Home » SOSIAL BUDAYA » Gaya Hidup » Ekspresi » Opini Ketik'ers » Mengais Remah Independensi Media Massa

Mengais Remah Independensi Media Massa

Pemilu 2014 ini memang sangat menarik. Hanya dua pasang kandidat yang mengajukan diri sebagai capres-cawapres membuat seolah sikap politik masyarakat terbelah hanya menjadi dua : pilih nomor satu atau pilih nomor dua. Terlepas dari sengketa di Mahkamah Konstitusi yang tengah berlangsung, ada banyak catatan yang perlu direnungkan oleh semua komponen di negara ini. Salah satu dari catatan itu adalah keterlibatan media massa dalam prosesi pesta demokrasi ini.

Sejatinya peran media massa adalah menyampaikan informasi yang layak diterima oleh publik. Dengan penekanan bahwa informasi tersebut haruslah disampaikan apa adanya tanpa ada yang disembunyikan maupun ditambahkan. Seorang teman yang mengambil studi Ilmu Komunikasi pernah menyampaikan kepada penulis bahwa tidak mudah membuat berita yang independen. Sering kali mereka yang menulis berita harus ikut terseret ke arah penulisan yang subyektif dikarenakan adanya pembauran emosi dalam proses menulis. Tapi bukan berarti menulis berita yang obyektif menjadi hal yang mustahil.

Seorang rekan penulis yang bekerja sebagai wartawan media lokal juga pernah mengeluh dikarenakan isi berita yang seharusnya muncul di halaman koran tidak sesuai dengan apa yang ia berikan kepada pihak redaksi. Ada beberapa informasi penting yang sengaja dihilangkan oleh pihak redaksi koran. Umumnya berita yang dipenggal isinya ini berkaitan dengan kebijakan pemerintah dan berita politik. Resikonya tentu saja berita yang sampai kepada khalayak tidak sebagaimana mestinya.

Hal seperti itu juga muncul dengan sangat deras ketika Pemilu 2014 berlangsung. Banyak media massa memberitakan berita secara berpihak alias tidak independen. Tak perlu ditulis media massa mana saja yang memiliki kecondongan pemberitaan ke masing-masing calon presiden. Hebatnya media massa yang ada bukan lagi menjadi alat komunikasi yang bersahaja, tapi malah jadi alat fitnah dan pemecah belah. Tanpa memikirkan perasaan penerima berita, media massa memanipulasi data-data yang ada. Alhasil keadaan masyarakat semakin terpecah belah. Apa sikap kita terhadap media massa seperti ini?

Menjadi penerima informasi yang cerdas, demikian cara yang bisa kita lakukan saat ini. Silahkan saja media massa mengeluarkan berita abal-abal yang merusak, tapi jika kalangan penerima informasi sudah cerdas, tak ada banyak hal yang perlu dicemaskan. Setelah menerima informasi yang ada, orang-orang yang cerdas akan mempertanyakan kebenaran berita yang ia dapatkan. Akan ada proses pembandingan dengan sumber berita lain. Lalu melihat seberapa pentingnya isi berita tersebut. Tentu saja nanti dapat berujung pada penentuan sikap si  penerima informasi.

Dengan sendirinya kita dapat melihat perbedaan antara penerima informasi cerdas dengan penerima informasi (maaf) kurang cerdas. Jika penerima informasi cerdas tidak akan grusa-grusu memberikan komentar terhadap berita yang dibacanya, maka penerima informasi kurang cerdas akan langsung meng-share berita yang ada selama isinya mendukung opini yang memang telah ada dibenaknya. Bahkan terkadang si penerima informasi kurang cerdas akan langsung membagikan link berita meski baru membaca judulnya saja. perbedaan lainnya adalah jika penerima informasi cerdas akan berusaha membandingkan informasi yang didapatkannya dari banyak media massa, maka penerima informasi yang kurang cerdas tidak membutuhkan proses pembandingan selama berita yang ia dapatkan sudah cukup memenuhi dahaga yang membenarkan pemikirannya sendiri. Banyak media massa di sini sudah barang tentu bukan dimisalkan dengan banyak website yang berasal dari satu kalangan saja. Tapi berasal dari pengelola dan afiliasi media yang berbeda-beda. Kan lucu jika kita membandingkan isi media massa yang sama otak pengelolanya.

Menjadi penerima informasi yang cerdas tentu juga tidak mendiamkan keberadaan media massa yang hobi memfitnah untuk eksis muncul di publik. Sebagai konsumen berita, kita bisa saja mengkritik media bersangkutan karena tidak puas dengan layanan yang diberikan. Banyak ruang yang bisa dilakukan untuk hal seperti itu. Misalnya saja dengan terlibat dalam jurnalisme warga seperti ketikketik.com ini. Beberapa kalangan yang lebih kritis dan berani mungkin akan melaporkan media massa yang “tak beretika” kepada Dewan Pers. Ada juga ruang di Kominfo untuk melaporkan website tak jelas yang kerap menimbulkan berita fitnah.

Facebook Comments

About hariyanto bin karjono

2 comments

  1. independensi itu harus selalu dijaga, karena media massa sebagai penyamai berita ke tengah masyarakat. https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif