Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Pembunuhan Para Penulis

Pembunuhan Para Penulis

Sebagai ‘penulis wanna be’ —  sekalipun saya sudah menelurkan satu buku melalui Elexmedia, saya masih menganggap diri saya ‘penulis wanna be’ — Nanti kalau saya sudah menelurkan sepuluh buku. Saya baru anggap diri saya penulis. Itupun kalau tidak booming penjualannya, artinya saya penulis ‘biasa’ bukan yang ‘luar biasa’. Kadang saya sungkan, sahabat dan teman dekat bangga karena saya menulis. Bagi mereka luar biasa saya sudah menelurkan satu buku. Sayanya yang enggan, waduh kalo dianggap bagus nggak apa-apa. Jangan-jangan ada yang baca dalam hati berpendapat ‘halah tulisan cuma kayak gitu kok dibanggakan. mana buku juga baru saja satu yang dilahirkan. apa bagusnya?’ — Padi itu makin merunduk berisi. Saya masih percaya nasihat guru SD saya. Jangan cuma karena prestasi kecil lalu kita bangganya kebesaran. Tetap mawas diri, perbaiki kualitas menulis dan hadirkan karya berikutnya. Tetapi terima-kasih dan tersanjung dengan teman-teman yang beranggapan baik bahwa saya cukup membanggakan dengan berhasil menembus Elexmedia. Saya masih punya lima naskah yang belum ‘goal’ dan sekarang sedang menulis naskah keenam. Dan masih ada seribu skema — model penulisan di kepala yang hendak saya tuangkan.

Sebagai ‘penulis wanna be’ tentu saya tahu dan melihat peta perbukuan dengan baik. Ada Dee, Dewi Lestari yang menjulang dengan serial Supernova-nya dan terakhir Gelombang. Jujur saya itu ‘males mikir’ — ketika disuguhi Supernova saya merasa memang buku itu penuh lonjakan pemikiran yang serba berbeda. Ibarat grafik detak jantung bentuknya tak beraturan, banyak kejutan. Saya lebih suka karyanya yang romantis ‘perahu kertas.’ Sekali saya berjumpa dengan Dee disebuah Cafe tanpa sengaja. Kami duduk bersisian dan saya ungkapkan padanya bahwa saya juga sedang berusaha menjadi penulis professional. Ia hanya tersenyum, seolah senyumannya mengatakan ‘I’ll see you there, if you can make it.’ Artinya jadi penulis itu apalagi tulisan mewujud dalam bentuk satu buku utuh itu sangatlah sulit. Kalaupun sudah jadi ada saja orang yang bingung, “ini loe nulis apaan sih? Kagak nyambung dan nyampah banget!” –– Sakitnya tuuuh disini! Saya sekali berfoto dengan Dee di Cafe itu dan rasanya masih menyimpan foto itu dengan baik. Saya berpikir suatu hari kalo saya benar-benar eksis menulis dan berjumpa lagi dengan Dee akan saya tunjukkan foto itu.

wanna be

foto: donaldmcallister

Selain Dee ada banyak penulis lain yang ‘sudah punya nama’ di peta perbukuan. Dalam artian tulisannya wara-wiri berbentuk buku terbitan Gramedia ataupun mejeng di berbagai media massa. Tadi saya membaca beberapa ulasan tentang seorang penulis yang namanya sudah sering saya dengar tapi saya tidak kenal secara pribadi dan belum pernah baca karyanya. Hanya saja memang karyanya identik dengan cover-cover buku yang ‘Hot’ — rupa-rupa fisik yang cantik, gagah dan seksi dipajang menjadi sampul menarik. Lucunya yang membahas penulis ini ada tiga. Yang dua mencela habis-habisan dan yang satu memuji karyanya. Karya penulis ini memang sepertinya model yang nyerempet ‘bacaan stensilan’ — bacaan kita-kita waktu SMA. Saya asumsikan udah pada lulus SMA lah ya,.. Saya pribadi sudah STOP ‘baca gituan’ cukuplah semasa SMA. Sehingga ya saya memang ngga pernah beli lagi, paling chicklits yang romantis. Ada satu sih karya begituan yang saya masih penasaran yaitu 50 shades of grey, karena buku ini booming. Tetapi saya sangat gak sreg ketika ada penulis resensi yang mati-matian isinya hanya menghina penulisnya secara pribadi. Karena tidak suka dengan karyanya itu yang ‘maaf’ diasumsikan dengan ‘mesum’ dan salah arah. Karena menelanjangi dunia gay, lesbian, transgender dan sebagainya. Bahkan ada orang-tua yang marah karena menjadi transgender seolah ‘disahkan’ dalam tulisan tersebut.

Agak riskan mengomentari masalah transgender dan sebagainya, karena saya tidak begitu paham. Ada beberapa teman pria yang saya ‘curiga’ tetapi tokh itu urusan mereka pribadi karena telah membuat patah hati banyak gadis. Menurut saya orang tua juga harus fleksible, tidak semua melulu kebahagiaan orangtua karena merasa berjasa melahirkan anak-anak. Bagaimana jika anak yang dilahirkan tidak bahagia? Seharusnya orang-tua mengerti punya anak juga ada keikhlasan ‘menerima’ anaknya apa adanya. Mencintai anak itu mau serupa wewe gombel atau serupa Lara Dutta yang Miss Universe. Kisah cinta orang tua bagi anak-anaknya tentu lebih mulia dari sekedar kisah romantika antara lelaki dan perempuan. Paling tidak bobot moralnya lebih dalam. Bisa ada bekas suami/istri/pacar tapi tidak pernah ada bekas anak atau bekas ayah/ibu. Beberapa waktu lalu ada seorang kontestan penari pria yang alirannya transgender dalam acara “SO YOU THINK YOU CAN DANCE”. Anak ini tampan tapi perilakunya gemulai abis, pakai celana sangat pendek, boots tinggi dan rambut potong pendek ala tentara Nazi menari dengan ‘Hot’nya di acara “SO YOU THINK YOU CAN DANCE” dan gagal dengan sukses. Kasarnya penampilan banci kaleng total. Tapi ayahnya sangat mendukung. Ayahnya hadir disitu, mengantar dia mengikut acara, tidak malu bahwa anaknya gemulai bahkan ikut kecewa ketika anaknya gagal sebagai penari. Itulah karakter orang-tua yang sesungguhnya bahwa dia hadir hanya untuk mencintai anaknya. Tanpa setitik timbal balik apapun. Salut!

Kembali ke masalah penulis resensi yang menghina penulis secara pribadi menurut saya jauh dari kriteria manusia elegan, ya maaf saja memang masih barbarian. Kalau menghina dengan cara demikian apalagi memojokkan karena penulisnya transgender atau metroseksual. Menurut saya sebaiknya yang dikritisi adalah karyanya dan bukan si penulisnya. Cara mengkritisi itupun sebaiknya dengan aturan manusia beradab dan bukannya melecehkan bahkan mencaci. Sesungguhnya menurut saya, kalau belum pernah menulis dan tidak published dimana pun, tapi berani mengkritik karya orang itu agak…  “HELLOooo,…siapa elo sih?” Setidaknya pelatih bola rata-rata pernah menjadi pemain bola professional jadi mengerti untuk mengarahkan. Kalo kritik adanya cuma mencaci maki sih semua orang juga bisa. Ketemu orang gila di jalan juga kita bakal dicaci-maki. Menurut saya, orang yang mencoba mengkritik penulis harus hati-hati dengan ucapannya karena penulis, pelukis, penyanyi dan pencipta lagu, pokoknya orang2x dengan talent khusus itu ‘BERTUMBUH’– jadi mereka terus berevolusi untuk menjadi lebih baik dalam karyanya. Tidak semestinya mencela apalagi dengan mencaci, sedangkan Anda sendiri siapa? Nobody. Suatu hari bisa jadi dunia menyembah mereka dan si penulis kritik kasar masuk got. Penulis yang dicela itu karyanya sudah banyak dan meraja di toko buku papan atas. Saya rasa dia anggap angin lalu saja celaan tersebut. Yang menyakitkan adalah apabila celaan ditujukan pada penulis muda atau penulis pemula. Baru mulai saja sudah dijegal,...jyaaah! Ini sih sama saja dengan pembunuhan terhadap penulis. Beruntung penulis yang dihina habis-habisan itu adalah penulis papan atas sehingga yah,…. membaca resensi  itu mungkin nggak sempat. Anggapannya hanya angin lalu,…

Facebook Comments

About Josephine Winda

2 comments

  1. katedrarajawen

    Karya penulis ini memang sepertinya model yang nyerempet ‘bacaan stensilan’ — bacaan kita-kita waktu SMA. Saya asumsikan udah pada lulus SMA lah ya,.. ___________________________________________
    hahha Ci Jo, saya cuma pernah kebagian baca selembar atau dua lembar, karena bukunya disobek2 terus dibagi biar semua kebagian baca.

    Soal kepada kritikan atau bahkan hinaan dari seseorang, memang bisa menjadi pembunuh bagi seorang penulis tetapi juga bisa menjadi pelecut untuk menunjukkan siapa diri kita yang sesungguhnya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif