Home » SOSIAL BUDAYA » Doa Untuk Negeri » “Pemuda yang berbudaya”

“Pemuda yang berbudaya”

Ditengah era globalisasi ini, banyak sekali pemudanya yang meninggalkan kultur budaya diakibatkan invasi dari budaya luar, musik gamelan contohnya yang bilamana dibandingkan dengan musik rock maka perbandingannya lebih mengarah kepada musik rock. Wajar bilamana ada para pemerhati budaya banyak yang mengkritiki dan memprediksi negri ini akan mengalami kemerosotan pada bidang budaya. Konsentrasi karakter nilai budaya perlu kiranya kita revitalisasi kembali. Khususnya nilai-nilai budaya yang bermula dari keluarga, sekolah dan masyarakat, karena dari sanalah dapat ditanamkan.

Budaya indonesia adalah budaya yang termuat dalam kandungan dan arti nilai-nilai pancasila. nilai-nilai dari budaya pancasila yang ada di indonesia ini penting karena itu adalah salah satu bagian dari pilar bangsa ini. Seperti bangunana yang bilamana pondasi dari sebuah bangunan tersebut runtuh, maka runtuhlah semuanya, begitu juga dengan budaya indonesia yang menjadi pondasinya. Ketika nilai-nilai budaya indonesia ini ditanamkan dikeluarga, sekolah maupun dimasyarakat dan bisa konsisten dilakukan maka, kita patut berbangga karena itu merupakan sebuah bukti bahwa kita mampu berbuat terhadap bangsa indonesia.

Ada pertanyaan menggelitik di hati para pemerhati budaya. Katanya “sekarang ini kita tidak perlu mempertahankan budaya asli, namun sekarang ini kita harusnya mengembangkan budaya asli itu”. Kenapa harus dikembangkan! Tidak dipertahankan? Ya! Memang karena jikalau kita cuman bisa mempertahankan maka budaya tidak akan bertahan lama, karena diserang oleh budaya impor. Coba kita lihat dewasa ini pemuda negri ini lebih sering terpapar budaya moderen (impor) ketimbang budaya tradisional (dalam). Lain halnya dengan mengembangkan budaya, dengan mengembangkan budaya maka akan lebih mudah mempertahankannya, walaupun tidak semua dapat bertahan, tetapi esensi dari budaya tersebut tentunya masih tersisa. Sisanya itulah yang menjadi ciri khas buday kita. Ciri khas ini kalau boleh dianologikan seperti tanah sebagai “Budaya dalam”, dan bijinya sebagai “budaya luar”, biar bagaimanapun biji tersebut pasti menyatu untuk bisa tumbuh dan berkembang dengan tanah, buahnya pasti mewarisi asupan nutrisi yang didapat dari tanah tersebut, walaupun bijinya dari produk impor.

Mundurnya perkembangan budaya hari ini di indonesia karena hilangnya kepekaan peran orang tua dalam mendidik anaknya (menanamkan budaya). Disinilah mengapa peran orang tua dalam mengembangkan budaya pancasila indonesia kepada anaknya (dalam keluarga) itu penting. Ternyata begitu pentingnya dan gentingnya peran orang tua hari ini dalam perkembangan dan pembangunan budaya di indonesia. Lalu bagaimana dengan anak mudanya? Anak mudanya pun! juga harus memiliki kesadaran dan keyakinan yang teguh untuk mengembangkan budayanya. Anak mudanya juga harus bisa konsisten dalam mengawal perjuangan untuk melestarikannya. Karena majunya budaya indonesia kedepannya ini ditentukan oleh komitmen anak mudanya sekarang. Jikalau semua peran dilini dasar ini mampu diterapkan maka kedepannya budaya kita mampu bangkit dan berkembang bahkan bisa berkembang ke negara lain (seperti berkembangnya budaya luar/ impor ke negara kita saat ini).

Berkembangnya budaya indonesia merupakan cita-cita kita bersama sebagai wujud perlawanan serta wujud cintanya kita kepada budaya indonesia. Hari sumpah pemuda yang jatuh pada tanggal 28 oktober yang lalu, kita jadikan momentum besar bagi pemudanya untuk bangkit serta menyuarakan keluhuran budaya yang ada di seluruh indonesia. Selamat hari sumpah pemuda semoga anak mudanya cinta budaya indonesia.

Facebook Comments

About Yogi Adhiatma

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif