Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Mengalahkan Mental Feodal

Mengalahkan Mental Feodal

Saya membaca secuplik berita, yang menceritakan tentang warga masyarakat yang kecewa dengan dilantiknya presiden terpilih. Alasannya ia lebih mendukung lawan politik dari sang presiden terpilih. Usut punya usut rupanya warga tersebut bertempat tinggal didekat kediaman sang lawan politik. Lebih menarik lagi ia mengisahkan betapa sang lawan politik adalah orang yang sangat berbudi, sering turun dari kendaraan, menyapa masyarakat sekitar dan….membagi-bagikan uang! Wohoooo! Rupanya itu. Bahkan dikatakan bahwa sebagian besar masyakarat sekitar bekerja dan mendapat lapangan pekerjaan di kediaman tokoh yang bersangkutan. Lalu mengapa harus menganggapnya sebagai balas budi? Bekerja, tokh Anda mengeluarkan tenaga, wajar jika dibayar. Jika bekerja tidak dibayar, aneh. Jika dibayar tidak bekerja, juga aneh. So, kenapa segitunya sih?

feodalSedih saya membaca berita itu. Mengapa? Yang terbetik dalam benak saya adalah mengapa sebagian masyarakat mentalnya masih mental bathur? Alias mental jongos? Mental yang diberi? Mental menadahi? Dan mental meminta-minta ketika butuh, kepada orang yang dipandang sebagai Ndoro? Apa artinya ini sudah sangat tepat jika negara kita adalah sumber TKI dan TKW? Wheladhalaaaah,…. Saya pernah menuliskan naskah “Memberi Pancing dan Bukannya Ikan.” Ini hal yang harus sangat dimengerti. Memberi keahlian dan ketrampilan, mencerdaskan, membuka mata hati dan mengasah otak. Bukan mengamputasi kemampuan, menumpulkan otak dan pasrah nunggu sumbangan. Emangnya semua ingin jadi pengemis? Waduh!

Memang benar orang yang kaya/mampu harus memberi dan menolong orang yang serba kekurangan atau miskin. Tetapi bentuk bantuan itu tidak mungkin terus-menerus berupa uang atau dana yang terus disodorkan. Hal itu akan membuat masyarakat menjadi tidak punya kemampuan ‘bergerak’ alias malas dan diam saja ditempat. Paling enak menadahkan tangan. Saya paling ngeri melihat situasi semacam ini, seolah dilahirkan sehat walafiat tetapi berlaku seperti orang cacad yang tidak bisa melakukan apa-apa. Musuh manusia itu bukan kemiskinan tetapi kebodohan. Yes, stupidity!

Kalau Anda menerima pemberian, hal itu akan menjadi beban, karena Anda HARUS membalas dengan pemberian lainnya. Otherwise, Anda sudah dibeli oleh orang atau Ndoro tersebut. Makanya berhati-hatilah dengan pemberian. Harus dicermati bahwa pemberian itu diberikan oleh orang yang dikenal baik misalkan kerabat atau sahabat keluarga. Kalau pemberian itu diberikan oleh orang yang tidak ada hubungannya dengan keluarga kita. Punya niat apa? Jaman sekarang jarang ada kebaikan yang gratisan, terutama uang atau dana yang jumlahnya ‘lumayan bangeeet hareee geneeee, gitu loch.’ Bukan berarti mencurigai segala kebaikan yang muncul. Tidak juga. Tetapi sedikit cerdas melihat apakah kebaikan itu muncul dari ketulusan atau kebaikan itu diusahakan  sehingga menempatkan suasana feodalisme yang membentuk situasi ‘Ndoro dan bathur’.

Lalu, Jeng Win, apakah dengan begitu kita tidak bisa ‘menempel’ kepada keluarga yang kaya raya. Yah, sebagai inang-inang, sebagai ajudan, sebagai sahabat terkasih, sebagai apa kek…? Namanya juga jadi kepercayaan keluarga VVIP masakan ditolak sih? Boleh-boleh saja, tetapi yakin bahwa Anda punya kemampuan untuk ‘meninggalkan’ situasi tersebut dengan win-win solution. Artinya Anda tidak akan mengecewakan pihak yang banyak memberi dan Anda tidak pula masuk dalam jerat perangkap yang membuat kita tidak dapat melangkah pergi dari kebaikan seseorang, karena merasa berhutang budi. Soalnya hutang budi itu harganya nggak jelas, bisa seperak, bisa semilyar. Tergantung persepsi masing-masing pihak. Saya senang orang berbuat baik kepada saya. Dan kalau bisa juga inginnya selalu memberi kebaikan kepada orang lain. Tetapi ketika hubungan itu menjadi ketergantungan, enggak deh. Makasih!… Lagian kalo ‘ingin dibeli’ yang mahalan dikit dong harganya? Emangnya kita manusia murahan?…

Terjemahan :

UNTUK MELIHAT SIAPA ORANG YG MENGUASAI ANDA, MUDAH SAJA.

LIHAT, SIAPA ORANG YG SAMA SEKALI TIDAK BOLEH ANDA KRITIK?

voltaire

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Ada juga sih sisi positifnya Ci Jo, jadi orang tahu balas budi dan setia, tapi itu kalau sudah membela dengan memutakan hati itu yang masalah…bisa jadi juga karena terlalu polos loh

    • kadang ga tega juga,…masi sodara… masi pamili…. kesiannn biarin lah sama sama cari makan ini… tapi akibatnya ngga disiplin….benar dan salah tidak jadi masalah…yang penting perut kenyang…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif