Home » SOSIAL BUDAYA » Gaya Hidup » Rekreasi » Jalan Jalan » Wisata Kuburan di Bali

Wisata Kuburan di Bali

Mungkin anda langsung berpikir wisata kuburan adalah sebuah wisata yang menyeramkan, penuh mistis dan mengerikan. Anggapan itu tidaklah benar, daya tarik dan keunikan yang dimiliki kuburan ini akan menyirnakan perasaan tersebut . Mungkin wisata ini dapat dijadikan salah satu alternative wisata bagi mereka yang sudah bosan dengan wisata pantai, kuliner ataupun shopping mall.  Wisata kuburan yang dimaksud di Bali ini adalah kuburan yang terletak di Desa Trunyan, sebuah desa kecil yang berpenduduk hanya sekitar 600 orang yang berada di Kabupaten Bangli. Desa ini merupakan desa tertua di Bali dan dikenal sebagai desa memiliki adat istiadat unik yang salah satunya adat pemakaman warganya.

Prosesi pemakaman mayat di Trunyan berbeda dengan proses pemakaman yang ada di Bali pada umumnya, yang biasanya dilakukan melalui penguburan atau pembakaran, dikenal dengan prosesi ngaben. Namun, di Desa Trunyan orang yang meninggal bukan dikuburkan atau dibakar, melainkan hanya dibaringkan diatas tanah, dibiarkan di permukaan tanah dangkal berbentuk cekungan panjang. Posisi jenazah dijejerkan bersanding antara satu dengan yang lainnya, lengkap dengan pembungkus kain sebagai pelindung tubuh di saat prosesi upacara. Yang terlihat hanya bagian wajah nampak dari celah bambu “Ancak Saji”. Ancak Saji adalah sebuah anyaman terbuat dari bambu berbentuk segitiga sama kaki yang berfungsi untuk melindungi jenazah dari serangan binatang. Di sekitar ancak saji terdapat benda-benda peninggalan mendiang, ada foto, gelas, piring, sarung, baju, perhiasan, dan benda-benda lain yang disukainya. Tradisi inilah yang membuat Trunyan hingga saat ini dikenal oleh masyarakat baik lokal maupun mancanegara.

Tidak jauh dari tempat mayat dan jejeran tengkorak, terdapat pohon besar yang disebut pohon “Taru Menyan” menjulang tinggi berdiri kokoh menyapa di pintu masuk utama kuburan. “Taru” dalam bahasa Bali artinya pohon dan “menyan” artinya wangi atau harum. Menurut legenda dan keyakinan masyarakat di sana, pohon itulah yang diyakini mampu menetralisasi bau busuk yang menebar di sekitar kuburan tersebut. Akar Taru Menyan menjulur ke berbagai tempat, salah satunya tempat deretan ancak saji yang berisi mayat tersebut.

Terdapat  3 jenis kuburan yang memiliki fungsi berbeda, masing-masing dibedakan menurut sebab orang tersebut meninggal. Kuburan pertama disebut Sema Bantas, diperuntukkan bagi orang-orang yang meninggal karena bunuh diri, berkelahi dan penyakit ganas. Kuburan kedua disebut Sema Nguda untuk bayi atau orang dewasa yang belum menikah. Dan kuburan ketiga adalah Sema Wayah untuk orang-orang yang meninggal karena sakit biasa.

Untuk mencapai lokasi Desa Trunyan ini, ada beberapa pilihan perjalanan yang dapat ditempuh, apabila lewat Desa Trunyan, pengunjung dapat menjangkaunya dengan boat atau perahu sekitar 15 menit menyusuri pinggir Danau Batur. A[abila melalui dermaga, pengunjung bisa menempuh perjalanan boat sekitar 45 menit menyeberangi Danau Batur.

Wisata ini diyakini tidak akan menyeramkan karena selama perjalanan pengunjung akan dimanja dengan pemandangan danau yang indah dan suasana eksotik yang disuguhkan disekitar Desa Terunyan. Selamat berwisata.

— Ni Kadek Suryani –

Sumber gambar :
http://www.tripadvisor.com.au/LocationPhotoDirectLink-g294225-d2628462-i50813929-Trunyan_Cemetery-Indonesia.html#54715915
http://balimurah.wordpress.com/2011/09/08/spesial-trunyan-primitive-tour/

Facebook Comments

About Ni Kadek Suryani

4 comments

  1. katedrarajawen

    Wah makin canggih aja kuburan pun bisa jadi obyek waisata hehehe..kapan ya bisa ke sana?

  2. Terima kasih telah menulis artikel mengenai tempat tempat wisata. Selalu kita tunggu cerita yang lain yah..
    Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif