata menjadi penghalang bagi seseorang untuk aktif berorganisasi. Dalam kebanyakan peristiwa saya jarang bicara dan bersuara hanya jika ditanya. Kesannya seperti dukun yang hanya akan memberikan petunjuk nomer undian liwat wangsit. Tapi itulah sifat saya. Tentu saja kajian yang selalu saya kemukakan adalah pola asuh dan cara dibesarkan membuat seseorang (contohnya saya) terbiasa ‘mengikuti’ aturan dan arahan. Masalahnya hingga kapan? Jika kita anak-anak, remaja dan dewasa muda tentu masih akan berproses perihal menetapkan suatu pendirian. Tetapi ketika usia sudah menyentuh paruh baya kemudian kita masih saja menjadi manusia yang hanya bisa ‘ikut arahan’ dan ‘nggih Ndoro’ –saya rasa akan sangat memilukan. Kita manusia kan? Bukan beo!

conciuounss

foto: www.embellishedminds.com

Menyaksikan riuh pro dan kontra munculnya RUU PILKADA yang awalnya musyawarah secara alot, kemudian diakhiri dengan voting yang pesertanya ‘njomplang’ alias mendadak berkurang hingga seratus orang lebih (terima kasih pada partai yang layak kita juluki partai plin-plan). Membuat saya bertanya-tanya. Dalam mengambil keputusan bersama sebaiknya voting ataukah musyawarah untuk mufakat? Sebagai manusia yang skeptis, individualis dan introvert awalnya saya memilih voting. Lha, memberi pengertian pada sanak keluarga sendiri saja sulitnya bukan main. Bagaimana dengan memberi pengertian pada orang lain? Bagaimana pada seluruh anggota dewan? Bagaimana dengan seluruh lapisan masyarakat? Apakah semudah membalik tangan? Jelas tidak! Maka saya memilih voting. Hitung secara matematis, siapa pilih A dan siapa pilih B. Jumlah terbanyak itulah ‘kemenangan sebuah kebenaran’. Idealnya demikian!

Menjadi rancu ketika masuk dalam ranah hukum, pemerintahan, partai dan parlemen. Manusia ternyata harus ‘serba diatur’. Satu partai bersuara A, kemudian seratus beo akan berteriak sama, “Aaaaaaaaaaaaaaaaaa,…..” Lucu bagi saya, yang sebagiannya tentu manusia dewasa bahkan mungkin paruh baya. Tapi itulah, sebagian manusia masih saja menerima ‘arahan’ saja tanpa berpikir sendiri. Mungkin hingga liang kuburnya. Voting menjadi berbahaya ketika suara sebagian suara orang ‘diatur dan disamakan’, sebaliknya voting menjadi kejujuran ketika suara-suara muncul dengan alami dan masing-masing berteriak sesuai suara hatinya. Itulah suara rakyat! Pilihannya bisa jadi A atau B saja tetapi alasan masing-masing harus menguatkan pilihannya dan layak diperbandingan secara logis. Berbeda dengan suara partai ‘pilihannya bisa A atau B’ tetapi alasannya ‘sudah ditentukan oleh yang berwenang/pimpinan.’ Suara individu dibuat menjadi paduan suara bersama, “Kalau masih mau ikut kami, bilang Aaaaaaaaaaaaaa……….”

Disisi lain musyawarah untuk mufakat bisa butuh waktu sehari, dua hari, tahunan bahkan hingga puluhan tahun. Bagaimana tidak? Bagaimana menyakinkan orang lain? Yang berbeda pendapat. Beda kepentingan. Beda asal-muasal. Beda latar belakang. Beda cara dibesarkan. Beda pendidikan. Beda agama. Beda kecintaan. Pokoknya serba berbeda! Mencari musyawarah yang berakhir mufakat dengan calon ayah mertua agar ‘turun persetujuan’ menikahi putrinya saja bisa butuh bertahun. Bagaimana dengan musyawarah mufakat untuk kepentingan suatu bangsa? Waduh, cilaka! Apalagi jika didalamnya tersembunyi intrik-intrik. Tidak sekedar saya mau A atau saya mau B. Tetapi saya mau A agar dapat melakukan rencana C, kemudian melanjutkan niat D dan sebagainya. Ada 1001 agenda dibalik kepentingan semua orang. Paling simple sih, memperkaya diri, supaya cukup atau bahkan melimpah sandang, pangan dan papannya. Tetapi ada lagi agenda lain, supaya tenar, supaya terlihat pintar, supaya dapat menyakiti musuh, supaya dapat membalas dendam, supaya dapat melakukan kejahatan. Untuk semua alasan – alasan itu hendaknya Istighfar!

Saya sesungguhnya adalah penggemar voting. Tetapi saya mampu melihat bahwa musyawarah untuk mufakat lebih baik, karena ada upaya untuk saling mengedukasi — membuka cakrawala berpikir dan menyeimbangkan sudut pandang pada dua sisi. Dengan catatan komunikasi berjalan lancar dan nyambung. Tidak melulu fanatik buta pada sebuah statement. Ada dinamika dalam percakapan-percakapan untuk meraih mufakat. Manusia saling mempelajari karakter, mengenali kepandaian dan memahami faktor-faktor lain. Tetapi yang menjadi kendala adalah apabila terjadi fanatik buta dan alasan hipokrit untuk mempertahankan suatu pendirian seperti yang saya sebut diatas. Dimana manusia seharusnya melakukan introspeksi diri, again… istighfar! Pada akhirnya voting memang menjadi jalan keluar yang sangat adil. Dengan perginya sekelompok orang dari situasi voting yang berimplikasi pada sebuah hasil. Menunjukkan bahwa sesungguhnya semua suara berada pada kehendak yang sama mengenai RUU PILKADA. Bahwa mayoritas suara di parlemen memang menghendaki PILKADA melalui DPRD. Tidak perlu lagi mendengar alasan, adanya kambing hitam, kecewa, berat untuk menyetujui namun terpaksa. Itu semua ambigu. Seperti terdakwa yang sudah membunuh tetapi disidang pengadilan terus berteriak, “saya tidak pernah membunuh,.. demi Allah…” Padahal semua bukti mengarah pada dirinya. Menurut saya TRUST atau kepercayaan itu MUAHAAAAL harganya. Jangan ada lagi kesempatan kedua untuk mempercayai mereka pada hal-hal yang fundamental. Masakan hendak terperosok dua kali? Kita hanya perlu melihat TINDAKAN atau ACTION berikutnya, apakah mampu membukakan pintu maaf kita? Langkah terakhir jika dibutuhkan adalah voting nasional. Suara mayoritas rakyat!

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Jujur saya termasuk gak suka yang namanya voting2nya, karena sifatnya lebih bersifat suka tidak suka hhehe..lagi ngerah aja dengan dunia politik hehhe

    • Sebenarnya voting sih juga dapat dipermainkan, satu suara dijual dengan brand ‘wanipiro’ — bukan masalah suka – nggak suka lagi…– kalau musyawarah untuk mufakat lebih terlihat rasionalitasnya — alasannya apa MENERIMA atau MENOLAK? publik bisa menilai… https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif