Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Bersosmed Dengan Waras

Bersosmed Dengan Waras

Beberapa waktu lalu beberapa teman menganjurkan saya membuka ‘kapling baru’ di PATH. Saya awalnya malas. Namun teman-teman beralasan, ‘Kamu kan udah mulai menulis buku? Nggak ada salahnya kamu create Path, enak untuk promosi dll.’ Ya sudah karena menurut mereka, PATH banyak kegunaannya. ‘Its a new way of lifestyle’ maka saya coba create PATH. Saya menggunakan internet sudah cukup lama. Dari jaman masih mainan ‘MILIS’ — iya itu ‘mailing list yahoo’ dan pernah punya HOTMAIL account yang sekarang saya sudah nggak tahu kuburnya dimana, lupa password. Jadi katanya path lagi tren abis. Ngikut dong,… ealah! Ya sama saja. Plekk! Beda 11-12 dengan sosial media lainnya yang sudah ada. Create akun, pasang foto, pasang status, pasang profile, pasang status musik-film-buku. Sebenernya saya udah agak males ‘ngopeni’. Tapi udah telanjur ya saya ikut saja beberapa hari nongol disana-sini. Add beberapa teman yang sebenarnya di FB saya sudah ada. Orang-orangnya sama perciss… Jyah? He-he-he,..

sosmed

foto: business2community

Saya lihat kebahagiaan orang-orang utamanya adalah selfie dan posting aneka kegiatan. Jujur saya mikir paling asyik, anggota TIM SAR, model kelas dunia, bintang film papan atas, photographer National Geographic, tour guide international dan posisi pekerjaan yang sejenis itu. Karena yang diposting otomatis akan bisa serba indah atau menyentuh dan beragam. Kalau kita-kita saja, tujuannya kurang jelas, selain dari itu tadi, selfie. Kebayang dong kalo ibu rumah tangga. Posting foto nganter anak sekolah, nyiapin bekal, melambai, nguleg sambel, njemur daster dll. Kalau petani ya pagi jalan di pematang sawah, foto kaki becek nyemplung ke sawah, foto lagi mengayunkan cangkul dst. Belum kalo ngga kemana-mana kegiatannya itu itu saja. Mosok tiap hari mau posting foto kaki nyemplung kesawah? Saya lebih suka menulis daripada pasang status. Tapi jujur akhir-akhir ini jadi ‘ketularan’ pasang status nonton film anu, makan anu, jalan kemanu. Padahal kalo dipikir ya itu – itu doang. Film yang ditonton film lama yang nongol di TV, makanan yang diembat palingan bakwan malang, jalan ke taman depan rumah, foto-foto lalu ‘laporan ke sosmed.’ Ha-ha,..

Lain lagi yang demen travelling sepertinya ada ‘perlombaan’ terselubung untuk menunjukkan ‘saya udah kesana’ dan ‘saya udah kemari’. Jadi saling pajang foto di berbagai sudut dunia. Awalnya saya suka dan kadang komen. Lama-lama yang posting banyak orang. Pergi ke Singapore saja dibuat seolah pergi ke Depok saking seringnya dan banyaknya orang yang sudah kesana. Kalo ada yang belum ke Singapore sepertinya aneh, beda-beda tipis dengan belum suntik rabies? Hi-hi. Terus perginya sekali, fotonya bisa tiga ribu dan kadang-kadang yang di posting seribu limaratus. Hihi... Yang mau komen bingung saking banyaknya. Mau nanya juga pait-pait getir karena terus mikir sendiri, “kapan ya… saya akan tiba disana juga?” Sementara yang ditanya kadang bangga banget menjelaskan A,B,C seolah yang belum pernah kesana termasuk manusia terbelakang. Padahal nanya juga kadang basa-basi saja agar sopan. But, hey this is life nowadays! Kehidupan jaman sekarang ini, mayoritas seperti ini! Saya senang dengan save waktu untuk bicara atau silaturahmi dengan aneka teman yang tersebar disegala penjuru bumi. Tetapi kalau kemudian saya jadi cape juga menghabiskan waktu dengan ‘senam jempol’ segala di-like dan dikomen, menjadi tidak produktif. Hidup hanya terpatok pada gadget. Jujur lagi, saya juga ada kecenderungan tiap detik melihat notification lalu ‘merasa cemas’ kalo nggak balas komen teman dikira sombong atau nyuekkin. Padahal kan harus ngerjain hal lain?…Hastaga…kehidupan bersosmed memang sangat menyita waktu!

Terus apakah dengan demikian kita jadi kapok dengan sosmed? Ya janganlah! Ambil manfaatnya untuk jalin keakraban dan silaturahmi, diskusi dan tukar informasi. Ya kadang-kadang nggosip kecil. Kadang-kadang selfie kalo lagi kepengen. Tapi kalau membuat kehidupan sosial media menjadi lebih penting dari realitas yang sesungguhnya, agak mencemaskan buat saya. I mean majang foto di berbagai tempat mewah nggak tahunya rumahnya masuk gang yang masih ada turunan lalu tikungan dan tanjakan, ngontrak pula! Foto makan disana-sini nggak tahunya tagihan KTA nya sudah ngelunjak setinggi gunung dan dikejar-kejar debt collector. Saya rasa kualitas kehidupan tidak ditentukan dari apa yang nampak di sosial media. Mau tidak mau perjumpaan face to face atau wajah dengan wajah. Dolan ke rumah, minum teh, makan makanan kecil, menunjukkan ikan atau anjing kesayangan yang ada dirumah, menjadi nilai yang sesungguhnya dari kehidupan itu sendiri. Kelihatan mentereng di sosial media? Dont buy it! Kadang kenyataannya nggak gitu-gitu amat! Tapi disisi lain kalo kenyataannya memang gitu, kita yang gigit jari. Kok idup gue krasa pait amat sih? Hmmm, ..jadilah diri sendiri. Makan bakso di pinggir jalan juga mewah asal ngga ada utang, wajah happy dan baksonya enak murah meriah. Daripada tampilan serba ‘wah’ nggak ada yang tahu kartu kredit udah menjerit minta tolong. Balik lagi,… hidup ini dijalani bersyukur saja. Dan selalu ingat ‘ada yang memberi’ kehidupan yang kini kita nikmati. Almost end of the year people,…introspeksi diri yuuuk?

Facebook Comments

About Josephine Winda

6 comments

  1. katedrarajawen

    Ci Jo, kemarin saya menulis status yang berhubungan dengan media sosial yang saat ini digunakan untuk menulis atau berkomentar tentang keburukan pejabat orang lain sebagai kesempatan untuk membahagiakan diri. Apakah ini termasuk waras?

  2. Kalao saya suka Tumblr. Banyak yang saya pelajari dan menjadi sumber referensi dan inspirasi baru. Terutama kiat menulis (tag: writing/writer) dan grafis (tag: design/photography/comics) sekaligus… atau cuman follow media. misalnya saja ini: http://cutsceneaddict.tumblr.com/post/73875932806/5-tips-for-writing-action-packed-fight-scenes

    dan ini: http://writedemon.tumblr.com/post/104931307140/incidentalcomics-the-inferiority-complex

    pengetahuan dan wawasan yang nggak ada di FB atau Twitter (yang pelit karakter)… Tinggal follow media dan studio terkenal, ok meski nggak terhubung orang lain. hahah… nggak ada bahasa Indonesia disana, nggak seperti Twitter/FB… tapi… cuek aja… https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif