Home » SOSIAL BUDAYA » Motivasi dan Inspirasi » Inspirasi » Figur » Presiden Itu Pemimpin, Bukan Penguasa

Presiden Itu Pemimpin, Bukan Penguasa

Presiden Itu Pemimpin, Bukan Penguasa
Oleh Budianto Sutrisno

Jokowi

Setiap keluarga membutuhkan pemimpin atau kepala rumah tangga yang baik. Setiap institusi atau perusahaan membutuhkan pemimpin yang cakap. Begitu pula halnya dengan sebuah negara. Tak ada negara yang tak membutuhkan pemimpin yang adil dan bijaksana untuk membawa rakyatnya memasuki era keemasan yang dicita-citakan.
Dari catatan sejarah, kita dapat mempelajari berbagai kisah orang yang menjadi pemimpin di berbagai negara, baik di Barat maupun Timur. Ada yang dinilai berhasil, misalnya Kaisar Taizong dalam dinasti Tang, Cina (626-649). Ada juga yang gagal dan berakhir dengan nasib yang tragis, misalnya raja Louis XVI dari Perancis (1774-1792).

Penguasa atau pemimpin?
Karena bentuk pemerintahan kita adalah republik, maka pemimpin tertinggi Indonesia adalah seorang presiden. Dan karena bentuk negara kita adalah negara kesatuan, maka salah satu tugas penting presiden adalah memelihara persatuan dan kesatuan wilayah beserta rakyatnya yang tinggal di ribuan pulau di nusantara.
Sebelum kita melangkah lebih lanjut untuk membahas kriteria, kita perlu membedakan terlebih dahulu antara seorang penguasa dan pemimpin. Seorang penguasa cenderung mengagungkan kekuasaannya sebagai otoritas tertinggi yang sering digunakan untuk mewujudkan kepentingan pribadi atau kelompok sendiri. Jadi, penguasa itu hanya bertindak selaku supervisor (penyelia) yang menguasai bawahannya. Situasi semacam ini cenderung menjadikan dirinya sebagai sosok despot, otoriter, atau diktator.
Sementara, seorang pemimpin itu cenderung memberikan motivasi dan menjadi inspirasi bagi orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan bersama yang lebih baik. Bagi pemimpin, kekuasaan adalah sesuatu yang dengan sendirinya melekat pada dirinya akibat pelaksanaan tugas yang baik dan bertanggung jawab. Dia tak menggunakan kekuasaannya untuk melakukan tindakan yang sewenang-wenang.

Sejumlah kriteria
Pada dasarnya kriteria menjadi presiden itu dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yakni kriteria yang bersifat tangible (nyata dan terukur jelas) dan kriteria yang bersifat intangible (tak nyata dan tak terukur jelas).
Kita mulai dengan kriteria yang bersifat tangible. Seorang presiden yang memimpin sebuah republik – apalagi Republik Indonesia yang terbentang luas dari Sabang sampai Merauke – haruslah memiliki mata elang yang tajam. Pandangan atau wawasannya luas sekaligus juga harus bisa terfokus terhadap masalah yang dihadapi.
Elang tak takut terbang sendirian menembus angkasa raya. Berani mengambil risiko, dan tidak sekadar ber-’kwek-kwek-kwek’ seperti kawanan bebek. Ketika melatih anaknya terbang, induk elang membawa si anak terbang tinggi, lalu menjatuhkannya dari angkasa. Sebelum sang anak terempas ke tanah, sang induk segera menyambarnya, dan membawanya terbang kembali ke angkasa. Hal itu dilakukan berulang kali sampai si anak mahir terbang. Presiden yang memiliki karakter elang pastilah sosok yang memikirkan hari depan bangsa. Ia melakukan kaderisasi untuk melatih generasi muda menjadi insan mandiri. Pikirannya menggapai hari depan bangsa pasca-masa jabatannya. Kriteria kedua. Presiden itu harus memiliki perilaku ’satunya kata dengan perbuatan’. Apa yang dikatakan oleh presiden di depan rakyat, itulah yang dilakukannya. Dengan kata lain, presiden haruslah seorang yang jauh dari sifat munafik.
Jika presiden selalu konsisten dengan apa yang diucapkannya, ia akan menjadi presiden yang berwibawa yang pada akhirnya membangun loyalitas rakyat untuk menaati undang-undang dan peraturan yang berlaku.
Kriteria ketiga. Seorang presiden haruslah seorang sosok pemimpin yang mampu memberi suri teladan kepada seluruh jajaran pemerintahan dan rakyat.
Contoh konkretnya: bila seorang presiden menyerukan kepada segenap rakyat agar tidak melakukan korupsi, maka presiden itu sendiri harus memberikan teladan bahwa ia benar-benar jujur dan bersih dari tindakan korupsi.
Kriteria keempat. Seorang presiden harus berjiwa melayani, bukan dilayani. Melayani siapa? Melayani rakyat. Untuk itu, sang presiden harus rendah hati dan dekat dengan rakyat serta tidak melakukan diskriminasi dalam bentuk apa pun. Melayani itu berarti mengabdi. Presiden adalah abdi rakyat, dan rakyat adalah majikan presiden.
Di era demokrasi ini presiden harus mampu mengusahakan sedemikian rupa sehingga kelompok minoritas terlindungi hak-haknya. Perilaku adil semacam ini akan berbuah manis: presiden akan dihormati dan dicintai rakyat.
Kriteria kelima. Presiden harus merupakan sosok yang berhati lapang untuk menerima kritik, nasihat, masukan, dan juga kecaman demi perbaikan kinerja. Sebaliknya, segala sanjung puji jangan sampai membuat presiden besar kepala dan lupa diri. Sosok presiden harus berada pada titik keseimbangan antara kritik dan pujian.
Jiwa kenegarawanan seorang presiden tidak akan meladeni kritik destruktif dengan sikap amarah atau dendam, tetapi menundukkannya dengan berkinerja secara lebih baik lagi. Bukankah pepatah Barat mengatakan ”Actions speak louder than words”? (Perbuatan itu berbicara lebih nyaring ketimbang perkataan).
Kriteria keenam. Kriteria ini memiliki kaitan erat dengan kriteria kelima. Presiden harus memiliki hikmat dalam memilih para menteri dan segenap asisten maupun ajudan – yang notabene merupakan pembantu presiden dalam melaksanakan tugas kepresidenan. Para pembantu ini haruslah memiliki motivasi yang benar dan jujur dalam melaksanakan tugasnya. Secemerlang apa pun pikiran dan gagasan seorang presiden, ia harus memperoleh masukan yang benar, bukan informasi yang telah dimanipulasi untuk kepentingan tertentu yang bisa berakibat fatal. Raja Louis XVI, misalnya, sebenarnya cakap dalam menjalankan roda pemerintahan. Akan tetapi ia dirongrong oleh orang-orang di sekitarnya yang berwatak sengkuni dan durna. Bahkan raja yang satu ini ’ditelikung’ oleh istrinya sendiri yang luar biasa boros, Marie Antoinette, sehingga kas negara terkuras habis.
Kriteria ketujuh. Presiden itu harus mampu mendekati rakyat dan bersedia didekati rakyat. Karenanya, presiden harus memiliki sejumlah nomor telepon atau hotline yang mudah dihubungi oleh masyarakat yang membutuhkan pertolongan. Agar dapat mencapai sasaran, hal ini perlu disosialisasikan terlebih dahulu kepada masyarakat luas.
Kriteria kedelapan. Kriteria pamungkas ini merupakan kriteria yang intangible, karena menyangkut relasi antara presiden dan Tuhan – Sang Pemberi amanah. Presiden haruslah sosok yang menaruh rasa gentar kepada Tuhan. Gentar kepada Tuhan Yang Mahasuci, Mahabenar, dan Mahaadil, merupakan karakter terpenting yang harus dimiliki oleh seorang presiden. Mengapa? Karena sosok tersebut menyenangi kebenaran. Merupakan insan yang menjauhi dan membenci segala kejahatan dan hal-hal yang melanggar hukum serta undang-undang. Rasa gentar ini membuat yang bersangkutan menyadari bahwa ada Sang Mahahadir yang selalu memerhatikannya.

Memilih secara bijaksana
Mengingat situasi di Indonesia yang penuh karut-marut di segala bidang, maka presiden harus mampu menyapu bersih segala bentuk korupsi dan penyelewengan dalam jajaran pemerintahan. Dan seluruh rakyat yang waras perlu memberikan dukungan tehadap tindakan radikal ini.
Penulis percaya, apabila seluruh kriteria ini dapat terpenuhi dalam diri seorang presiden, maka Indonesia bisa dipastikan memiliki hari depan yang cerah. Di bawah pimpinan seorang presiden yang cerdas dan bijaksana, Indonesia akan mampu duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan negara-negara maju di dunia dan dicintai rakyat. Bukankah kearifan lama mengatakan: raja alim raja disembah, raja lalim raja disanggah? Semoga kita semua bijaksana dalam menentukan pilihan.

 

***

 

Facebook Comments

About budinovo

2 comments

  1. Romi Febriyanto Saputro

    Pemimpin itu penguasa yang baik

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif