Home » SOSIAL BUDAYA » Motivasi dan Inspirasi » Inspirasi » Dermawan » Pertolongan Berbasis Kemanusiaan

Pertolongan Berbasis Kemanusiaan

help

kimiasastra.wordpress.com

Kisah ini berdasarkan pengalaman seorang peregrinator atau pengembara. Dalam rangka mengenal lebih jauh akan jati diri dan memahami rencana Tuhan, seorang pemuda melakukan sebuah perjalanan atau pengembaraan. Mungkin sebagian orang menganggap kisah pengembaraan hanya ada di dalam dongeng atau cerita film. Apalagi di zaman semodern ini masih adakah orang yang mau berjalan ratusan kilometer ? Jawabannya ternyata ada tertuang dalam kisah nyata berikut ini.

Hal terpenting pengalaman peregrinasi  ini adalah bukan kisah perjalanannya yang seru semata-mata. Namun, ternyata dalam perjalanan ini pengembara tadi menemukan nilai-nilai kehidupan. Nilai yang sungguh mulia tetapi kian hari kian tergeser oleh modernitas. Tak jarang kita sebagai warga dunia sering memandang rendah seseorang karena beberapa factor.

Kisah ini dialami oleh seorang pemuda pada awal tahun 2004. Ia yang harus melakukan perjalanan antara Girisonta, Jawa Tengah menuju Kuningan, Jawa Barat dan kembali lagi ke Jawa Tengah. Perjalan mereka harus selesai dalam waktu Sepuluh hari. Dalam perjalanan ini, seorang pengembara tentu tidak diperbolehkan membawa bekal apa pun kecuali baju yang menempel pada tubuhnya.

Tentu pertanyaannya, bagaimana pengembara tadi harus memenuhi kebutuhan hidupnya. Seperti halnya dalam dongeng, seorang pengembara memenuhi kebutuhan hidupnya mengandalkan campur tangan Tuhan dengan kata lain mengandalkan belas kasihan orang. Tentu ini bukan pekerjaan yang mudah, tak jarang mereka juga menerima penolakan ketika ingin meminta tumpangan untuk tidur serta minta makan atau minum.

Setelah mereka menempuh perjalanan kaki selama delapan hari tentu kondisi mereka semakin menurun. Belum lagi kaki yang sudah terluka dan lecet karena hanya mengenakan sandal jepit. Siang itu perjalanan telah mencapai tengah hari dan harus mencari tumpangan makan dan minum. Ia segera memasuki halaman sebuah rumah yang letaknya agak di bawah jalan. Seorang lelaki dewasa berusia sekitar 30 tahun sedang duduk termenung menunggu dua anak kecil yang bermain di sampingnya.

Salam pun keluar dari mulut pemuda itu. Saat itu pula seorang perempuan muda istri lelaki tadi, keluar dari dalam rumah. Dengan sedikit berbasa-basi pemuda tadi memperkenalkan diri kemudian menyampaikan maksudnya untuk boleh menumpang makan siang dan minum. Akan tetapi jawaban yang diterima, lelaki dewasa tadi menceritakan dirinya yang baru saja terkena PHK. Tentu bukan sepiring nasi dan segelas teh manis yang diterimanya, tetapi  sebuah petuah. Lelaki tersebut mengingatkan, agar sebagai seorang pemuda sebaiknya ia bekerja tidak hanya meminta-minta. Harapan bisa makan siang pun pupus sudah. Maka, pemuda itu segera mohon diri dan berpikir di mana kiranya ia bisa mendapatkan makan siang.

Setelah jarak sekitar 50 meter dari rumah tadi, pemuda itu dipanggil balik oleh seorang ibu yang berusia setengah baya. Rupanya ibu ini telah mendapat laporan dari saudaranya laki-laki tentang maksud kedatangan pemuda itu untuk minta makan siang. Setelah marah dengan sepasang suami istri tadi, ibu itu meminta pemuda menunggu sebentar. Tak lama kemudia ibu itu sudah datang dengan membawa berbagai makanan dan lauk pauk.   Segera suami istri tadi pun harus menyiapkan piring dan mereka akan makan bersama.

Rasa lapar dan lelah tentu membuat pemuda tadi ingin segera melahap makanan yang terhidang di hadapannya. Namun saat ia hendak makan, disaksikannya dua anak kecil yang tadi bermain menghentikan mainannya dan memandangnya dengan memelas minta makan. Pemuda itu ingin makan sekenyang mungkin, tetapi menyaksikan pemandangan itu rasa lapar pun jadi hilang. Ketika itu juga ibu yang menyediakan hidangan itu bercerita tentang masa lalunya.

Dalam sharingnya, ibu itu sangat marah kepada saudara lelakinya tadi karena tidak mau memberikan makan. Ibu ini juga berkisah tentang masa lalunya yang pahit. Ia dahulu bekerja sebagai PSK dan agar ia selalu laris maka ia harus memiliki jimat. Dalam rangka memiliki jimat ini ia juga harus nglakoni  salah satunya juga harus berjalan kaki yang sangat jauh. Salah satu tempat yang ditujunya adalah Gunung Kemukus. Perjalanan itu pula yang akhirnya menumbuhkan rasa empati yang tinggi ketika ia menyaksikan pemuda pengembara. Ibu tadi menjadi lebih peka menyaksikan kemiskinan dan hatinya mudah tergerak. Ibu itu kini telah bertobat dan tak lagi menjalani profesi lalunya. Ia telah mengalami pertobatan dan ingin bekerja yang lebih baik. Itulah sebabnya sekarang bekerja pada sebuah rumah makan. Nah, makanan yang tadi dihidangkan pun dibeli dari tempatnya bekerja.

Pengalaman pertolongan dari mantan PSK  ternyata telah menyadarkan pemuda tadi dan selayaknya kita semua.  Sering kali kita memandang rendah dan sulit melihat sebuah pertobatan. Sering kita menjadi munafik merasa diri bersih, tetapi hati selalu tertutup untuk berbuat kebaikan. Dalam kenyataan seseorang yang sering dipandang rendah karena masa lalunya ternyata memiliki hati yang jauh lebih berempati. Orang yang sering dipandang remeh ini ternyata mau menolong tanpa harus banyak bertanya tentang identitas orang yang mau ditolongnya. Dengan kata lain memberikan pertolongan ternyata karena ketulusan hati, bukan karena agama, profesi,  atau bahkan pendidikan yang tinggi pemberi.

Jadi, dari sini kita bisa belajar janganlah kita memandang rendah derajat seseorang. Kita yang mengaku beragama dan berpendidikan tinggi tak jarang hati kita masih buta.  Namun, yang terpenting ketika hendak menolong harus berbasis pada kemanusiaan, dan berikanlah pertolongan pada orang yang memang layak mendapat pertolongan tanpa perlu mencari identitas apakah dia seiman atau tidak dengan kita.

Salam ketikers-AST

Facebook Comments

About Anita Godjali

2 comments

  1. pelajaran bagus nih…karena di jaman sekarang ini semua berbau uud (ujung-ujungnya duit)…rasa kemanusiaan semakin sulit kita dapatkan…https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif

  2. Anita Godjali

    Kemanusiaan itu bagai harta karun, sekali ditemukan luar biasa sayangnya sulit menemukan lokasinya hehehe…malam mbak Ayu

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif