Home » Rubrik Khusus » Winda's Scriptease » Penulis, Editor Dan Peresensi

Penulis, Editor Dan Peresensi

Beberapa waktu lalu saya mengaktifkan kembali akun saya di media sosial yang mengupas tentang aneka buku, penulisan dan resensinya dari para pembaca. Yang membuat saya terkejut-kejut resensinya ‘kejam sekali.’ Ada yang mengatakan ‘ini terakhir saya beli buku Anda.’ Yang berikutnya mengatakan ‘Saya heran buku seperti ini kok diperjual-belikan’. Dan sebagainya. Pada intinya segala hujatan yang membuat penulis wanna be seperti saya jadi ciut nyalinya. Saya pikir-pikir itu bukan salah penulisnya, jujur menurut saya itu adalah salah penerbitnya. Mengapa tulisan demikian dapat diterbitkan dan diperjualbelikan? Jika pada akhirnya hanya menuai hujatan? Penerbit seharusnya punya editor in chief yang tidak berani mempertaruhkan nama baik perusahaan penerbitannya sendiri.

foto: pinterest

That’s why seburuk apapun menulis tidak mengapa. Lebih baik naskah itu ditolak dan diperbaiki sebelum di kirim ulang untuk diterbitkan. Hingga mendapat perbaikan yang paling sempurna barulah layak terbit. Naskah saya ‘croissant’ — ditolak sebuah penerbit hingga setahun. Setahun menunggu tiada kabar berita! Ketika datang kabar ditolak pula! Hehe,.. Ibarat tunangan, setahun menanti ketika ketemu hanya untuk memberi kabar dia sudah menikah dengan orang lain! Ha-ha,..Untuk yang gemar menghujat penulis, saya pikir kalau sudah pernah menulis dan menerbitkan bolehlah menghujat kasar. Artinya sudah mengerti ‘begonya’ si penulis tersebut. Tapi kalau sama sekali belum pernah. Adakah terlintas bahwa menulis yang layak, bahkan hingga dapat bintang, hingga masuk dapur penerbitan itu sangatlah tidak mudah!

Sebelum saya menerbitkan dengan penerbit mayor, saya pernah ingin mencoba menerbitkan secara mandiri. Ada terlintas dalam benak. Tetapi ketika saya ajukan tanya-jawab saya mendapat kesan penulis adalah ‘pembeli’ dan mereka yang memberikan jasa adalah ‘penjual.’ Dalam benak saya penulis itu adalah ‘penjual’ karena ia menjual tulisan dan hasil karyanya. Kalau penulis belum ‘menjual’ apapun malah kemudian ‘membeli’ jasa penerbitan apakah tidak salah kaprah konsepnya? Kalau sudah punya ‘rencana’ dengan penerbitan mandiri yang dilakukannya tidak mengapa. Mungkin mau dibagikan gratis. Mungkin mau dijual murah. Mungkin hanya untuk kebanggaan. Tidak mengapa. Tapi kalau belum ada ‘rencana’ hanya akan menambah beban pengeluaran dan beban moral karena harus jualan karyanya sendiri (mending bagus?). Buat apa menerbitkan buku kalau kemudian tidak ada yang membeli? Lolos masuk dalam penerbit (mayor) juga menjadi penanda bahwa naskah Anda sudah ‘cukup layak’ dibaca masyarakat luas.

Apakah semua naskah yang masuk ke penerbit bagus? Sepertinya selalu ada kekurangannya. Mungkin ada yang penulisannya baik tetapi temanya terlalu umum, cara nulisnya terlalu datar. Ada yang temanya unik tetapi cara nulisnya masih ancur dan berantakan. Maka dari itu dibutuhkan editor. Penulis ternama di luar negeri ‘membayar’ atau ‘menggaji’ editornya sendiri. Sehingga ia tidak pusing. Tidak ada penulis yang menulis sempurna. Pasti ada setitik kealpaan. Tanda baca yang salah. Kata yang kedobel. Makna yang salah. Pengulangan kata. Editor akan mengamplas halus semua itu sehingga tulisan ibarat mebel, penulis adalah tukang kayu yang menggergaji dan ketak-ketok. Tetapi editor yang mengamplas halus, memfernish dengan indah dan berkilau. Jadilah naskah yang menarik dan enak untuk dibaca. Penerbitan mandiri yang menyertakan editor ‘ngasal’ sangat merugikan penulis. Karena tulisan si penulis sesungguhnya tidak diamplas, tidak diperhalus. Asal diperbaiki tanda baca lalu dicetak saja. Tidak diberi masukan bahwa ‘ada yang aneh dengan kalimat Anda di paragraf sekian.’ — Nggak mungkinlah orang bisa nulis sempurna kalau tidak dibantu editor (berpengalaman & bertanggung-jawab).

Kesimpulan saya jika ingin menulis, teruslah menulis dan konsisten. Ajak salah satu sahabat/ teman dekat jadikan editor bayangan. Yang membantu membaca naskah Anda pertama kali dan memberikan masukan baik dan buruknya dimana. Tentu saja minta bantuan pada yang gemar membaca. Jangan orang yang gemar memasak atau nonton acara sulap dipaksa membaca buku Anda lalu ditanya pendapatnya. Pasti tentunya akan sangat nggak nyambung. Saya pribadi merasa beruntung berkenalan dengan editor pertama saya. Seorang gadis muda yang sabar, meladeni saya dan sangat-sangat membantu. Tanpa dirinya tidak mungkin saya akan sampai pada penerbitan sebuah naskah. Juga ada sahabat yang membaca naskah saya, sekalipun awam dia gemar membaca dan memberi masukan-masukan. Dari situ karakter menulis kita terbentuk, dengan bantuan editorial sederhana.

Dulu saya juga berpikir, penerbit mayor itu pilih kasih. Yang diterbitkan pasti yang sudah punya nama atau yang sudah kenal atau yang itu-itu saja. Ternyata bukan itu. Mereka menunggu hingga tulisan kita ‘layak’ untuk masuk dapur penerbitan. Kalaupun harus diedit tidak yang hancur banget, sampai editornya harus menulis ulang naskah tersebut. Jadi naskah kita juga harus bolak-balik dibaca dan diteliti sendiri oleh kita, sudah layak belum? Dan jujurlah. Jangan naskah tulisan dengan judul “gue naksir elo” — Lalu kita yakin itu sudah naskah yang terbaik. Yaellah,... tukang ojeg juga bisa nulis judul seperti itu. Bikin judul yang keren seperti “The Fault in Our Stars” (Kesalahan ada pada bintang-bintang kita) karya John Green yang sudah di film-kan. Namun untuk konten isi juga harus dijaga kualitasnya, jangan modal judul doang. Sama saja ngebungkus kado cantik, isinya batu kali. Nah, ternyata menulis susah juga ya ? But, jangan putus asa…Keep writing,..keep-keep-keep…

Facebook Comments

About Josephine Winda

7 comments

  1. katedrarajawen

    Yang sering dan sudah umum memang pastinya kita akan merasa karya kita sudah layak untuk dibukukan sehingga berani kirim ke penerbit, tapi ketika tidak diterima, bisa kan justru kita menganggap mereka pilih kasih, padahal memang tulisan kita kurang standar, lumayanlah soalnya pernah dikasih masukan waktu ikut lomba nulis yang diadakan bentang pustaka, benar2 diberikan masukan bagian mana yang harus ditambah atau dikurangi melalui google Drivehttps://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif

    • Yuppp jika mereka penerbit senior, punya waktu dan berbaik hati memang akan diberitahukan kekurangannya dimana sehingga bisa diperhalus/diperbaiki. mau serius lagi..ambil kursus penulisan…ada banyak yang menawarkan kok….

  2. katedrarajawen

    Nambah, iya terus terang ada rasa lkecewa dengan buku saya bareng mbak Fitri dulu, karena percaya sama penerbit akan diedit, ternyata nashka diterbitkan begitu saja, sehingga ada beberapa kesalahan ketik yang dibiarkan saja

    • Saya “Nyaris” tuh Ko-kat…. untungnya ngga jadi ! karena saya liat cuma niat (yah maaf) cari untung semata…. mudah mudahan mata hatinya dibukakan….nyari untung semata nggak miara kualitas pasti ya lama-lama nggak laku lah….https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

  3. Ada yang kurang dari tulisan ini (yang mungkin berbeda dari pandangan saya)… begini, saya tidak tahu apakah untuk buku komputer… apakah sang editor paham bahwa buku tersebut murni dari si penulis atau tidak. Berkaitan dengan ini saya mengambil contoh lain, apakah sang juri lomba logo tahu si peserta sayembara murni dari pemikirannya sendiri atau tidak. Saya pernah kapok lomba logo massal yang tulisannya bisa dibaca di K, akibat pesertanya bisa mencontek satu sama lain… sama dengan lomba menulis dengan memajang karya di suatu situs yang bisa juga dicontek sebelum deadline.

    Saya pernah sangat kecewa membeli buku yang dari segi isi, ngelecehin pembaca banget. Ini linknya, semoga penulisnya minta ampun kepada Tuhan YME karena karyanya sampah banget…:
    http://tinypic.com/view.php?pic=k9t852&s=6
    Mengapa saya katakan sampah? Karena nggak menghargai uang saya, saya pikir. Mengapa? Jika kita buka banyak halaman, buku tersebut serasa menjiplak dan terjemahan dari keterangan HELP pada aplikasi Macromedia Director 8.5 itu. Siapa nggak jengkel coba? Segoblok2nya Bahasa Inggris saya, saya tahu lah arti penjabaran HELP pada aplikasi tersebut.

    Sekarang bayangkan saja ce Jo… pastinya sebagai penulis pernah berhubungan dengan Microsoft Word. Ya kan? Bagaimana jika kita mendapati ada buku yang kita beli ternyata benar2 mentah menduplikasi fasilitas HELPnya? cuma beda bahasa doang… pastinya dongkol banget… karena sadar beli buku itu pake uang, bukan pake daun… tentang buku itu sendiri akhirnya saya rombeng di pasar buku bekas Surabaya… Entah jln. Semarang, entah di Blauran… (lupa)… karena sudah terlanjur jengkel dan muak… wkwkwkw …maaf ya saya menumpahkan kejengkelan disini :)

    Saya bandingkan dengan tulisan ce Jo yang selama ini memang hampir selalu saya baca tulisannya adalah pemikiran sendiri (saya hampir selalu membaca) karena bisa dikatakan, saat di K dulu… (bahkan ada sampai sekarang), ada satu-dua tulisan yang terpikir oleh saya, tapi tidak tahu bagaimana mengungkapkannya. Bisa dikatakan, saat itu dari tulisan ce Jo serasa “juru bicara” saya deh, karena selama ini saya pendam untuk hal tersebut… Saya selalu menghargai orang yang berpikir dari dirinya sendiri… :)

    • Gini Agung ya,…kamu sebelum beli buku lihat PENERBITnya SIAPA? dan lihat ulasannya di RESENSI. biasanya di Goodreads suka ada resensi BUKU… jangan langsung beli. Brows dulu ke internet : judul buku + nama pengarang.

      Makanya saya usahakan tulisan saya sendiri itu ‘maksimal’ bolak balik saya edit + baca ulang …supaya nggak mempermalukan saya sendiri SUATU HARI KELAK…. DAN BOLAK BALIK SAYA BILANG, BANYAK BACA. Kalau mau NULIS HARUS BANYAK BACA…

      Mengenai Juri/editor/penyelenggara mereka mungkin SULIT mendeteksi semua peserta apakah ASLI NULIS SENDIRI? atau plagiat?? Tapi GINI — BAKAT ITU NGGAK TERTUKAR… FOR SURE,… Karya Picasso nggak akan tertukar dengan karya pelukis jalanan. KALO kita MAKSIMAL + TALENTED, orang lain nyontek dengan TIDAK TAHU MALU, ya sudah KITA SEDEKAH ke dia. Tapi ingat saat yang bersangkutan diminta nulis atau misalnya mendesign atau menggambar lagi …PASTI TIDAK BISA MENYAMAI BAKAT YG MEMANG HANYA DIMILIKI SESEORANG… saya yakin itu. Okay? Sippp!

      Perasaan kok jadi kaya pembawa acara OMAMA OPAPA…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif