Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Budaya Mendukung Vs Budaya Mencela

Budaya Mendukung Vs Budaya Mencela

Nama-nama mentri Jokowi baru saja diumumkan, kalau ingin jujur saya juga terkejut karena ‘aroma koalisi’ ternyata masih cukup kental. Masalah bagi-bagi kursi muncul secara ‘terselubung’ atas tersebutnya beberapa nama. Masyarakat mulai ‘nggumun’ lagi, lho kok dia dan dia? Apakah tidak ada orang lain yang lebih pantas? Lalu komentar bermunculan, apakah si anu pantas jadi mentri, dia masih hijau lho! Apakah si itu pantas jadi mentri, dia nggak lulus SMA lho? Terus mengapa banyak juga politisi yang diangkat jadi mentri? Katanya nanti akan berfokus pada para pekerja profesional?

trashtalkquotesMeminjam istilah FacEBook saya akan mengatakan situasi ini ‘Its complicated!’ Kalau Anda bekerja, apakah Anda akan memilih bekerja sama dengan orang yang sangat asing bagi Anda? Dengan resiko cocok-nggak cocok dan harus ada waktu saling adaptasi mencocokkan diri? Ataukah Anda akan memilih orang yang Anda kenal cukup baik untuk diajak kerjasama? Jawab saja pertanyaan ini, implikasinya kembali pada nama-nama di kementrian yang muncul. Kedua, masalah ‘Balas Budi’ — ketika Anda lapar, ada yang memberi makan. Ketika Anda dipukuli, ada yang membela. Ketika Anda kelelahan, ada yang memijit. Apakah iya, ketika Anda berhasil lalu Anda melupakan semua orang-orang ini begitu saja? Jika ‘membalas budi’ tetapi TIDAK merugikan/ membahayakan orang lain apa salahnya? Menjadi SALAH, ketika kemudian membalas budi pada orang-orang yang SERAKAH atau TIDAK TAHU DIRI.

Yang ketiga ini pemilihan organisasi tingkat nasional dan bukan tingkat RT atau RW, ada beban besar dalam masalah kerja yang sifatnya juga nasional bukan sekedar wilayah ‘sak’umprit’ yang luasannya hanya seujung kuku. Memilih karakter professional yang ‘all in’ bukan hal yang mudah. Sebagai contoh, saya tipikal orang yang sangat acuh dan tidak perduli pada orang ketika pertama kali berjumpa. Saya tidak memiliki usaha yang terlalu dalam untuk menjalin pertemanan. Tetapi ketika saya menyukai beberapa orang yang saya pandang ‘berkarakter’ mereka akan selalu menjadi ‘penasihat’ dan ‘sahabat’ terbaik dalam kehidupan saya hingga lebih dari satu dasawarsa. Saya memiliki lebih dari lima teman yang usia pertemanannya diatas sepuluh tahun. Ini artinya saya mampu me-maintenance sebuah hubungan yang panjang ‘asalkan saya cocok dengan orangnya.’ Sementara bekerja di skala nasional, masa kerja mentri hanya lima tahun!

Saya yakin dibutuhkan POLITISI yang mampu bersikap ramah dan cepat merangkul berbagai kalangan. Jadi pemimpin itu bukan asal memimpin tapi juga mampu mempersatukan. Itu tidak mudah! Setiap orang pasti ada yang membenci dirinya. Para haters ada yang jumlahnya sedikit dan ada yang jumlahnya banyak. Dan bukannya orang yang acuh seperti cowboy, seperti saya misalnya? Disukai sukur, dibenci emang gue pikirin? ADA ORANG YANG HARUS BERGERAK DENGAN MEMILIKI KEMAMPUAN KEHUMASAN TINGKAT TINGGI (biasanya POLITISI) dan saya tahu PROFESSIONAL atau SENIMAN seringkali juga acuh dan sebisanya saja dalam bergaul, karena mereka hanya fokus pada kerja/karyanya saja. Sedapatnya orang yang mau bergaul dengan mereka, monggo mana-mana saja… Nah? SAYA MENGERTI ketika menjadi POLITISI, pada akhirnya memang harus punya SKILL adaptasi terhadap sikap orang lain dengan luar-biasa lapang dada. Makanya harus mampu bersikap lincah dan santun selain professional. Well, I can’t!

Jadi ketika ‘belum apa-apa’ muncul suara sumbang yang mengatakan. Si anu mana bisa? Si itu mana cocok? Kalau semua keinginan orang di dengar, semua kemauan orang dipenuhi, negara ini isinya 270 juta penduduk– lebih?? Astaga, MANA MUNGKIN KALEEEE?… Biarkan KABINET KERJA ini membuktikan diri, apakah mereka sungguh bisa bekerja? Atau mereka hanya KABINET OMONG KOSONG? Saya dan suami seringkali tidak cocok. Bukan berantem, tetapi tipikal karakternya. Saya banyak bergaul dan dia diam. Saya suka kegiatan outdoor dan dia suka indoor saja. Tetapi dalam hal mengamati KABINET KERJA pendapat kami sama. BIARKAN MEREKA BEKERJA, BARU KITA KOMENTARI. YANG TIDAK BERES DIPECAT, berikan dulu kesempatan pada mereka. Bukan baru saja DIUMUMKAN SUDAH DIKOMENTARI (negatif). Orang baru mau melangkah, udah dijegal kakinya? AS IF gitu loch, seolah para komentator adalah cenayang atau peramal oracle yang bisa memastikan masa depan. Emang semudah itu memajukan negara? Yang sudah pasti –> SEPULUH TAHUN hasilnya seperti ini, ya silahkan dinilai, apakah sudah pantas bekerja sepuluh tahun dan hasilnya begini? Tetapi yang BELUM APA-APA sudah DINILAI dan DIKOMENTARI (negatif). Please deh, AS IF gitu loch, you can do it better???

Kata saya mah, STOP THE CRAP. Hentikan omong kosong yang ada. Mari bersama kita lihat, kita awasi dan kita perhatikan bagaimana KABINET KERJA ini akan BEKERJA. Bekerja dengan baik ataukah bekerja asal-asalan? Budaya mana yang lebih pantas kita tanamkan di negara kita? Budaya mencela atau budaya mendukung? Pernah lihat film barat? BANYAK LAAAH, yang model-model begini —> PELAKON UTAMANYA KALAH, tetapi ia SUDAH BERUSAHA MATI-MATIAN untuk meraih KEMENANGAN. Lalu ia terjatuh pada detik terakhir dan tertinggal, tapi terus maju hingga mencapai garis finish. Lalu salah satu penonton memulai tepukan perlahan, memberi applaus apresiasi. Lalu diteruskan oleh penonton lain-lainnya hingga akhirnya seluruh kerumunan penonton memberikan applaus pada sang TOKOH yang sudah berusaha mati-matian. Di negara ini kita dibiasakan MENILAI HASIL dan BUKANNYA MENILAI EFFORT. Menilai hasil : YANG PENTING SUKSES DAN KAYA, upayanya dari miara tuyul dan santet, orang gak perduli. MENILAI EFFORT –> orang melihat bagaimana seseorang bekerja keras dan berusaha melakukan yang terbaik dalam hidupnya. Kalau saya jadi Anda, minjem istilah cak lontong : ‘mikiiiiiiiiiiirrrrrr…’ sebelum  ngomong.

Facebook Comments

About Josephine Winda

4 comments

  1. Yang bikin saya geregetan karena ada banyak nada sumbang saat ada banyak perempuan yang jadi mentri kesannya meremehkan banget kalau semua di isi perempuan yang punya kemampuan mang kenapa ?gitu batin saya mba ,perempuan aja udah bisa kebulan kanhttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif

    • wah ika,. saya baru tahu, kok masih ada saja yang bernada sumbang banyak mentri perempuan? Lha emangnya lahir dari tong? Bukannya semua lahir dari rahim perempuan ya….

  2. katedrarajawen

    Pada intinya, budaya mencela dan mendukung akan selalu ada beriringan selama dunia masih berpikir, pilihannya adalah bagaimana kita menykapinya, jangan menteri yang hanya dipilih oleh seorang presiden, para nabi aja yang dipilih Tuhan banyak ada yang mencela di antara banyak pendukungnya hehhehe

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif