Home » SOSIAL BUDAYA » Motivasi dan Inspirasi » Inspirasi » Hidup dan Kehidupan » Perempuan Kurang Beruntung

Perempuan Kurang Beruntung

pirate

foto: thepiratebay

Duapuluh tahun lamanya tidak bertemu sahabat karib. Dulu selalu berdua dan bersama-sama semasa kuliah. Dulu kekasihnya banyak dan bergonta-ganti. Lalu sekarang menjadi janda, sendiri, membesarkan seorang anak lelaki. Ketika nasib itu menimpa sahabat tersayang tentu membuat saya gamang. Bingung, bagaimana hal ini dapat terjadi pada orang sebaik dirinya? Buat saya ia wanita yang murah hati, selalu setia kepada sahabat dan bahkan rela berkorban bagi teman. Tetapi perihal pilihan lelaki yang ia sukai, kadang bagi saya sungguh tidak bisa dimengerti. Ia banyak bermain dengan perhitungan yang rumit.

Ketika semasa kuliah dulu, ia sudah memiliki kekasih yang sangat dekat. Kemana-mana berdua. Yang lain menjuluki bagaikan ‘mimi lan mituno.’ Lalu mendadak ia berganti pilihan dengan seorang pria yang ditinggal mati istri dengan beberapa anak. Kami yang ketika itu sedang kuliah lagi-lagi melongo. Tidak bisa mengerti, bagaimana mungkin seorang gadis berusia dua puluhan tahun mencintai pria berusia diatas tiga puluh lima tahun? Mungkin jaman sekarang bisa jadi trend. Tetapi dimasa lalu, mengguncangkan dunia persilatan. Kami mencoba menasihatinya dengan berbagai macam cara, memberi wejangan bahkan mengancam si lelaki untuk segera berlalu dari kehidupannya. Pada akhirnya memang kisah itu berlalu. Berlalu dengan meninggalkan luka hati pada karib saya itu. Kasihan.

Saya dengar di kota asalnya, ia sudah menikah dan memiliki seorang anak. Tetapi entah mengapa segala sesuatu kembali berantakan, ia berpisah dengan suaminya. Bahkan sang suami menikah lagi dan memiliki anak yang lain. Lalu sendiri saja ia membesarkan anaknya. Kemudian berjumpa dengan seorang lelaki lagi. Kali ini sang lelaki memerankan peran kekasih yang misterius. Tidak tahu dimana tempat tinggalnya dan siapa keluarganya. Mengaku sudah berpisah dengan istrinya. Lalu sahabat saya ini mendapatkan kebahagiaan sementara dengan kekasih misteriusnya. Sebelum akhirnya hubungan itu kandas kembali. Kali ini kekasih tersebut sungguh-sungguh hilang secara misterius setelah berpisah. Ditelan asap.

Lalu ia mengatakan lagi bahwa sejatinya ia hendak kembali pada sang mantan suami namun apa daya mendadak sang mantan suami jatuh di tengah jalan ketika sedang berkendara. Dalam waktu beberapa jam saja lalu menghembuskan nafas terakhir. Ia menceritakannya kepada saya dengan termangu-mangu. Wajahnya sendu dan penuh kehampaan. Padahal ia adalah orang yang selalu membuat saya tertawa karena kelucuannya. Sekarang yang tergurat diwajahnya adalah keseriusan dan kesedihan. Sendiri saja sebagai seorang janda, ia bekerja keras di sebuah bank. Guna menghidupi anak semata-wayangnya. Kadang-kadang ingin berteriak kepada Tuhan mengapa orang yang baik sering diberi cobaan yang sedemikian? Pahit dan beruntun.

Ada hal – hal yang saya ketahui tentang dirinya, tetapi tentu saya tidak dapat mengendalikan sikap dan pikirannya. Sulit menegur ketika ia menjadi perempuan yang berbeda sikapnya pada lelaki. Dan menjadi salah satu sahabat terbaik yang pernah saya miliki. Sulit memberitahukan padanya tentang bentuk-bentuk relasi, tanggung-jawab, komitmen, tuntutan dan timbal-balik. Karena ia memiliki dalilnya sendiri dalam mencari pasangan hidupnya. Ada banyak hal yang menjadi pertimbangannya, yang justru menjadi hal-hal terakhir yang saya pertimbangkan. Bagaimana menjelaskan pada dirinya bahwa ia mencari lelaki yang tidak ada??

Reuni kembali dalam perjumpaan setelah duapuluh tahun, saya masih sangat menyayanginya. Berharap yang terbaik tentang dirinya. Menemukan dengan cepat dan tepat seseorang yang menjadi dambaan hati. Secara pribadi saya merasa sedih melihatnya sedikit muram dan serius dalam berlaku. Padahal dulu ia orang yang penuh lelucon dan canda tawa. Satu hal yang saya garisbawahi. Ia berhasil mendidik putranya dengan baik. Anak lelaki itu yang tumbuh sendiri tanpa ayah dan kebanyakan ditemani pembantu rumah tangga, justru tumbuh menjadi anak yang sangat berbakti. Sangat melindungi dan melayani ibunya. Sikapnya dewasa dan menjadi kebanggaan sang ibu. Perempuan yang kurang beruntung tentang lelaki itu sesungguhnya sangat beruntung, karena Tuhan menganugrahkan anak lelaki berbudi yang jauh lebih baik dari lelaki-lelaki yang meninggalkannya. (reuni CP, July 2014)

Facebook Comments

About Josephine Winda

4 comments

  1. Romi Febriyanto Saputro

    Kebaikan dari Tuhan itu awalnya pahit akhirnya manis…seperti kalau kita minum obat atau jamu

  2. katedrarajawen

    Apakah yang kita lihat sebagai ketidakberuntungan adalah benar2 tidak beruntung? Bisa saja melalui pengalaman pahit perkawinannya kelak justru akan memberikan keberuntungan hidup?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif