Home » SOSIAL BUDAYA » Motivasi dan Inspirasi » Inspirasi » Hidup dan Kehidupan » Erga, inspirasi muda untukku

Erga, inspirasi muda untukku

Beberapa hari berlalu sejak Idul Fitri dan yang tersisa adalah setumpuk kertas administrasi sekolah, keresahan mengenai buku kurikulum baru yang belum juga didistribusikan, proses mengenal murid baru yang luar biasa, dan kondisi si kecil yang belum juga prima pasca mudik.

Semua itu tentu saja harus berlalu tapi setiap tahunnya selalu memberikan kenangan yang berbeda. Seperti yang sering kutulis di jurnal harianku, tiap hari adalah perjalanan baru dan tiap nafas adalah harapan yang harus terus dipertahankan.

Begitu pula kebersamaan aku dan kelompok pasukanku yang kini sudah naik ke kelas tiga. Aku tak bisa mengikuti perjalanan mereka karena wali kelas telah tergantikan dengan yang baru dan akupun akan memiliki pasukan baru yang harus kudidik dengan caraku sendiri.

Pasukan…hmhh, bagi guru lain, itu adalah istilah aneh yang aku berikan untuk murid-murid kesayanganku. Tapi untukku…aku lebih aneh ketika mendengar mereka menyapa muridku dengan sebutan bandel, nakal, liar dan beberapa ungkapan lain yang menurutku membuat mereka semakin erat dengan label yang diberikan.

Demikian juga Erga, salah satu dari 36 pasukanku yang menurut guru lain adalah pembuat onar. Dia sempat tinggal kelas sekali di sekolahku dan sebelumnya pernah juga mendapat julukan anak liar di sekolah lain sebelum dia pindah di tempatku mengajar.

Usianya 9 tahun lebih, usia yang jauh lebih besar untuk ukuran anak kelas dua. Bila dihitung secara umum, anak kelas dua seharusnya baru berumur 8 tahun atau rata-rata di tempatku 7 tahun lebih.

Tapi ku rasa, berapapun usianya seberapa tinggi pun derajat kenakalannya, selama masih ada sedikit celah untuk pendidikan di dalamnya maka seorang anak tak pantas disebut “liar”. Dan bila saja para guru itu merasakan apa yang mungkin dirasakannya, maka mungkin tak kan ada pandangan miring untuknya.

Aku justru banyak belajar dari anak nakal itu. Betapa tidak, diusianya yang sekecil itu dia tak punya ibu untuk membimbingnya bertutur kata yang halus juga seorang ayah yang membantunya menemukan karakter seorang anak. Sungguh semuanya ia berusaha menemukannya sendiri.

Tahun lalu ketika menjadi wali kelasnya, aku selalu bertanya-tanya darimana asal sikap¬† brutal dan anarkisnya, darimana dia dapatkan ungkapan kasar dan pola pikir yang penuh kedengkian itu. Dan kudapatkan jawabannya…

Ibunya yang masih muda menikah lagi dan tinggal di Demak bersama suaminya,

Ayahnya pun meninggalkannya untuk menikah lagi dengan seorang wanita setelah itu pindah ke daerah Tlogosari,

dan Erga kecil dari lahir sudah diasuh oleh nenek yang saat ini sedang menderita stroke.

Begitulah dia harus menjalani kehidupan mengandalkan belas kasih tetangga dan saudaranya yang tentu saja juga mempunya kehidupan sendiri. Itu membuat aku memaklumi jika dia berangkat dengan seragam tak rapi, rambut yang tak tertata, muka yang hitam karena tak terawat, buku pelajaran yang tak tersampul rapi, PR yang tak pernah dikerjakan, dan segudang alasan lain yang membuat dia beda dari murid lainnya.

Di mataku dia hanya seorang anak yang sedang mencari naungan dan perlindungan. Aku sering mencuri pandang melihat dia menangis saat berdoa tapi ketika kutanya jawabnya hanya satu, “aku tidak menangis, ini pensilku jatuh”…

dia hampir tak pernah mengeluh, tak pernah menangis ketika diberi sanksi karena melanggar aturan di kelas, hanya sesekali aku tahu dia berusaha mencari perhatianku dengan caranya sendiri.

Suatu hari, aku dan Erga berbagi cerita, aku lupa bagaimana awalnya tapi masih kuingat ceritanya saat dia harus mencuci bajunya sendiri, tak bisa sarapan di pagi hari, tak ada yang membimbingnya belajar di rumah.

Begitu luar biasa anak sekecil itu bisa menjalani kehidupan sedemikian beratnya hingga kadang terselip rasa malu pada diri sendiri, aku banyak mengeluh atas sesuatu yang kecil, aku banyak mengeluh atas kelelahan yang jauh lebih ringan dari yang dirasakan Erga, aku mengeluh atas kealpaan seorang ayah dalam kehidupan sementara Erga tak punya sosok ayah ataupun ibu yang mendampinginya.

Erga, si anak nakal itu adalah inspirasi kecilku. Dan aku yakin masih banyak Erga kecil lainnya yang memerlukan kita, bukan harta, bukan materi yang mereka butuhkan tapi bekal untuk mereka agar memiliki kehidupan yang lebih baik. Amin

 

 

Facebook Comments

About Novira Mayasari

One comment

  1. Ternyata anak yang nakal pun bisa menjadi inspirasi bagi orang lain :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif