Home » SOSIAL BUDAYA » Gaya Hidup » Rekreasi » Unik » Bothok Mercon, Kuliner Sragen

Bothok Mercon, Kuliner Sragen

botok-mercon2
SRAGEN – Sangat pedas dan terasa panas di lidah, begitu yang pertama kali terasa saat menyantap bothok mercon. Rasa pedas yang amat sangat ini merupakan cirikhas bothok yang satu ini. Bagi pecinta masakan-masakan bercita rasa pedas, botok ikan patin ini dijamin akan membuat ketagihan.

Saat menyantap bothok mercon, akan terasa lebih nikmat bila ditemani dengan teh manis yang panas. Namun bagi penikmat yang berusia muda biasanya lebih menyukai ditemani dengan es teh. Kebanyakan penikmat bothok mercon akan menghabiskan 2 hingga 3 gelas minuman untuk mengimbangi rasa pedas yang serasa melekat lidah.

Mercon membawa berkah

Bisa dipastikan bothok yang berlabel “Mercon” ini hanya dapat dijumpai di daerah Sragen. Tepatnya di sebuah warung kecil di dusun Tenggak, Desa Nglombo, Kecamatan Sidoharjo. Telah 30 tahun lebih warung kecil yang berdiri di dekat jembatan Nggawan ini setia dengan menu tunggalnya yakni bothok mercon. Namun baru sekitar 3 tahunan ini warung milik Wiro Admojo dan Tumiyem mulai ramai dikunjungi pelanggan. Menurut pengakuannya, sejak diberi nama Warung Bothok Mercon sekitar tujuh tahun lalu, warungnya mulai ramai didatangi pelanggan dari berbagai daerah. Semula pelanggannya hanya berasal dari penduduk sekitar. “Sejak diberi nama Mercon, banyak yang penasaran dan ingin mencoba mencicipinya”

Dari plat nomor kendaraan yang digunakan oleh pelanggannya, terlihat banyak yang berasal dari luar daerah Sragen. Larisnya pelanggan yang mampir ke warungnya karena letak warungnya yang strategis yakni dipinggir jalan alternatif Semarang Madiun. “Banyak juga pejabat dari Semarang yang mampir ke warung kami” terang Wiro sambil melayani pelanggan.

Nama “Mercon” untuk warungnya, menurut Bapak berusia 66 tahun ini merupakan pemberian dari salah seorang pelanggannya. “Kala itu beliau sering berkunjung ke warung saya ini, kemudian beliau memberikan nama Mercon, sesuai dengan citarasa pedas botok ikan patin menu tunggal kami” terang Wiro.

Empat Banding Satu

Untuk memberikan citarasa yang sangat pedas, untuk empat kilo gram ikan patin dibumbui lombok sebesar 1 kilogram. Dalam satu hari ia membutuhkan kurang lebih 4 kilogram lombok, karena setiap harinya ia menghabiskan minimal 16 kilogram ikan patin untuk diolah menjadi bothok. Setiap kilogram ikan patin dapat diolah menjadi 9 bungkus. Sehingga dalam satu hari rata-rata ia dapat menyajikan 144 bungkus. Sejak berdiri hingga sekarang, setiap harinya bothok merconnya selalu habis.

Tak jarang ia juga menerima pesanan. Baik pesanan untuk keperluan arisan maupun keperluan lainnya. “Rata-rata setiap pesanan berkisar 50 hingga 100 bungkus” terangnya. Tak pelak bila mendapatkan pesanan istrinya harus kerja lembur. Karena untuk menggolah bothok mercon setiap harinya Tumiyem hanya dibantu oleh seorang pembantu saja.

Namun menurut pengakuannya tidak terlalu lama dan sulit untuk mengolah bothok mercon. Bila tidak mendapat pesanan, setiap harinya Tumiyem memulai aktivitas untuk memasak bothok sekitar jam empat pagi. Ia bersama pembantunya mulai menggoreng ikan patin. Setelah digoreng ikan patin mulai dibumbui dan dibungkus daun pisang. Setelah itu baru dikukus. Selang satu jam menu bothok mercon ikan patin sudah siap disajikan.

Ia termasuk sangat hati-hati dalam menjaga cita rasa bothok merconnya. Sehingga untuk meracik bumbu-bumbunya selalu diraciknya sendiri. Bila diracik oleh orang lain menurut Tumiyem rasanya pasti akan berbeda. Bumbunya termasuk sederhana, yakni brambang, bawang, garam, daun salam, tomat dan lombok.

Harganya murah meriah

Untuk menikmati rasa pedas bothok mercon tak perlu merogoh kocek terlalu banyak. Untuk satu bungkusnya hanya dijual seharga Rp. 3.500,- saja. Biasanya untuk sekali santap, pelanggan bisa menghabiskan 2 hingga 3 bungkus.

Meskipun banyak pelanggan yang kepedasan sewaktu menyantap bothok mercon, namun bisa dipastikan suatu saat akan kembali mengunjungi warungnya.

 

Sumber : humaskabsragen.com

Facebook Comments

About Romi Febriyanto Saputro

2 comments

  1. Saya tahunya cuma bakso juara itu ayah kalau di sragen he,,he,,he,,,kapan kapan saya juga mo pamer ahhh dawet suronatan trus tahu telor alias tepo ces kalo orang madiun bilang terus cemoe terus tepo lodeh dan masih buanyakkk yang lainnya sama ayah romi ha..ha..ha..

  2. dari namanya saja udah keliatan pedesnya seperti apaa :o

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif