Home » SOSIAL BUDAYA » Motivasi dan Inspirasi » Inspirasi » Kemanusiaan » Sepenggal Cerita: Pengantar Refleksi Bersama

Sepenggal Cerita: Pengantar Refleksi Bersama

Sama-sama by Yayak KencritSaya ingin meluapkan, mungkin boleh dikata, kekesalan terhadap situasi perkotaan, di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara, tepatnya sehari-hari saya beraktifitas. Pagi ini, saya melintas di Taman Jogging, Jl. Boulevard Raya, persis berada seberang dengan Mall Kelapa Gading. Di mana, rupa-rupa aktivitas manusia berlangsung di sana. Pastinya, setiap Munggu pagi adalah ritual untuk olahraga warga Kelapa Gading dan sekitarnya. Ratusan orang beramai-ramai, suka-ria menikmati hari libur dan berebut mendapat segaranya udara kota, tanpa polusi udara. Memang, setiap pukul 06.00-09.00, jalan setempat ditutup sementara untuk memanjakan para warga di sana. 

Di satu sudut saya melihat, bocah lelaki, mungkin berusia 13, dan bocah perempuan tak lebih berumur 5 tahun. Mereka terlihat bahagia. Berlari berkejaran kesana-kemari, dan sesaat waktu berhenti sejenak untuk memungut sesuatu. Kedua bocah itu beda penampilan dengan anak-anak di sekitarnya. Si anak lelaki, terlihat sibuk memanggul kantong besar di punggungnya. Baju dan celananya lusuh (dengan segala hormat saya biasa menyebut kondisi pakaian itu kain lap). Dia tak beralas kaki. Si kecil, anak perempuan, itu menggenakan celana pendek, kumal. Rambutnya setengah pirang (saya yakin itu bukan akibat pewarna rambut). Dia menggenakan kaos olahraga (ada tulisan Sekolah Dasar di saku depanya). Warnanya (kaos itu) krem (kalau dugaanku benar, awalnya kaos itu berwarna putih).

Saya berusaha mendekati mereka. Waktu itu, mereka sedang berlari menghampiri sekantong plastik yang teronggok di sudut sebuah ruko. Sekilas saya melihat, sesaat sebelum mereka berlari, si perempuan, terlihat bersinar wajahnya, memberikan kode tertentu pada anak lelaki, dan menunjuk ke arah onggokan plastik itu. Beberapa saat kemudian mereka melesat. Mereka sangat lincah dan bersemangat. Ketika saya berhasil mendekat, hanya sepotong percakapan yang bisa saya tangkap dengan jelas. ‘… [K]ita dapat banyak, bolehkah ntar gue beli ice cream?’ bisik anak perempuan itu ke anak lelaki, dengan mata berbinar. Lalu, anak lelaki itu membalasnya dengan anggukan dan segera mereka mencari sasaran lain.

Potongan pertanyaan anak perempuan itu terus saja berdengung di kepala saya. Sampai akhirnya, pertanyaan-pertanyaan lain bermunculan, memecah keceriaan pagi itu. Inikah harga yang harus dibayar, bagi seorang anak, kurang lima tahun, hanya untuk menikmati ice cream? mengapa yang dipilihnya ice cream? apa yang membuat dia tertarik untuk membeli ice cream? siapa yang memberi tahu? di mana orangtuanya? jika yang dimau anak susia dia adalah ice cream, mengapa bantuan Jokowi-Ahok hanya untuk sekolahnya saja? atau, jika ice cream itu tidak baik untuk kesehatan anak, mengapa promosi ice cream dilegalkan? apakah tak ada seorangpun di sekitarnya yang mau membelikanya ice cream? apakah mitos relasi sosial di Jakarta ‘elu-elu, gua-gua’ itu benar adanya? dan satu hal yang menjadi misteri bagi saya, dalam kondisi seperti itu, mengapa mereka masih terlihat bahagia, energic, licah dan seolah-olah keadaan mereka itu lumrah?

Saya jadi teringat dengan sebuah opini dari seorang berkebangsaan Amerika, Andre Vltchek, yang saya baca beberapa bulan lalu.  Orang ini, menceritakan dengan teliti, seolah lebih paham situasi sosial Indonesia, dibanding orang indonesia kebanyakan, termasuk saya diantaranya. Dengan fasih, dia ceritakan, betapa rakyat Indonesia sekarang ini terjebak pada sebuah pratanda yang unik. Pratanda di mana seseorang cukup nyaman ketika hidup dengan pendapatan kurang dari 10 ribu per hari. Hidup di kolong. Mandi dan buang air di parit yang sama. Sementara, di samping mereka, tuan dan nyonya berada di dalam mobil indah, yang sejuk, sembari menunggu giliran berlenggang, di jalanan licin kota-kota. Sementara anak-anak miskin pedesaan dan perkotaan, berjuang menutup biaya sekolah, namun anak orang berpunya, menikmati bangku sekolah mewah, dengan guru professional dan mainan-mainan mutahir. Dalam labirin yang lain, rakyat miskin mengais obat-obat generic dan memohon pelayanan kesehatan, namun, si kaya baring di kamar rumah sakit VVIP di Malaysia atau Singapura.

Situasi sosial seperti ini, menurut saya, tidak jauh beda dengan kehancuran moral di Jepang, paska pengeboman brutal yang dilakukan Amerika, tahun 1945 lalu. Gambaran buruknya moral di sana, digambarkan sangat apik oleh Isao Takahata, seorang animator, kedalam film karton berjudul ‘Grave of the Fireflies’, 1988. Cerita film ini berdasar pada novel semi-autobiografi karya Akiyuki Nosaka, dengan judul sama, 1967. Kisahnya, film ini bercerita pola bertahan hidup dua orang anak, kakak-beradik, setelah keluarganya menjadi korban perang dan pengeboman. Ibunya mati terkena ledakan dahsyat di Kobe, 16-17 Maret 1945. Sedang ayahnya, seorang perwira angkatan laut, pergi ke medan perang dan tak keruan kabar beritanya. Belakangan, diketahui ikut tenggelam bersama kapal perang yang ditungganginya.

Amukan badai bom itu meluluh lantakan kota Kobe. Hampir semua gedung rata dengan tanah, tak terkecuali rumah mereka. Di sela-sela amukan tentara Amerika itu, Seita, remaja 14 tahun itu menimbun sebagian kekayaan keluarganya. Lalu, mereka mengambilnya saat pengeboman reda. Sebelum meninggal, ibunya memberi amanah untuk menjaga adik perempuanya, Setsuko, 5 tahun. Mereka berdua selamat dari liarnya jilatan api dan ledakan. Mereka ke tempat pengungsian. Di situ Seita mendapat kabar bahwa ibunya luka parah. Lalu meninggal setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit darurat. Kemudian mereka menggelandang. Hanya ada satu saudara yang dikenal, bibinya. Mereka kesana untuk menumpang. Sayangya, orang itu tidak seperti yang mereka harapkan. Bibinya menerima mereka saat keduanya membawa sedikit kekayan keluarga yang tersisa. Setelah habis, secara halus, kedua anak tersebut ditendang. Dengan sedikit uang yang ada, mereka berusaha makan seadanya. Hidup di dalam lubang pengungsian. Yang tak lama, mereka kehabisan logistik untuk dikonsumsi. Perlahan, tubuh kecil Setsuko semakin kering dan kurang gizi. Seita berusaha sekuat tenaga untuk mencari makin bagi mereka, termasuk mencuri dan rela untuk digebuki. Tak seorangpun yang berbaik hati. Kelaparan yang parah, akhirnya, menyebabkan Setsuko mati. Tak lama kemudian, Seita pun menyusul, mati. Tak ada yang peduli dengan kematian mereka.

Mungkin, cerita-cerita serupa ini pernah terjadi di Indonesia, khususnya di Jakarta, terlebih paska kemerdekaan. Lambat laun, mungkin sekarang ini, konsensus masyarakat telah memutuskan bahwa Jakarta telah berubah. Lihat saja, Jakarta yang awalnya belantara, sawah dan rawa-rawa, telah menjelma menjadi pohon-pohon beton dan rumput-ruput porselin dan aspal. Boleh jadi, satu sama lain berfikir bahwa semua orang itu mampu dan kaya, sehingga tak perlu untuk memikir tetangga. Atau sebaliknya, semua orang itu miskin dan tak ada waktu untuk memikirkan sesama. Sungguhpun ini terjadi, ini merupakan awal dari suatu bencana.

Beberapa pertanyaan yang muncul akibat situasi ini adalah; situasi ini masalah siapa? siapa yang salah? siapa yang harus menyelesaikanya, pemerintah, masyarakat, aristokrat, pengusaha atau siapa? dan bagaimana cara menyelesiakanya?

benn :)

Catatan: Ilustrasi Yayak Yatmaka

 

Facebook Comments

About benn

5 comments

  1. Wow tulisan yang luar biasa. patut menjadi bahan renungan akhir tahun. Memang situasi saat ini sudah berubah dari bayang-bayang ideal kita. Kontras yang semakin tinggi. Namun keinginan (yang dipaksa kemudian menjadi kebutuhan)dapat berlaku sama bagi semua. Tragis…!

    Indonesia ke depan, di tengah pergulatan pertarungan antar bangsa bagi kehidupan masa depan, tentunya harus mendorong kita berpikir keras untuk menentukan sikap….. mengembangkan visi dan strategi dan implementasi yang sungguh-sungguh…

  2. Iya mas Odi Shalahuddin, memang betul sekali. Provokasi informasi sepihak, kalangan pihak penjual produk, sangat luar biasa, dan cukup efektif seperti mas Odi bilang ‘keinginan (yang dipaksa kemudian menjadi kebutuhan) dapat berlaku sama bagi semua’. Memang sudah begitu faktanya.

    Ada yang siap, begitu juga, ada yang sebaliknya. Menurutku, keduanya sama berubah menjadi satu pola, ‘anti-sosial’.

    Kayaknya memang semakin tambah rumit ya mas Odi hehehe :)

  3. Hehe sangat mungkin mas Odi, dan ironisnya, pendidikan individualis itu tidak hanya terjadi pada di likngkungan sekolah atau keluarga anak-anak, bahkan, dugaanku di semua sudut-sudut panca indera mereka. Jika begini, bisa jadi, aku juga bisa menjadi bagian pendidik itu kali ya mas hehehe :)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif