Home » SOSIAL BUDAYA » Motivasi dan Inspirasi » Inspirasi » Kisah Nyata » Airmata Penyesalan Ibuku

Airmata Penyesalan Ibuku

mom and me

ibuku dan aku

Entah mengapa selama beberapa tahun belakangan ini ibuku sering minta maaf setiap kami bertemu. Teringat pertama kali saat ayah tiriku baru saja meninggal. Beliau memanggilku kedalam kamar, memelukku lalu berkata

” Maafkan mama ya sayang?”

Tadinya aku ingin bertanya mengapa ibu minta maaf, padahal selama ini akulah yang sering minta maaf pada beliau. Sudahlah aku pikir itu hanya minta maaf biasa antara ibu dan anak. Walau dalam hati terbersit kisah masa lalu yang mungkin menghantui perasaan ibuku.

Pada tahun 2007 aku mulai bekerja di sebuah kantor penerbangan UAE. Inilah puncak karier terbaikku. Aku merasa tanpa doa dari ibu, tak mungkin bisa seperti ini.

Tahun 2008 , malam itu jam 9 malam aku datang pada ibu mohon doa restu sambil berpamitan karena aku harus kembali ke UAE. , setelah cuti sebulan lamanya. Malam itulah aku memberanikan diri bertanya pada ibu mengapa beliau minta maaf, padahal aku merasa ibu tak punya salah. Sebaliknya akulah yang mungkin banyak kesalahan.

Ibu duduk di sofa, aku memilih duduk dilantai agar bisa meletakkan kepalaku diatas pahanya. Sesekali ibu mengelus rambutku, pipiku sambil memandangku penuh kasih. Malam itu Ibu mengungkapkan semua perasaannya sambil menangis tersedu sedu.

” Waktu cepat berlalu ya sayang? Kamu tumbuh menjadi perempuan mandiri yang welas asih seperti oma kamu. Padahal mama meninggalkan kamu saat usiamu 2 th. Kamu anak yang mama sia siakan , tapi kamu begitu sayang pada mama. Ini yang membuat mama merasa bersalah dan sejarah lama itu sering terbayang. “

Mulailah mama mengulang kisah yang sudah beberapa kali kudengar. Tentang pernikahan dengan ayahku tanpa cinta, karena dijodohkan ortu. Setelah aku lahir mereka lebih banyak bertengkar dan akulah yang menjadi sasaran. Jika ibuku marah ia tak segan melemparku ke tempat tidur.

Puncaknya saat ibu ingin membuangku ke laut Ancol, usiaku baru beberapa bulan . Beliau berjalan kepinggir pantai sambil menggendongku, niatnya sudah bulat aku akan dibungkus ketat, dibawa ketengah laut lalu dilempar.

Tiba tiba ada seorang nelayan lewat membawa jala ikan, ia mendekati ibu dan bertanya mengapa membawa bayi di laut sepi. Ibu menjawab datar, saya ingin membuang bayi ini. Pak nelayan sangat terkejut lalu berkata dengan tegas.

“ Serahkan saja bayi ibu pada saya. Biar saya miskin saya mampu merawatnya. Mengapa ibu ingin membuang bayi ini? Ia tidak berdosa bu!”

Saat itu juga ibuku sadar dan menangis lalu memelukku dengan erat. Mungkin tekanan kehidupan membuat ibuku stress. Pak nelayan mengantar ibu sampai naik angkutan umum kembali ke daerah Kota.

Saat usiaku dua tahun, ayah dan ibuku bercerai dengan alasan tak ada cinta diantara mereka. Lalu aku dirawat oma dengan penuh kasih sayang. Oma adalah segalanya bagiku, tanpa beliau entah aku jadi perempuan macam apa. Contoh cinta kasih beliau yang selalu kubawa hingga akhir nanti.

Ibu dan ayahku menikah dengan orang lain tapi tak ingin membawaku. Mereka menghilang dari kehidupanku. Aku bertemu ibu saat usiaku 7 tahun dan aku memanggilnya kakak. Saat usiaku 14 tahun, aku ingin melihat wajah ayahku agar hilang rasa penasaranku.

Setiap malam aku berdoa, kupandang photo pernikahan mereka yang kutaruh dibawah bantal. Aku mohon pada ibu agar menunjukan dimana saudara saudara ayahku. Setahun mencarinya, akhirnya aku bertemu juga dengan ayahku. Tak ada pelukan tak ada tangisan, hatiku dingin membeku. Apalagi setelah melihat ibu tiriku tampak tak senang. Sesekali aku mengunjunginya tapi hanya sebagai tanda hormatku padanya. Ayahku sudah bahagia dengan keluarga barunya, aku tak ingin mengganggu mereka.

Saat ayahku meninggal, tak setetespun airmata jatuh dipipiku. Anehnya hingga saat ini aku suka iri melihat seorang ayah memeluk anak gadisnya. Mungkin tanpa kusadari jiwaku terluka. Ruang dipojok hati yang mestinya terisi oleh kasih sayang ayah , kosong melompong.

Kupeluk ibu sambil menangis, aku tak ingin beliau terus merasa bersalah. Aku mengerti mengapa ibu bersikap seperti itu padaku. Jauh didalam hati seorang ibu pastilah ia sayang pada anaknya. Apalagi ibuku menjadi yatim sejak usia 5 tahun dan melihat bagaimana nenek membesarkan ibu dan adik lelakinya. Mungkin karena situasi dan kondisi membuat seorang ibu berubah. Buktinya ibu merawat penuh kasih anak anak yang didapat dari pernikahan dengan ayah tiriku. Ibu sangat mencintai ayah tiriku , mereka menikah selama 45 tahun.

“ Sudahlah mama, jangan terus diulang kisah masa lalu, semua tak akan kembali. Aku tak pernah marah pada mama. Mama di mataku adalah ibu yang hebat. Tak akan mampu aku membalas semua kasih sayang mama. Selama dalam kandungan, mama biarkan aku tumbuh dalam rahimmu, padahal saat itu mama bisa saja menggugurkanku. Mama melahirkanku dengan rasa sakit tak terkira, mama susui aku hingga 2 tahun. Semua tak mampu kubayar dengan apapun. ” Ibuku makin tersedu….

Malam itu kuungkapkan semua. Kutak ingin ibu terus dikejar rasa bersalah. Kuingin ibu tahu

“ Mama tak merawat dan membesarkanku, itu bukan maunya mama, tapi kondisi dan situasi yang membuat mama meninggalkanku. Beruntung ada oma yang selalu menanamkan nilai kasih sayang, moral yang baik dan kepedulian. Andai aku dirawat mama, belum tentu aku tumbuh menjadi wanita seperti sekarang ini. Jalan hidup kita ada yang mengatur , kita manusia hanya mampu berdoa dan usaha. Aku bangga sama mama, aku sayang mama. Terima kasih mamaku sayang…Doa mama adalah segalanya bagiku“

Kami berdua bertangisan, lega rasanya hati ini…

“ Kamu anak baik, walau mama tak pernah membesarkanmu, dimana saja kamu berada kasih sayangmu selalu terasa. Kamu begitu perhatian pada mama. “ ujar mamaku lagi.

Sejak percakapan malam itu , ibuku mulai mengerti. Doa dan pelukan ibuku mengiringi langkahku kembali ke UAE.

Setelah tinggal di Australia, aku pulkam setiap 6 bulan bersama suami tercinta. Aku sedikit sedih setiap pamitan hendak kembali ke Australia ibuku selalu berkata

“ Mungkin ini pertemuan terakhir kita.”

Langsung kujawab dengan senyuman….

“ Kita berdoa saja ya ma…semoga kita panjang usia dan sehat. Insya Allah masih ada tahun tahun mendatang. Mama masih muda koq, baru juga 76 tahun. “ Beliau tersenyum manis sekali.

Memiliki ibu seperti beliau adalah berkah tak ternilai dari Allah SWT. Seminggu dua atau 3 kali aku selalu menelpon ibu karena setiap kata yang terucap dari bibirnya sangat sarat makna. Aku ingin membahagiakannya lahir dan batin. Tak akan kubiarkan ibu kekurangan apapun, tak akan kubiarkan airmata kesedihan menghiasi wajahnya.

Pasti banyak diantara kita yang tidak merasakan kasih sayang ibu. Jangan marah pada ibu, tunjukan kasih sayang kita sebagai anak. Dendam hanya akan merusak jiwa.

Allah SWT saja memuliakan kedudukan seorang ibu, apalagi kita yang hanya manusia. Makanya ridho Allah tergantung ridho ortu, surga ada di telapak kaki ibu dan siapa yang wajib kita muliakan? ibu disebut tiga kali baru ayah. Subhanallah…

Beruntunglah mereka termasuk aku yang masih memiliki ibu. Jagalah selalu ibu kita, bukan hanya tubuhnya , juga perasaan dan jiwanya..Jangan biarkan ibu meneteskan airmata duka karena ulah kita anak anaknya. Mari muliakan ibu.

اَللَّهُمَّ اغْفِرَلِيْ وَلِوَالِدَىَّ وَٰرْحَمْهُمَا كَمَارَبَّيَانِيْ صَغِيْرًا

“Allahummaghfir lii wa liwaalidayya warhamhuma kamaa rabbayanii shaghiraa”

Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orangtuaku, dan sayangilah keduanya sebagaimana keduanya menyayangi aku di waktu kecil.Amin

Facebook Comments

About fey down

3 comments

  1. BUnda…tulisan yang menyentuh… :mewek

  2. jadi mau nangis https://ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif