Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Cinta Ditolak Rakyat Ditalak

Cinta Ditolak Rakyat Ditalak

aadcAlkisah pada jaman dahulu kala ada seorang raja dan ratu yang pernah menjalin sesuatu. Dan sesuatu entah apalah itu tidak diketahui oleh orang banyak. Hanya mereka berdua yang tahu. Pada suatu ketika sang Raja yang telah lama memerintah ingin memberikan sebagian kekuasaannya kepada sang Ratu. Tetapi terjadi sebuah komunikasi yang tak pernah tersambung antara Raja dan Ratu yang punya masa lalu dan siapapun tak tahu apa itu. Ada apa dengan Raja dan Ratu? Yang lain bahkan sesungguhnya tidak terlalu mengurusi hal itu. Wilayah pribadi dua orang yang masing-masing punya cerita lalu. Tetapi kisah ini menyangkut Raja dan Ratu sebuah kerajaan besar dengan jutaan rakyat. Bukan sekedar Rangga dan Cinta, dalam ‘Ada Apa Dengan Cinta.’

Ketika Raja coba menyatakan rindu dan ingin bertemu sang Ratu. Maka diutuslah para hulubalang dan penasihat istana untuk saling berkomunikasi. Raja ingin bertemu. Ratu malu-malu tetapi mau. Namanya juga diam-diam rindu dan mungkin masih memiliki ikatan masa lalu, yang lagi-lagi entah apa itu. Tak ada yang tahu. Komunikasi antara Raja dan Ratu seperti ingus yang keluar masuk, maju dan mundur. Kadang Raja ingin ketemu, Ratu masih marah dan malu. Ketika Ratu juga ingin bertemu, Raja tidak mau datang ke istana Ratu. Sementara Ratu berpikir seharusnya seorang lelaki datang mengunjungi seorang perempuan terlebih dahulu, bukan sebaliknya. Sementara ketika Ratu mengutus hulubalangnya dengan hadiah terompet kerajaan ditolak pula oleh raja. Katanya, “Aku tak mau terompet emas yang dibawa hulubalangmu, aku hanya ingin bertemu dan melihatmu sekali lagi. Dalam satu masa ketika kita masih ditakdirkan hidup bersama.” Terus seperti itu hubungan yang terjalin antara sang Raja dan Ratu.

Sementara hulubalang, penasihat istana dan bahkan panglima tertinggi kerajaan bingung dengan keadaan. Negara porak-poranda butuh dukungan raja dan ratu yang bergandengan mesra. Yang terjadi mereka masih saja saling benci tapi rindu. Menyalahkan satu dengan yang lain. Menyesali masa lalu yang membuat hubungan keduanya jadi rumit. Sementara rakyat kelaparan, yang lain rumahnya terbakar habis, sisanya terpaksa menyambung hidup dengan menjadi nelayan miskin di tepian sungai. Raja dan ratu masih saja berseteru, tentang dendam cinta yang tak seorang pun tahu apakah sesungguhnya itu? Hulubalang lelah mondar-mandir tanpa hasil. Penasihat istana kehabisan akal. Dan panglima tertinggi sekuat tenaga menahan diri tak sembarang menerjunkan armada guna maju ke medan laga, membela rakyat jelata. Ia tak mau menyalahi aturan tertinggi kekuasaan dari sang Raja dan Ratu.

Malam kian kelam, surat-menyurat antara Raja dan Ratu semakin menghilang seiring waktu dan rasa bosan. Yang satu terus menyalahkan yang lainnya. Sementara yang lain tak habis mengerti mengapa yang satu tak lagi tunduk pada cinta yang dulu pernah ada. Rakyat kerajaan pun semakin terlunta-lunta tak tahu lagi harus bagaimana. Para pemimpinnya saling lempar bata dan beradu kata-kata, terbelit rasa malu-malu kucing tapi mau dan rindu kekuasaan yang terpuaskan. Tersudutkan oleh misteri hubungan Raja dan Ratu, yang masing-masing ingin memerintah dengan caranya sendiri. Sang Raja dengan cara seorang lelaki bijaksana dan sang Ratu dengan cara seorang perempuan bersahaja. Lalu keduanya menyibukkan diri dalam sunyi, bekerja masing-masing melakukan tugas yang seharusnya lebih cepat dilakukan bersama-sama. Lagi-lagi rakyat jadi korban semena-mena kaum junjungannya dan hanya dapat menggerutu sial dalam hatinya. Bah! 

Facebook Comments

About Josephine Winda

4 comments

  1. jika suara rakyat dirampas, niscaya mereka akan lebih lantang bersuara !

  2. katedrarajawen

    Satu kata yang tepat ‘EGOIS’, kalau egois yang diutamakan daripada hati, maka bukan hanya rakyat yang jadi korban, tapi nurani sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif