Home » SOSIAL BUDAYA » Gaya Hidup » Ekspresi » Fashion » Rahasia Kesaktian Batu Cincin SBY

Rahasia Kesaktian Batu Cincin SBY

Batu Cincin SBY, eh, Tessy.

Malam ini malam Jum’at Kliwon. Jum’at Kliwon yang ketigabelas di tahun Kolobendu. Tahun bencana yang penuh duka cita bagi rakyat kerajaan Jawa Dwipa, karena penguasa jagad menaikan harga BBM di tengah nestapanya rakyat sengsara.

Galau, rakyat pun menjerit parau, namun sang tiran tiada hirau.

***
Bang Pilot tengah duduk leyeh-leyeh di depan padepokannya yang asri. Minum kopi Sidikalang sambil ditemani oleh keempat istrinya yang cantik dan aduhai.

Di angkasa, bulan kabangan merangkak malas mejajari kemuraman mega berarak. Sementara itu, senggeret jangkrik meningkahi sepi yang makin menggigit.

Sepeminuman teh kemudian, tampak layap-layap cahaya obor di kejauhan. Memanjat lereng tebing, lalu arahnya makin mendekat. Tak perlu menunggu lama, kelihatanlah dua orang lelaki tinggi besar bercambang bauk dengan wajah sangar datang menghadap.

Lelaki yang pertama adalah Raden Katedra Raja Wendana, atau lebih dikenal di dunia perdukunan dengan julukan Dewa Tawa Seribu Obat. Ia datang ditemani sohib kentalnya dari negeri Svarna Dwipa, Datuk Suko Waspodo alias Pendekar Sakti Selaksa Syair.

Sesampai di hadapan Bang Pilot, keduanya menjura hormat sambil berucap : “Salam sejahtera buat guru kami yang mulia, semoga panjang umur dan makin bertuah!”

Bang Pilot pun lalu membalas hormat itu sambil berkata : “He he he, ternyata kalian yang datang. Duduklah dan mari kita nikmati wedang kopi hangat ini. Kalian pasti lelah setelah berjalan jauh”.

“Terima kasih, guru”, kedua murid Bang Pilot itu menjawab lalu mengambil tempat agak di sudut.

Bang Pilot melambaikan tangannya, keempat istrinya lalu mengundurkan diri sambil terbungkuk-bungkuk. Dua orang dayang-dayang lalu datang dengan sepoci wedang kopi dan seperangkat peralatan minum kopi berupa keramik mewah dari dinasti Chin.

(Stop press….., bagaimana Bang Pilot bisa mendapat hadiah keramik mewah ini dari Kaisar Chin, silahkan baca serial “Kisah Asmara Tiga Kaisar” dalam episode “Kaisar Chin dan Iblis Pemetik Nyawa”).

Katedra dan Suko menelan ludah menyaksikan pangkal susu kedua dayang itu menyembul indah saat mereka menuang kopi di depan tamu tuannya. Mata kedua pria play boy cap terasi basi itu melotot seolah mau keluar, sementara itu mereka merasa ada sebuah pemberontakan kecil di dalam celana mereka masing-masing. Namun hal itu hanya membuat kedua dayang geulis itu cekikikan kecil.

Setelah kedua dayang cantik itu berlalu, Bang Pilot kembali buka suara.

“Ada apa kalian datang kemari?”
Katedra terkesiap, seketika bayangan mesum di pikirannya buyar. Ia tergagap lalu berkata :

“Begini guru, kami mohon petunjuk. Kami mendengar selentingan di luar, bahwa kaisar kita sebelumnya, Maharaja SBY, ada memiliki sebentuk cincin bermatakan batu bacan doko. Harga batu cincin itu luar biasa tingginya, sampai tiga ribu keping emas. Sebenarnya, apakah kesaktian dari batu itu, hingga harganya jadi selangit dan diburu oleh para pendekar tingkat kosen?”, kali ini Raden Katedra senang karena berhasil angkat bicara dengan lancar.

“He he he…., beberapa purnama yang lalu, guru juga mendengar berita ini. Karena penasaran, akhirnya guru melakukan penerawangan jarak jauh. Hasilnya sungguh di luar dugaan. Batu cincin itu ternyata tidak memiliki tuah sakti apa-apa. Ia menjadi mahal hanya karena yang memakainya adalah seorang Maharaja. Seandainya yang memakainya adalah salah satu di antara kalian, harganya tak akan lebih dari lima keping emas, bahkan lebih murah lagi”, Bang Pilot menjelaskan panjang lebar kepada kedua muridnya.

Mendengar penjelasan gurunya itu, Raden Katedra Raja Wendana dan Datuk Suko Waspodo jadi ternganga. Mereka sama sekali tak menduga kalau berita kesaktian batu cincin milik SBY itu hanyalah isapan jempol belaka. Padahal di kalangan para pendekar dunia persilatan, batu itu dikabarkan akan membawa keberuntungan dan meningkatkan perbawa bagi pemakainya. Juga digembar-gemborkan bahwa batu itu akan melindungi pemakainya dari serangan senjata apapun, termasuk serangan rudal Scud milik mendiang Saddam Husein.

Katedra dan Suko percaya pada berita burung itu, karena sejatinya batu milik SBY itu adalah pemberian seorang empu sepuh nan keramat dari puncak Gunung Kidul, bernama Mpu Bain Saptaman Mbahurekso alias Kyai Lanang Tunggal.

Masih penasaran, Raden Katedra bertanya lagi.
“Tapi guru, bagaimana dengan kisah tuah sakti berbagai benda-benda keramat yang ada selama ini? Lagi pula, bukankah termasuk guru sendiri pernah mengatakan bahwa golok yang guru pakai itu adalah golok keramat yang sakti mandraguna. Bagaimana ini?”

Tenang saja Bang Pilot menyahuti keingintahuan kedua murid kesayangannya itu.
“Murid-muridku, ingatlah, batu tetaplah batu. Besi tetaplah besi. Ia tidak akan pernah bisa menjadi bertuah, sakti apalagi keramat. Yang membuat sebutir batu itu menjadi bertuah atau sakti, adalah khadam atau jin yang menghuni batu itu. Batu itu hanya sebagai maqamnya saja. Itulah sebabnya, terkadang orang bisa tertipu dalam hal jual beli batu bertuah ini. Ketika batu itu diuji, pemegang batu memang bisa tahan bacok, atau tahan tembak misalnya. Tetapi ketika batu itu sudah dibayar maharnya lalu dibawa pulang, pembeli yang menguji kesaktian batunya langsung masuk UGD. Itu terjadi karena khadam batu itu tidak ikut dijual oleh pemiliknya. Namun dipindahkan ke batu lain, untuk dijadikan modus berikutnya”.

Bersambung …..

 

foto : http://rasarab.files.wordpress.com/2014/05/f12ae-tessy.jpg

Facebook Comments

About bang pilot

2 comments

  1. katedrarajawen

    Waduh kok ada pemberontakan kecil ya? Loh mata Kucing yang 2 m milik Prabu SBY ke mana ya?https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif

  2. Hehehe.., itu manusiawi sekali, Mas Katedra. Tanda masih normal.
    Wakakakakaka…

    Mata kucing itu udah diganti dengan yang baru kayaknya.
    Hehehe, yang senang ya para pedagang batu mulia, dapat free great promo dari sang prabu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif