Home » SOSIAL BUDAYA » Motivasi dan Inspirasi » Inspirasi » Kisah Nyata » Bocah Penderita Thalasemia Batal Transfusi Darah Karena Kartu BPJS Belum Selesai.

Bocah Penderita Thalasemia Batal Transfusi Darah Karena Kartu BPJS Belum Selesai.

Masih ingatkah kisah Varrelleo Dyvlo Pratama, anak lelaki pasangan Harry dan Maudi asal Bandung yang menderita Thalasemia Mayor? Kisah selengkapnya pernah saya tulis pada tahun 2012 DISINI

Sejak usia 6 bulan Varrel harus transfusi darah setiap Minggu. Hari ini ibunda Varrel mencurahkan perasaannya yang sedang bingung. Saat membawa Varell ke rumah sakit Hasan Sadikin untuk transfusi ternyata namanya tak ada dalam database BPJS. Padahal ia sudah memberikan persyaratan dan membayar premi sejak lima minggu lalu melalui pendaftaran kolektif yang ditawarkan oleh salah satu yayasan.

Inilah Curahan Hati Ibunda Varrel :

Sabtu dan Minggu kantor BPJS tutup dan Senin baru buka. Kartu baru selesai Selasa atau Rabu, berarti Varrel baru bisa transfusi darah hari Kamis.

Astagfirullahaladzim,,,kuatkah anakku menanti hari Kamis dengan kondisi yang sudah sangat drop??? Artinya Senin ini wajib ditransfusi tapi tak bisa gratis seperti biasanya karena kartu BPJS belum selesai. Kami harus memiliki uang 600 ribuan.

Saat transfusi 21 Juni 13

Saat transfusi 21 Juni 13

Dari mana kami mendapatkan uang sebanyak itu? Ayah anakku baru saja mendapat pekerjaan sebagai kurir dan belum juga gajian. Ya Allah Tuhanku Yang Maha Penyayang,,,,berilah jalan keluar dari masalah ini,,,kuatkan Alel

Pagi ini akhirnya aku memberanikan diri untuk mengantar Varrel tranfusi darah walau seorang diri.

“Demi anakku,apapun akan kulakukan,Tuhan pasti akan menolongku” tekadku dalam hati.

Sampai di RS Hasan Sadikin dengan kondisi Varrel yang teramat pucat dengan HB 6,6. Kutuntun anakku , sedih rasanya karena membiarkan dirinya berjalan kaki,naik turun tangga hingga beberapa kali. Ketidak mampuanku karena keadaan perutku yang sudah sangat membesar. Sesekali Varrel minta istirahat sebelum melanjutkan perjalanan.

Kartu BPJS memang belum jadi tapi kata seseorang bisa menggunakan kartu lama. Senang hati ini mendengarnya, tapi ternyata prosesnya tidak semudah program sebelumnya. Sekarang tidak bisa minta tolong kepada petugas. Dulu pasien thalasemia lebih didahulukan dibanding pasien lain. Kini prosedurnya berubah dan hari ini aku harus menunggu antrian 200 orang pasien dibagian pendaftaran saja.

Akhirnya nomorku ( 406) dipanggil. Dengan sedikit berlari ku menghampiri. Menunggu 10 menit tiba tiba saja petugas berkata :

“Ibu maaf? Nama Varrelleo belum terdata di database BPJS.”
“Lho kok bisa mbak? Saya kan sudah daftar,sudah memberi persyaratan dan sudah bayar premi!”
” Oh kurang tahu ya bu, tanya saja sama orang yang mendaftarkan ibu dimana.”

Ya Allah, lemes rasanya mendengar kabar ini. Apalagi mendengar ucapan anakku,

“ Udah daftarnya bu, sekarang Alel bisa transfusi ya ?”

Dalam keadaan Alel yang semakin lemah, kutuntun kembali anakku menuju lantai 2.

“Ibu Alel ngga kuat, capeek..”

“ Gimana atuh sayang, ibu ngga bisa gendong aa lagi. Yuk kita duduk dulu.”

Jujur saja rasanya aku benar-benar emosi,kesal,sedih campur aduk menjadi satu. Dengan nada ketus kutanyakan kepada salah satu pengurus Yayasan Thalasemia.

“The, koq aneh ya nama Varrel ngga terdata? saya kan udah daftar,sudah kasih persyaratan,sudah bayar premi!”

“Masa sih? coba deh ibu cek ke loket BPJS dibawah” jawab sipetugas.

Jam 1 siang kuhampiri loket khusus pengaduan mengenai BPJS dan setelah dicek benar saja nama Varrelleo belum terdata di database BPJS. Padahal saya sudah memberikan semua persyaratan dan premi sejak 5 minggu lalu.

Ya Allah bagaimana ini urusannya, .mengapa mereka seperti itu? Mereka yang menawarkan daftar kolektif, mereka yang menyanggupi kenapa anak saya tak terdaftar di BPJS? Kalau tahu akan begini, lebih baik saya daftar sendiri, cuma butuh waktu dua hari saja pasti sudah selesai.

Sungguh saya menyesal menyetujui tawaran mereka secara kolektif. Ketika saya protes pada pihak terkait mereka malah tidak merespon sama sekali.

Akhirnya kutuntun anakku pulang dengan penuh kekecewaan. Alel pun protes kenapa dirinya yang sudah lemah tidak jadi ditranfusi.

Catatan Fey Down :

Atas izin ibunda Varrel saya share kisah ini. Nomor telpon bunda Varrel ada pada saya. Iapun siap ditemui di RS Hasan Sadikin jika sudah punya biaya transfusi darah untuk anaknya. Alhamdulilah bantuan untuk Varrel sudah ada.

Facebook Comments

About fey down

Leave a Reply

Your email address will not be published.

https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_bye.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_good.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_negative.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_scratch.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wacko.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yahoo.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cool.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_heart.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_rose.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_smile.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_whistle3.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_yes.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_cry.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_mail.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_sad.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_unsure.gif 
https://www.ketikketik.com/wp-content/plugins/wp-monalisa/icons/wpml_wink.gif