Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Hentikan Omong Kosong Kita

Hentikan Omong Kosong Kita

Saya punya beberapa teman penulis. Mungkin tidak banyak ada beberapa saja. Tapi hal yang saya pelajari dari mereka adalah bahwa mereka hidup dalam alam romantisme. Kadang-kadang saya bertanya pada diri sendiri. Kemana ya perginya alam romantisme dalam kehidupan saya, bawaannya kok curigation melulu? Padahal saya juga ingin menjadi penulis handal yang pandai merangkai kata indah bak mutiara. Mungkin bedanya ketika yang lain membawa pembacanya dalam tulisannya yang merdu, merindu  dan merayu-rayu, maka tulisan saya beda. Tulisan saya tampil ganas, garang, kejam dan menampar-nampar. He-he-he,… Wake-up kata saya! Bangun dari mimpi dan tidur panjang kita,…

When I was young I listen to the radio, waiting for my favourite song. Ini adalah sepenggal lagu kesayangan saya dari The Carpenters. Group penyanyi lama yang sangat-sangat-sangat saya suka. Hampir semua lagunya saya suka. Sweet! Ketika kita lebih muda, kita percaya romantisme itu ada. Kita percaya sastra itu indah bak rangkaian permata kata-kata. Yup, samak! Saya baca aneka novel romantis entah sudah berapa gunungan. Beberapa kali juga saya coba baca naskah sastra agar saya punya referensi seperti apa kira-kira kalau saya berkesempatan menulis dengan kata-kata yang rumit. Sebentar bercerita tentang gunung misteri nan meletus, sebentar bercerita tentang akar pepohonan nan merengkuh bumi. Tapi romantisme adalah hal yang paling mudah terserap, karena itu sejenis candu dalam penulisan.

Sekarang saya sedang “memaksa diri” membaca puisinya Remi Sylado yang super tebal, KERYGMA & MARTYRIA. Ternyata saya suka. Puisi-puisinya bagus sekali. Ada tentang politik, agama, perasaan, kritik tingkah laku, spiritual dan sebagainya. Komplit-plit-plit. Saya suka baca satu puisi lalu saya tarik garis dan saya endapkan sendiri maknanya. Herannya beberapa kawan langsung antipati “SAYA TIDAK SUKA PUISI” — Well ini rahasianya, puisi mengasah indra keenam anda tentang primbon kehidupan. Puisi tidak bermain pada makna ‘saklek’ yang mudah dimengerti. Puisi bermain pada kata-kata yang maknanya harus ditelusuri sendiri. Jadi kalau ada orang bicara A dan berlaku B, Anda mudah membacanya, “Oh orang ini sok keren padahal menutupi rasa rendah dirinya sendiri.” — Sesimple itu bagi saya memaknai puisi. Karena saya membaca puisi dan mengerti maknanya, saya juga coba membaca manusia dan mencari maknanya.

Tapi saya bukan mau bicara puisi. Saya hanya ingin mencoba menggali kemana perginya romantisme dan sastra yang seharusnya mengendap dalam diri saya yang katanya ingin fokus menulis. Yang ada tiap kali baca buku yang serbanya romantis dan bau sastra kadang saya ingin berkata. Haduh hentikan omong kosong kita bersama,… Kehidupan pada akhirnya akan ‘melek’ dan kita sadar romantisme serta sastra hanya sekedar permainan kata-kata. Mungkin juga karena akhir-akhir ini saya banyak membaca buku psikologi, spiritual dan berita politik, respon saya terhadap romantis dan sastra serasa ketus abis. He-he-he,…

Saya banyak mengenal adik-adik dan bahkan teman-teman remaja dari putri saya. Dengan gamblang saya melihat romantisme serta angan muluk yang menjulang tinggi masih merasuk kuat pada jiwa-jiwa mereka. Hal-hal yang didepan mata, hal-hal yang serba bergelora dan super wah. Bahkan tak sedikit teman yang seusia saya juga masih gemar dengan bungkus-bungkus kehidupan semacam itu. Dugem-lah. Show-off lah, pamer ini dan itu. Berlomba tajir-tajiran, sukses, cinta-cintaan dan sebagainya. Yang kita tidak pernah tahu adalah realita kehidupan mereka. Saya tahu hidup saya sendiri seperti apa. Anda tahu hidup Anda sendiri seperti apa. Tetapi orang – orang kebanyakan hanya mencitrakan bungkus luar diri mereka tanpa pernah terlihat apa yang sebenarnya ada disebalik. Tiba-tiba ada yang cerai. Tiba-tiba ada yang kumpul kebo. Tiba-tiba ada yang nikah lagi, cerainya kapan saya sampai nggak tahu.

you-are-what-you-read

foto: hurstpierpointcollege

Saya ingin menulis romantisme dan sastra. Sangat. Tapi saya takut semua orang akan tidur semakin lama dan bermimpi semakin panjang. Hidup ini tidak mudah. Dimasa muda orang -orang banyak yang termakan oleh romantisme dan angan. Tetapi di masa selanjutnya kita akan menyesal mengapa ketika lebih muda kita tidak lebih giat dan waspada? Kadang saya kasihan karena kesannya saya terus mengingatkan dan memompa-mompa anak saya agar lebih terorganisir tentang hidupnya. Harus rajin belajar, harus punya ketrampilan, harus pandai membawa diri, harus punya komunitas sosial yang baik. Sepertinya semua dipaksakan dan di cangkangkan pada dirinya.

Tapi memang itu tugas orang yang lebih tua (dan seharusnya lebih bijaksana dalam membimbing yang lebih muda), mengingatkan dan memberitahukan. Bahwa omong kosong tidak akan menyediakan masa depan. Tetapi tertapi disiplin pada diri sendiri, cerdas menyiasati hidup dan fokus pada tujuan akhir tanpa mudah terganggu konsentrasinya oleh hal-hal lain. Niscaya kesuksesan akan diraih dalam waktu singkat. Dan kabar buruknya hidup manusia itu ternyata sangat singkat. Puncak prestasi biasanya lebih mudah digapai pada kisaran usia 25-40 tahunan ini untuk yang jenis cita-cita manusia biasa. Manusia luar biasa seperti Jokowi pada usia 50 awal sudah menjadi presiden RI. Jadi Anda hitung saja, kira-kira ia mendisiplinkan diri sejak usia berapa? Seharusnya ketika muda kita banyak membaca buku psikologi, spriritual dan politik sehingga kita lebih taktis tentang kehidupan. Lalu setelah menggapai kesuksesan di masa yang selanjutnya, kita bisa menghabiskan waktu dengan buku-buku romantisme, sastra atau bahkan donald bebek! Sekedar relaksasi,… He-he-he,...

You are What You Read.. :)

Facebook Comments

About Josephine Winda

3 comments

  1. katedrarajawen

    Sebenarnya saya juga kurang suka puisi dan novel tapi perlu juga memaksa untuk membacanya bukan untuk menyukai sih paling tidak sekadar menghargai, apakah ini omong kosong? Bagaimana dengan omong kosong yang ini, ci JO: https://www.facebook.com/notes/doni-bastian/ibuku-adalah-seorang-pembohong/755737737834538?pnref=storyhttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif