Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Politik Muka Dua

Politik Muka Dua

Dari dulu membahas perilaku yang bertolak belakang antara perkataan dan perbuatan adalah hal yang cukup membosankan buat saya. Tidak sekali dua kali berjumpa dengan orang yang berperilaku demikian dalam kehidupan. Bahkan untuk melengkapi catatan tentang kemunafikan, saya pernah menuliskan tentang ‘konsisten tidak mudah’ – Orang cenderung berperilaku inkonsisten untuk menyelamatkan diri, mencari keuntungan maksimal dan mengeruk sebanyak mungkin simpati. Ada orang yang terbiasa bermuka dua dikarenakan memang sifat yang sudah ditanamkan sejak kecil. Ada yang berlatih keras agar mampu bermuka dua demi kesuksesan dalam hidupnya. Oya,…

hypocrite (1)

foto: provoketive

Orang tidak dapat mempersalahkan orang lain yang rajin bermuka dua. Dikarenakan tidak ada hukumnya bermuka dua menjadi sebuah pelanggaran regulasi manapun juga. Kadang muka dua juga bagian dari sistem komunikasi sosial agar ‘bermain aman’. Atau tidak terjebak pada hal-hal yang nantinya akan menyeret dan menjerumuskan. Lebih banyak orang yang bermain aman ketimbang mereka yang vokal, frontal dan mengedepankan kejujuran. Dalam skala kecil di hubungan sosial kemasyarakatan antara rekan kantor, keluarga besar dan mungkin komunitas lain. Perilaku muka dua menjadi sesuatu yang tersamar. Kadang-kadang untuk menghindarkan konflik antara A dan B, terpaksa menyetujui sikap A namun juga tidak menentang sikap B. Okay lah, kalau masalahnya hanya, “Apakah iuran RT harus dinaikkan tahun ini?” Supaya tidak menyinggung antara beda pendapat Pak RT dan Pak RW misalnya. Kita ‘bermain aman.’ Tetapi perlu diingat untuk hal yang fundamental. Kita harus ‘take a side’ atau mengambil sikap. Baik dan benar, itu wajib hukumnya untuk dibela dan dipertahankan. Kalau ada yang membelokkan kedua fakta tersebut, sudah pasti memiliki ‘agenda tersembunyi.’

Kita tidak akan pernah selesai atau rampung menjalin hubungan dengan orang yang selalu ragu-ragu. Kadang bicara A kadang bicara B. Kadang menginginkan A tetapi melakukan tindakan B. Menjadi ambigu. Tidak sinkron antara perkataan dan perbuatan. Ini seperti lelaki yang mengaku mencintai seorang wanita tetapi dibelakang punggung wanita itu ia mengatakan hal yang sama persis pada wanita lainnya. Sekali lagi. Tidak ada hukumnya, tidak ada pasal perundangan yang melarang seseorang ‘bicara manis’ kepada semua pihak.  Namun sanksi yang ada sesungguhnya hanyalah sanksi sosial. Ini juga membedakan manusia menjadi dua. Ada yang permisif. Apa-apa mudah dimaafkan kemudian dilupakan. Move on yuk? Dan ada pula manusia yang ‘menolak lupa’, sehingga terkandung unsur pembelajaran guna menghadapi permasalahan yang sama di kemudian hari kelak. KEPERCAYAAN itu MAHAL harganya. TEGAS tidak sama artinya dengan KASAR atau AGRESIF. Tegas hanya butuh menegaskan YA atau Tidak. Maju atau Mundur. Menerima atau menolak.

Jika Anda pernah bertemu, mengenal dan berinteraksi dengan orang-orang yang bermuka dua. Saran saya untuk move on adalah meninggalkan mereka dan sama sekali tidak lagi memberikan kepercayaan apapun. Orang-orang yang mencari aman, sangat banyak di republik ini. Seolah surga dapat dipesan dengan tetap menjalin komunikasi baik terhadap para penjaga pintu neraka. AMBIGU sesungguhnya adalah wajah dari orang-orang yang pengecut. Karena takut akan benturan keras, takut atas perbedaan yang tajam, keterbukaan yang menyayat jiwa. Maka orang -orang pencari aman akan bersembunyi dibalik sikap ‘tidak ada apa-apa’ dan semua ‘baik-baik saja’. Dan ia akan menunjukkan hal itu kepada semua pihak. Siapapun itu akan mendapat penenangan darinya namun sesungguhnya tanpa solusi mendasar atau tanpa menyentuh lebih dalam pada inti permasalahan. Ia hanya akan mengobati patah tulang dengan plester!

Orang-orang seperti ini tidak layak mendapat tempat disisi kita. Sepantasnya lebih baik mendapat tempat disisi Tuhan, agar diingatkan kembali akan segala amal ibadahnya yang tidak jelas. Yang mana sebenarnya hal baik yang dilakukan? Ada seorang anak sulung yang diminta ayahnya membantu diladang. Ia berteriak keras “TIDAK! SAYA MALAS.” Tetapi kemudian ia merasa bersalah dan tetap saja pergi ke ladang untuk membantu ayahnya. Ia melakukan perbuatan baik sekalipun kata-katanya tidak baik. Sebaliknya si bungsu ketika diminta pergi ke ladang menjawab, “BAIK AYAH, AKAN SAYA LAKSANAKAN.” Namun pada kenyataannya ia sama sekali tidak pergi ke ladang, justru asyik bermain dan menghabiskan waktu dengan kawan-kawannya. Anak yang mana, yang lebih jelas amal ibadahnya? Bermuka dua menjadi sesuatu yang kecil, dimulai dari hal kecil di lingkungan terpencil. Namun jika terus disuburkan ia akan menjadi hal yang besar, berdampak pada permasalahan besar dan terjadi dalam lingkup yang sangat luas. Ach,... jika bicara cinta saja palsu, bagaimana kita masih mau percaya kata-kata dari bibirnya yang semanis madu?? Move on beneran doooong,….Kok masih percaya ‘Aku Padamu’?

Facebook Comments

About Josephine Winda

6 comments

  1. f-i-agungprasetyo

    Apakah orang yang mudah berubah pikiran dapat dikatakan sebagai “bermuka dua”?

  2. katedrarajawen

    Tapi bermuka dua tidak selalu berarti negatif loh Ci, kalau saya paling suka bermuka dua menghadapi teman yang saling bermusuhan. Misalnya teman A menjelekkan teman B, tapi saya bilang ke B kalau A ngomongnya yang baik2 saja tentang dia ketika saya ditanya. Begitu juga sebaliknya hehhehttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

    • Itu bukan bermuka dua Koh, itu namanya ‘bersikap bijak’ terhadap persengketaan dan perseteruan…gimana sih? do’oh! bersikap bijak kok ngga tau bedanya sama bermuka dua….https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

  3. Anita Godjali

    Jeng Winda terinspirasi dua anak si sulung dan si bungsu semoga nanti ada anak ke tiga yang akan mengatakan ya dan bekerja dengan semangat di ladang sang ayah. hehehe…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif