Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Tua Tua Keladi

Tua Tua Keladi

Film yang baru saja saya saksikan “THE QUARTET” direlase tahun 2013, tapi ditonton masih oke juga. Penggemar film action pasti akan ngantuk menonton film ini. Bagaimana tidak? Yang main film semuanya usia 70-an, 80-an dan 90-an. Gila kali yeee... Iya kali, sutradaranya aja berusia 75 tahun, Dustin Hoffmann. Dustin menang Oscar dua kali dan banyak kali mendapat penghargaan. Tapi rupanya ia menyimpan ambisi juga ingin menjadi sutradara. Saking larisnya ia main film sebagai actor, ia baru menyutradarai satu film di tahun 1978- judulnya Straight Time. Sekaligus Dustin juga menjadi pemeran utama. Ternyata ia pusing sendiri, main film sekaligus menyutradarai. Akhirnya Dustin tidak mau lagi menyutradarai dan berkonsentrasi hanya sebagai lead actor. Butuh 35 tahun kemudian untuk akhirnya Dustin menyutradai dan menyelesaikan film debutnya ini, The Quartet. Sama kayak saya dong, Oom Dustin!… Butuh lebih dari 20 tahun untuk nekad nulis naskah, diterima oleh penerbit major dan akhirnya diterbitkan. It’s never too late! He-he,…

QuartetDi awal film saya tadinya juga malas mau menonton. Duh, film kok yang main semuanya aki-aki sama nini-nini. Bagusnya dimana nih film? Tapi makin lama diikuti makin menarik. Jadi pemeran utamanya ada empat, dua pria dan dua wanita. Ceritanya, Reg, Wilf dan Cissy tinggal di panti jompo. Panti ini bukan Panti Jompo Biasa, tapi panti jompo khusus untuk veteran penyanyi opera. Yes,..yang nyanyinya pake acara tereak-tereak dan menggugah emosi jiwa, hingga Julia Roberts yang berperan jadi gadis panggilan saja bisa nangis kala menonton opera diajak oleh Richard Gere di salah satu scene Pretty Woman. Note to myself: kalau udah tua, cari panti jompo khusus penulis. Jadi bisa saling baca puisi dan diskusi drama atau buku! He-he,…

Dari sini saya sudah mulai tertarik. Seru juga ya kalau ada Panti Jompo khusus orang-orang yang berada dalam lingkaran satu profesi. Jadi pembicaraan dan pergaulannya nyambung banget. Panti jompo veteran opera ini keren, kegiatan senggangnya adalah bermain musik, latihan nyanyi, latihan piano, menjadi juri pertunjukan musik anak-anak dan memberi kuliah tentang opera kepada anak-anak muda. Bahkan ada latihan line dancing sebangsa dansa poco-poco untuk para opa dan oma! Wah, siapa yang nggak mau menjadi tua and having fun all the time? Lagi asyiknya Reg, Wilf dan Cissy menikmati kehidupan panti, mendadak ada satu diva opera masuk panti jompo juga, namanya Jean. Dari sini konflik mulai dibangun. Si Jean ini dulunya TOP banget dan penyanyi opera yang ambisius. Dan apesnya… pernah menikah dengan Reg! Yang lucu sampe usia 70 tahun itu sejak cerai dari Jean, Reg tidak pernah menikah lagi. Dia beneran cinta pada Jean. Sementara Jean sang diva sudah kawin cerai sebanyak tiga kali termasuk dengan Reg. Udah usia 70 tahun ketemu mantan gimana sih rasanya? Satu panti jompo pula!

Pokoknya si Reg udah sebel dan nggak mau tinggal disitu lagi. Tapi si Jean mendekati, minta maaf, ngajak damai dan sebagainya. Konflik dan friksi mengalir ringan. Bahwasannya tanpa sadar orang-orang yang sudah lanjut usia, sikapnya kembali seperti anak-anak dan remaja. Gampang jengkel, gampang mutung, sensi dan tersinggung berat. Itulah siklus kehidupan. Permainan watak diperkuat dengan adanya Wilf yang berperan jadi kakek genit. Kakek-kakek sudah tua tapi masih suka ngrayu-ngrayu wanita muda, dokternya sendiri yang menjadi pemimpin panti dirayu. Tapi ditolak mentah-mentah lah oleh sang dokter wanita. Sementara karakter Cissy, ibu sepuh yang chubby, cantik dan lembut, sedikit cerewet. Parahnya kadang dia kumat dimentia (pikun). Jadi mendadak pengen pulang kerumah karena katanya ibunya sudah nungguin. Usia 70 tahun masih punya ibu? Mungkin ada, tapi kayaknya jarang kali yeee,….

quartet-movieKeributan ditutup dengan kekompakan empat sahabat itu untuk tampil bersama sebagai penyanyi kwartet. Mengulang kejayaan yang pernah mereka lakukan bersama di masa silam. Jadi jaman dulu kala, mereka berempat pernah nyanyi bareng dalam pagelaran karya komposer Verdi, pertunjukan Rigoletto (judul drama opera-nya). Kali ini nyanyi bersama di lakukan di panti jompo dalam rangka mengumpulkan dana juga untuk kelangsungan panti. Adegan tarik suara bersama seharusnya menjadi adegan yang ditunggu. Disini Dustin Hoffman melakukan kesalahan fatal, menurut kacamata saya yang awam tapi sok komentar. Boleh ya? Boleh lah, wong cuma di ketikketik komennya bukan di koran New York Times. He-he,.. Adegan nyanyi bersama para anggota kwartet tidak ada! Kosong, cuma adegan melambai dipanggung saja. Alasannya keempat pemeran utama hanyalah pemain watak, bukan penyanyi sungguhan. Kebayang dong? Pada nggak bisa nyanyi? Untuk lipsinc (pura-pura nyanyi diisi suara) si Oom Dustin nggak mau! Harus real, katanya. Hmm,… menurut saya aneh. Judulnya tentang penyanyi kwartet. Sama sekali nggak ada si kwartet nyanyi, piye sih Oom?

Tapi melihat film ini sejak awal, yang bikin salut adalah bagaimana para orang-orang sepuh bertalent tinggi tetap mampu perform atau menunjukkan kualitasnya sebagai manusia dengan bakat menonjol. Jadi semua figuran yang berperan sebagai sesama penghuni panti jompo, kesemuanya adalah veteran penyanyi opera beneran! Di akhir film ditunjukkan wajah-wajah para figuran yang merupakan veteran dari berbagai opera. Membuat saya merinding karena ada fotonya ketika muda, cantik, tampan dan sedang menyanyi di panggung atau sedang memimpin group musiknya di tahun 1960 hingga 1980-an. Disandingkan dengan foto kini tahun 2000-an, ketika mereka sudah tampak sepuh, tua, rambutnya memutih, bahkan ada yang sudah duduk di kursi roda saja. Tapi semuanya masih suka bermusik! Sebagian dari mereka main musik dan menyanyi beneran dalam film ini. Kecuali empat bintang utama yang menjadi kwartetnya, malah tidak menyanyi sama sekali!

Hedsor-location-pageSecara keseluruhan filmnya ciamik. Ceritanya unik dan tidak biasa. Hanya saja si Oom Dustin salah bikin ending. Jangan diulang lagi ya Oom! Reg si tenor cowok yang sebel karena jumpa mantannya lagi diperankan oleh aktor Tom Courtenay usia 77 tahun. Jadi tua dan tetep keliatan cakep itu susah, tapi Sir Tom bisa. Udah tua, masih keliatan ganteng. Ternyata ada foto masa mudanya, cakep! Wilf si kakek ganjen flamboyan diperankan oleh Billy Connoly usia 71 tahun. Kemudian nini yang imut dan nggemesin Cissy diperankan oleh Pauline Collins. Wajahnya awet menurut saya, tidak terlalu terlihat sepuh. Usia Pauline 74 tahun. Nah, si pemeran Jean, yang ceritanya agak bit**y diperankan oleh Maggie Smith. Kalau Anda tahu beliau adalah pemeran professor McGonagall di film Harry Potter, usianya 79 tahun.

Jujur, menonton film ini saya teringat nenek saya. Bagaimana ketika nenek menjadi tua, saya hanya sibuk sendiri dengan kesibukan masa remaja. Sering mengacuhkan nenek. Hingga akhirnya ia sakit dan meninggal dunia. Sedih! Memang agak sulit bagi orang muda dan orang tua untuk berada dalam satu frame. Masalahnya kegiatan anak muda sangat banyak, aktif dan beragam. Sementara orang tua jelas tenaganya lebih terbatas. Menyaksikan panti jompo ini, membuat kita menyadari bahwa orang-orang tua menjadi merasa tua karena kita menganggap mereka tua. Padahal mereka juga masih ingin terus berkarya dan beraktivitas. Lokasi atau setting rumah jompo adalah gedung yang biasa digunakan untuk pesta pernikahan atau rapat perusahaan. Catat : pernikahan orang kaya dan perusahaan kaya di Inggris, hehehe,... namanya Hedsor House terletak di Taplow, Buckinghamshire. Keempat pemeran utama dan setting lokasi memang Inggris bangeeeet…. Coba perhatikan gedung rumah jompo ini, kira-kira siapa yang menolak kalau ditempatkan di rumah seindah itu?? Aish,…tua-tua keladi.

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Ci Jo , bisa jadi inspirasi bikin rumah jompo khusus penulis ya? Bikin di kawasan Lippo Karawaci lagi ya hehhe…film yang tidak biasa memang

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif