Home » SOSIAL BUDAYA » Gaya Hidup » Rekreasi » Jalan Jalan » Si jepangnya Indonesia ” Tegal ” ( 3 )

Si jepangnya Indonesia ” Tegal ” ( 3 )

monumen_GBN_Slawi_1
Tegal juga dikenal sebagai tempat berdirinya Lingkungan Industri Kecil (LIK) pertama-tama di Jawa Tengah. Bahkan Industri kecil di Tegal terbangun sejak kedatangan Ki Gede Sebayu yang berasal dari Tlatah Pajang (Solo). Pada waktu itu Ki Gede Sebayu membawa serta 40 kepala keluarga pengikutnya. Oleh Ki Gede mereka ditempatkan di empat desa berbeda sesuai keahliannya. Mereka yang bermukim di Desa Sayangan ahli membuat alat-alat perlengkapan dapur, Sedang yang menempati Desa Mejasem pandai membuat alat-alat pertukangan, Pengikut Ki Gede Sebayu yang membuka lahan di Desa Pagongan ahli membuat alat-alat gerabah serta penduduk Desa Banjaran piawai mengolah bahan-bahan menjadi penganan atau jajanan. Pada dekade 1970-an ada seorang pengusaha besi asal Tegal, Haji Gofur mengangkut 21 Pesawat Terbang tua dari Madiun, Jawa Timur. Oleh Haji Gofur pesawat itu dipreteli menjadi bahan baku industri mesin rumahannya, Serta dijual kepada pengusaha lain. Paling tidak sejak saat itu industri pengolahan logam mulai bergairah di Tegal. Selain LIK di Dampyak Kramat, Sentra – sentra industri ini tersebar di Kecamatan Talang, Tarub, Adiwerna, Kramat, Suradadi, Warureja, Slawi, Lebaksiu (Martabaknya diseantero Indonesia) dan Bumijawa. Tidak kurang dari 128.853 orang terserap pada industri-industri pengolahan dari yang berskala besar, menengah, kecil hingga mikro. Tidak salah bila kemudian Tegal mengklaim dirinya sebagai Kota Industri.
Bukan hanya dari Industri saja yang sangat terkenal dari Tegal. Tapi Tegal terkenal juga akan usaha Gastronomi yang menyediakan makanan dan minuman dengan harga terjangkau. Warung Tegal atau yang sering kita sebut Warteg adalah tempat makan yang khas dari Tegal yang sangat populer serta tersebar luas di berbagai Daerah Indonesia. Pada sejarah awalnya Warteg berasal dari zaman Sultan Agung. pada kala itu Sultan Agung memimpin pasukan untuk menyerang Batavia, Sultan Agung dan prajurit Mataram transit di Tegal. Karena Tegal sebagian adalah persawahan maka Tegal dijadikan pemasok logistik bagi Kerajaan Mataram, Akhirnya warga Tegal diminta untuk menyiapkan makanan untuk prajurit Mataram. Lama – kelamaan dari situ warga Tegal sudah terbiasa menyajikan makanan dalam jumlah yang besar, Sehingga membuka warung makan. Setelah Tegal dilalui jalan pantura kini Tegal menjadi transit truk dan bus, dari situ juga warteg menyebar ke seluruh Nusantara. Banyaknya warteg yang menjamur membuat warteg sangat dikenal bagi kebanyakan masyarakat apalagi di kota – kota besar seperti Jakarta bahkan warteg pun sudah sampai mancanegara seperti Jepang dan Australia. Warteg sering kali menjadi tempat makan favorit bagi masyarakat menengah ke bawah karena harga makanan yang sesuai dengan kantong masyarakat. Tidak heran jika di kota – kota besar pada saat jam – jam makan tertentu warteg akan ramai didatangi para pembeli. Meskipun warteg tempat makan yang murah namun penghasilan yang didapatkan warteg sangat menguntungkan. Rata – rata penghasilan warteg bisa mencapai 500 ribu perhari, Bahkan penghasilan warteg bisa mencapai 60 sampai 560 juta pertahun.

Facebook Comments

About Akhmad Mutaallimin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif